Pesona Indonesia : Sampurasun, Ikon Wisata Kota Bogor

Kembali kepada jiwa Proklamasi …. kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional … kedua jiwa ichlas…ketiga jiwa persatuan… keempat jiwa pembangunan.
[Bung Karno dalam Pidato Peringatan Proklamasi 17 Agustus 1952]
 

Bogor adalah wilayah administratif sejarak 1 jam perjalanan darat dari pusat kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Struktural berada dalam lingkup Provinsi Jawa Barat.

Di Bogor ini terdapat 2 (dua) istana Presiden Republik Indonesia. Yaitu Istana Kebun Raya yang ada di pusat kota, sementara Istana Cipanas berada di wilayah Puncak.

Karena dekat dari Jakarta, maka Istana Bogor kerap kali digunakan secara aktif oleh para Presiden Indonesia dalam tugas-tugas kenegaraannya.

Bogor adalah wilayah pertama di Indonesia yang memiliki jaringan jalan tol dan kereta rel listrik (KRL) menuju ke Jakarta. Bisa disebut Bogor adalah pionir dalam kedua jenis infrastruktur transportasi modern ini.

Tempat wisata dan sentra perdagangan tumbuh pesat, termasuk pemukiman dalam mendukung perannya sebagai kota yang terus berkembang sesuai zaman.

Adanya sumber daya manusia terampil dan pekerja keras, kampus IPB, lembaga penelitian dan institusi pendidikan berkelas nasional lainya, berkontribusi mempertahankan Bogor sebagai kota tua di Asia yang tetap eksis.

Bogor sebagai kota-kota Jabodetabek melanjutkan tradisi Gemuh Pakuan, Gemah-Ripah Loh Jinawi yaitu padat terus menerus (banyak sekali penduduknya seperti aliran Sungai Gangga, Jinawi = S. Gangga di India).

 

Ikon Wisata kota Bogor

Hanya sayang, dalam segala keunggulan yang disebutkan di atas ada beberapa tempat yang sepertinya luput dari perhatian kemeriahan pembangunan oleh pemerintah Kota Bogor.

Diantaranya :

  1. Terminal Bis Baranang Siang

Terminal bis utama yang menjadi pintu masuk ke kota Bogor ini tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir atau bahkan lebih (?).

Tidak jelas persoalan yang membelit Pemkot Bogor sehingga tidak segera melakukan renovasi, kemudian membuatnya megah.

Terminal ini terkesan tidak menampakkan layaknya sebuah terminal bis di sebelah Istana Presiden yang memerintah untuk kurang lebih 17.000 (tujuh belas ribu) pulau. Hanya 5 menit dari istana untuk mencapai terminal ini.

Padahal pandangan awal seorang turis, wisatawan atau tamu ke suatu kota adalah dilihat dari kemegahan terminal bisnya.

Terbersit sebuah usul agar Walikota Bogor segera melakukan konsultasi dengan Bapak Presiden Jokowi, yang sering datang ke Bogor.

Sepertinya beliau tidak akan sungkan-sungkan memberikan petunjuk teknis maupun non teknis dalam persoalan ini. Bila Walikota Bogor memang berkeinginan melakukan upaya-upaya kepada beliau.

  1. Jalan Suryakencana

Tidak jauh dari Terminal Baranang Siang dan Istana Presiden terdapat Jalan Suryakencana yang mengarah lurus ke arah Pasar Gembrong.

Suasananya mulai kelihatan meredup pamornya, bila melihat deretan ruko, rumah yang, dan toko-toko yang sudah mulai tidak terurus dan coret moret.

  1. Pedagang Tradisional

Pedagang tradisional adalah pahlawan ekonomi bagi keluarga dan perekomian kota. Mereka adalah rakyat mandiri yang bekerja keras, kebanyakan tanpa bantuan pemerintah.

Karena merekalah perkonomian kota berdenyut, masyarakat segala lapisan terpenuhi segala kebutuhan dasarnya.

Penataan dan bantuan teknis untuk para pedagang tradisional kecil sudah saatnya diintensifkan mengingat kawasan yang melingkar dari Empang, pasar di depan Herbarium Bogoriensis, samping pintu gerbang Kebun Raya hingga mulut Jalan Suryakencana, bertebaran pedagang tradisional.

 

 

 

Pemkot Bogor bisa melakukan melakukan studi banding ke kota-kota lainnya yang telah berhasil menata pedagang tradisional supaya lebih tertib, bersih dan modern.

 

 

 

Motivasi dasarnya adalah penataan yang mensejahterakan serta memfasilitasi sesuai tuntutan kota modern. Bukan lagi sekedar menggusur atau bahkan mematikan lapangan kerja dan semangat wirausaha pedagang tradisional.

 

 

 

Makanan tradisional khas Bogor seperti Laksa, asinan, Soto Mie, talas, sayur mayur dan lainnya masih dijajakan dalam warung ala kadarnya.

 

 

 

Butuh kreatifitas Pemkot Bogor untuk mengupayakan desain lapak-lapak yang artistik, sehingga menjadikannya ikon wisata kuliner dan jajanan khas Kota Bogor agar jadi buruan para wisatawan.

 

 

 

Bila sumber daya lokal tidak ingin mendesainnya, tidak usah sungkan bermitra dengan art designer dari ‘Australia’ untuk membantu ciptakan model khas Bogor yang up to dateJ) (?)

 

 

 

 

Ikon Wisata Sejarah Bogor Tempoe Doeloe

 

 

 

Jauh sebelum kedatangan Kompeni Belanda, Kerajaan Sunda telah melakukan pembangunan fasilitas-fasilitas kota Bogor yang sekarang masih berfungsi dan digunakan.

 

 

Tetapi sebagian lagi tinggal petilasan. Karena rusak akibat perang terbuka maupun perang gerilya/teror “tambuh sangkane” yang berkepanjangan hingga puluhan tahun, untuk merebut kota Bogor.

 

 

 

Diantaranya :

 

 

 

 

  1. Misalnya saja pada catatan dalam maupun luar negeri, sebenarnya ada satu lagi Istana/Keraton tempoe doeloe di Kota Bogor yang bernama Sri Kedatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati.

 

 

 

Berdasarkan laporan Tome Pires yang dirinya pernah diperkenankan masuk istana Pakuan, ada sebuah paseban (halaman) di area istana yang memiliki beberapa bangunan yang letaknya berjajar/berjejer dengan rapi.

 

 

 

 

Dalam Kropak 406 (Tulisan pada rontal atau daun nipah) di Museum Nasional tertulis kalimat berikut.
 

Di sanalah bekas keraton, oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Selesailah sudah, kemudian diwastu oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemuilah Bagawat Sunda Mayayajati oleh Bujangga Sedamanah, terus dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa.

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa keraton di Pakuan berjumlah lima, yakni Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Suradipati tentulah keraton utama tempat singgasana raja.

 

 

Jumlah keraton pada masa Kerajaan Sunda berjumlah lima (panca prasada = lima keraton). Nama-nama istana tersebut memiliki fungsi berbeda-beda dalam sistem pemerintahan waktu itu.

 

 

Keraton ini tinggal petilasan.

 

 

Sementara itu, Poerbatjaraka mengartikan Pakuan Pajajaran (nama Bogor tempoe doeloe) sebagai “istana yang berjajar”.

 

 

Seorang sejarawan Belanda, Holle, setuju bahwa Pakuan Pajajaran berarti “pohon paku yang berjajar”.

 

 

 

  1. Prasasti Batutulis pada 1455 Saka atau 1533 M dan memakai bahasa Sunda Kuno terletak di Kelurahan Batutulis, Kec. Bogor Selatan dibuat oleh Surawisesa. Menuliskan tentang hutan Samida yang sekarang dikenal Kebun Raya Bogor. Prasati ini berbunyi :

Terjemahan bebasnya adalah:
“Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu Purana. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit pertahanan Pakuan.

 

 

Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastukancana yang dipusarakan ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat punden undakan untuk hutan Samida, membuat Sanghiyang (Telaga) Rena Mahawijaya (yang dibuat) dalam (tahun) Saka Panca Pandawa Emban Bumi.”

 

 

Gunung-gunungan (gunung kecil atau bukit buatan) dan sebuah telaga yang diduga keduanya berlokasi di Rancamaya. Saleh Danasasmita menganggap bahwa gugunungan tersebut kini adalah Bukit Badigul, yang hingga kini oleh penduduk Rancamaya dianggap bukit “keramat” karena di puncaknya terdapat sebuah makam.

 

 

Ada pun Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya oleh Nagarakretabhumi disebut ‘Situ Ageung Sena Mahawijaya’. Pantun-pantun di Bogor menyebutkan adanya Telaga Rena Wijaya yang terletak di Rancamaya juga.

 

  1. Kompetisi Pencak Silat di Kebun Raya Bogor

 

 

Seni bela dir Pencak Silat begitu marak di Jawa barat, karena saat Pemerintah Kolonial Belanda pun menyelenggarakan kompetisi Pencak Silat yang diikuti para pendekar silat dari berbagai pelosok.

 

 

Walau dalam catatan lain disebut berkategori termasuk kejam, karena saat itu diharuskan bertarung sampai mati, dengan perjanjian tidak ada tuntutan apapun dari pihak keluarga korban.

 

 

Dibawah panggung sudah disediakan keranda mayat. Konon Belanda sengaja mengadakan hal tersebut dengan maksud agar para pendekar silat tersebut tumpas dengan sendirinya, hingga tidak ada yang ditakuti lagi oleh pihak Belanda.

 

 

Perlu verfikasi lebih lanjut dengan menelusuri arsip-arsip Hindia Belanda tentang hal tersebut.

 

 

Acara tersebut diadakan setiap tahun bertempat di dalam Istana Kebun Raya Bogor, dalam memperingati Ulang Tahun Ratu Belanda, Ratu Wilhemina.

 

 

  1. Parit dan Benteng Pertahanan

 

 

 

Prasasti Batutulis menerangkan, pada masa Sri Baduga dilakukan langkah penting guna memperkokoh pertahanan istana/kerajaan, yakni dibuatnya parit-parit di sekeliling tembok istana Pakuan (ya nu nyusuk na Pakwan).

 

 

Parit di sekeliling Pakuan ini telah dirintis oleh Rakeyan Banga, leluhur Sri Baduga raja Sunda ke-4, dan bahkan telah diperluas (dibeukah) oleh Prabu Dharmasiksa pada abad ke-12. Yang dilakukan Sri Baduga tak lain memperkokoh dan mungkin juga memperluas/memperpanjang lagi parit-parit di Pakuan. Selain di Pakuan, di ibukota Sunda-Galuh yang lain, yakni Kawali, pun pernah dibuat parit (marigi) oleh Prabu Niskala Wastukancana pada abad ke-14.
 

  1. Old Dutch map showing the location of Pakuan, the ancient capital of the Sundanese kingdom of Pajajaran, near Bogor city in West Java

 

 

Laporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC (“Verenigde Oost Indische Compagnie”).

 

 

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi “bekas istana” Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi yang masing-masing dipimpin oleh :

 

 

  1. Scipio (1687)
  2. Adolf Winkler (1690)
  3. Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709)

 

 

 

  1. Laporan Scipio

Dua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah :

 

 

  1. Catatan perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik “Unitex” sekarang. Catatannya adalah sbb.: “Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni”.

 

 

  1. Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat “Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit”. Dari anggota pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran.

 

Dari perjalanannya disimpulkan bahwa jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan “kesan wajah” kerajaan hanyalah “Situs Batutulis”.

 

 

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort” (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau).

 

 

Rupanya laporan penduduk Parung Angsana ada hubungannya dengan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau dan ini telah menumbuhkan adanya hubungan antara Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau.

 

 

 

  1. Laporan Adolf Winkler (1690)

 

 

 

Laporan Scipio menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian dibentuk kembali team ekspedisi dipimpin oleh Kapiten Winkler. Pasukan Winkler terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur.

Perjalanan ringkas ekspedisi Winkler adalah sebagai berikut:

Seperti Scipio, Winkler bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan. Ia melewati jalan besar yang oleh Scipio disebut “twee lanen”. Hal ini tidak bertentangan. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku.

 

 

Karena itu ia hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.

Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi “parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (“de diepe dwarsgragt van Pakowang”) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada).

 

 

Satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks “Unitex” itu pada jaman Pajajaran merupakan “Kebun Kerajaan”.

 

 

Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti “tanam, tanaman atau kebun”. Tajur Agung sama artinya dengan “Kebon Gede atau Kebun Raya”. Sebagai kebun kerajaan Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya.

 

Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak (1709) dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku “Tulus Rejo”, sekarang).

 

 

Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke “Sekip” dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung.

 

Di Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan (“het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben”).

 

 

Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7 batang pohon beringin.

Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum Winkler tiba di situs Batutulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (“Purwa Galih”), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti).

 

 

Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh “Gang Amil”. Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung). Bale Kambang ini adalah untuk bercengkrama raja.

 

 

Contoh Bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi Jl. Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan “benteng batu” yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasast (sisi utara).

 

 

Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang.

 

Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa “Istana Pakuan” itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 81/2 baris (Ia menyebut demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup).

 

 

Yang penting adalah untuk kedua batu itu Winkler menggunakan kata “stond” (berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 th (sejak Pajajaran burak <bubar/hancur> oleh pasukan Banten th 1579), batu-batu itu masih berdiri (masih tetap pada posisi semula).

Dari tempat prasasti, Winkler menuju ke tempat arca (umum disebut Purwakalih, 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih). Di sana terdapat 3 buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung.

 

 

Nama trio ini terdapat dalam “Babad Pajajaran” yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh 1862. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara “Kabuyutan” Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi.

 

 

Menurut babad ini, “Pohon Campaka Warna” (sekarang tinggal tunggulnya) terletak tidak jauh dari alun-alun

 

 

 

  1. Berita dari Naskah Tua

Dalam kropak yang diberi nomor 406 di Museum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama “Carita Parahiyangan”. Sementara bagian yang belum diterbitkan biasa disebut fragmen K 406.

“Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata.”

 

 

(Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

 

 

Sriman Sriwacana, adalah batu yang digunakan untuk penobatan raja. Sekarang batu tersebut terletak di depan bekas Keraton Banten. Panembahan Yusuf menitahkan batu tersebut dipindahkan ke Banten karena ibunda beliau juga merupakan cucu dari Prabu Siliwangi.

 

Dari sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari “hulu Cipakancilan”. Hulu Cipakancilan terletak dekat lokasi kampung Lawang Gintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi.

 

 

Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Cipakancilan. Hanyalah juru pantun kemudian menterjemahkannya menjadi Cipeucang. Dalam bahasa Sunda kuno dan Jawa kuno kata “kancil” memang berarti “peucang”.

 

  1. Hasil Penelitian

 

Prasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan “cetakan tangan” untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada 4 orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.

 

Hasil penelitian Pleyte dipublikasikan tahun 1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun 1903). Dalam tulisan “Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg” (Angka tahun pada Batutulis di dekat Bogor), Pleyte menjelaskan “Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran’s koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten”.

(Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih dipercayai menunjuk kampung Batutulis yang sekarang sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran, masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang tepat).

Sedikit kotradiksi dari Pleyte adalah pertama ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton, akan tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang.

 

 

Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.

 

Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas “Dalem Kitha” (Jero kuta) dan “Jawi Kitha” (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah “kota dalam” dan “kota luar”. Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jl. Siliwangi dengan Jl. Batutulis.

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang Gintung (bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang oleh data kepurbakalaan dan sumber sejarah.

 

 

Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa “Leuwi Sipatahunan” yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, “leuwi” (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi oleh puteri-puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari “Leuwi Sipatahunan” itu.

Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen “Cakrabirawa” (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama “Mila Kencana”. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan.

 

 

Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.

 

Sebenarnya hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler (kunjungan ke Batutulis 14 Juni 1690). Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah “hoff” (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata “paseban” dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas “balay” yang lama.

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti “porte brisee, bewaakte in-en uitgang” (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop “Rangga Gading”. Setelah menyilang Jl. Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut.

 

 

Deretan pertokoan antara Jl. Suryakencana dengan Jl. Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, sebenarnya didirikan pada bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung.

 

 

Deretan kios dekat simpangan Jl. Siliwangi – Jl. Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded.

 

 

Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang Jl. Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jl. Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

 

 

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan “benteng alam” yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan “ujung benteng” dengan “benteng” pada tebing Kampung Cincaw.

 

 

 

Asal kata Pakuan Pajajaran menurut para ilmuwan

 

 

  1. P. Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian “paku”, akan tetapi harus diartikan “paku jagat” (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. “Pakuan” menurut Fouffaer setara dengan “Maharaja”.

 

 

Kata “Pajajaran” diartikan sebagai “berdiri sejajar” atau “imbangan” (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti “Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit”.

 

 

Dalam pancakaki galur kekerabatan kerajaan-kerajaan Sunda seperti yang tertulis dalam naskah kuno Keraton Cirebon. Memang terdapat silsilah pendiri Majapahit Nararya Sangramawiajaya adalah cucu Prabu Guru Darmasiksa salah seorang raja Sunda.

 

 

 

  1. Ng. Poerbatjaraka (1921). Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata “Pakuan” mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno “pakwwan” yang kemudian dieja “pakwan” (satu “w”, ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan “pakuan”. Kata “pakwan” berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti “istana yang berjajar”(aanrijen staande hoven).

 

 

  1. ten Dam (1957). Sebagai seorang pakar pertanian, Ten Dam meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah.

 

 

Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian “Pakuan” ada hubungannya dengan “lingga” (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian “paku”.

 

 

Ia berpendapat bahwa “pakuan” bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibu kota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata “pajajaran” ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara “Sungai Besar” dan “Sungai Tanggerang” (sekarang dikenal sebagai Ci Liwung dan Ci Sadane).

 

 

Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama “Pajajaran” muncul karena untuk beberapa kilometer Ci Liwung dan Ci Sadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau “Dayeuh Pajajaran”.

 

 

Sebutan “Pakuan”, “Pajajaran”, dan “Pakuan Pajajaran” dapat ditemukan dalam Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan nomor 3 bisa dijumpai pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.

 

 

 

 

Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut “pakuan” itu adalah “kadaton” yang bernama Sri Bima dan seterunya. “Pakuan” adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana.

 

 

Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu “istana yang berjajar”. Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri.

 

 

 

 

 

 

Cag ah.

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

 

(dari berbagai sumber)

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s