Pesona Indonesia : Epigonen Kesatuan

Ar-Ra’du [13] ayat 11; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi (objektif) suatu bangsa, hingga bangsa tersebut mau mengubah kondisi (subjektif) yang ada pada mereka sendiri

 

Ayat di awal ini menggambarkan bahwa manusia memainkan peran penting dalam gerak sejarah. Gerak sejarah merupakan kesadaran umat manusia. Pikiran dan kesadaran manusia berkembang dari tingkat yang bersahaja ke tingkat yang tinggi.

Ibn Khaldun, Vico, Spengler dan Toynbee adalah penganut Filsafat kontemplatif yang menyatakan gerak sejarah daur kultural yang menyatakan bahwa sejarah mempunyai daur kultural yang mengulang kembali dirinya sendiri dalam satu bentuk atau lainnya.

Bung Karno seorang Insinyur ahli teknik peminat sejarah dan Muhammad Yamin sang sastrawan, dengan sadar memunculkan kembali kebesaran sejarah lama untuk merajut kembali ke-Indonesia-an setelah setelah terkoyak-koyak oleh kolonialisme.

Sepertinya Bung Karno dan Muhammad Yamin menggunakan metoda daur kultural sejarah ini dengan baik.

Alhasil kilasan sejarah Indonesia sesungguhnya menegakkan benang merah ke-Indonesiaa-an yang berujung pangkal pada muara akarnya. Yaitu Jawa Barat.

Jawa bagian Barat dengan ujung tombak Jakarta, sebagai tempat lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 adalah pengulangan kebesaran-kebesaran lama Indonesia

Sebagaimana penggunaan istilah Guru yang melekat pada gelar Maharesi Jayasinghawarman-guru Dharmapurusa, kemudian bergelar Rajadhirajaguru. Pendiri kerajaan Tarumanagara yang memerintah tahun 358 hingga 382 Masehi.

Jayasinghawarman jelas tertulis dalam Prasasti Tugu bersama dua raja Tarumanagara setelahnya, yakni Rajarsi dan Purnawarman.

Dan juga gelar Prabu ‘Guru’ Darmasiksa (11751297 Masehi) Raja Sunda yang bertahta di Pakuan. Tarumanagera dan Kerajaan Sunda berlokasi di Jawa Barat.

Gerak sejarah ini diantaranya terbaca pada Naskah Wangsakerta dari Keraton Cirebon, Solo, Mataram, Tiongkok, India serta keraton besar lainnya yang didukung oleh babad, prasasti dan artefak yang banyak tersebar di berbagai lokasi.

Ditambah lagi dengan metoda Pancakaki dalam tradisi Sunda, yaitu menelusuri dan menuliskan silsilah/galur keturunan dan kekerabatan. Hal yang lazim ini digunakan pula bangsa-bangsa di dunia.

 

Majapahit dan Pakuan – Pajajaran

Majapahit sebagai kerajaan termasyhur di Jawa Timur yang berdiri pada tahun 1293 Masehi, bagian tak terpisahkan dari untaian Kerajaan Jawa Barat.

Sebagaimana tertulis dalam Babad Tanah Jawi dari Keraton Solo, Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit adalah Jaka Susuruh dari Pajajaran.

Sementara dari naskah kuno Keraton Cirebon, Raden Wijaya bernama lengkap Sang Nararya Sanggramawijaya, atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya yang terlahir di Pakuan.

Orang tuanya adalah Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal.

Rakeyan Jayadarma adalah putra mahkota Raja Sunda yang bernama Prabu Guru Darmasiksa (11751297 Masehi) dan berkedudukan di Pakuan.

Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Rakeyan Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur, karena ia berjodoh dengan putrinya bernama Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal.

Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singhasari.

Jayadharma meninggal muda saat ayahnya masih berkuasa.

Sehingga setelah Jayadharma wafat, Raden Wijaya dibawa oleh ibunya, Dewi Singhamurti, pulang ke Singasari.

Di negeri asal ibunya ini, Wijaya belajar berbagai ilmu pemerintahan dan peperangan. Dan sebagai kepercayaan Kertanegara, yang juga masih pamannya, Wijaya kemudian diangkat menjadi panglima angkatan perang Singasari.

Setelah menjadi raja Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

 

Tarumanegara dengan Sriwijaya

Sobakancana dari Tarumanegara adalah isteri Dapunta hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Berkuasa pada tahun 671 masehi hingga 702 masehi

Sobakancana adalah putri Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi, raja Tarumanegara dari Jawa barat.

Linggawarman sang raja terakhir mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih telah menjadi istri Tarusbawa, raja yang berkeraton di Cipakancilan – Bogor.

Pada masanya, kekuasaan Tarumanagara mencakup wilayah Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah bagian barat. Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara dari Keraton Cirebon menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada, Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah.

Secara tradisional, Cipamali (Kali Brebes sekarang) dianggap batasnya.

Daerah-daerah kekuasaan Tarumanagara pada masa Purnawarman di antaranya: Salakanagara, Cupunagara, Nusa Sabay, Purwanagara, Hujungkulwan (Ujung Kulon), Gunung Kidul, Purwalingga, Agrabinta, Mandalasabara, Bhumisagandu, Paladu, Kosala, Legon, Indraprahasta, Manukrawa, Malabar, Sindangrejo, Wanagiri, Purwagaluh, Cangkwang, Gunung Gubang, Gunung Cupu, Alengka, Gunung Manik, Salakagading, Pasirbatang, Karangsidulang, Gunung Bitung, Tanjungkalapa, Pakwan Sumurwangi, Kalapagirang, Tanjungcamara, Sagarapasir, Rangkas, Puradalem, Linggadewa, Wanadatar, Jatiagong, Satyaraja, Rajatapura, Sundapura, Dwakalapa, Pasirmuhara, dan Purwasanggarung.

Purnawarman membangun ibukota (Purasaba) kerajaan baru pada tahun 397 Masehi yang terletak lebih dekat ke pantai yang dinamainya Sundapura. Inilah pertama kali nama Sunda secara resmi dipakai sebagai nama administratif.

Prasasti yang memberitakan Purnawarman, salah satunya Prasasti Cidanghyang atau disebut juga Prasasti Lebak karena ditemukan di Kampung Lebak di tepi Sungai Cidanghyang, Kec. Munjul, Pandeglang, Banten.

Hal ini membuktikan bahwa daerah Banten dan pantai Selat Sunda juga termasuk wilayah kekuasaan Tarumanagara.

Sementara nama Dapunta Hyang terdapat pada Prasasti Kedukan Bukit yang bertahun 605 Saka (683 M), yang terletak di tepi anak Sungai Musi, di kaki Bukit Siguntang sebelah barat Palembang.

 

Kaitan dengan Mataram Kuno

Dalam Carita Parahiyangan, Tarusbawa ini disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia memerintah sampai tahun 723 M.

Tarusbawa yang asalnya dari Kerajaan Sunda Sembawa mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan – Bogor.

Tarusbawa mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Raja Cina dalam tahun 669 M. Sumber berita Dinasti Tang memang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara mengunjungi negeri itu terjadi pada tahun 669 M.

Tarusbawa dalam tahun 723 digantikan Rakeyan Jamri, sang menantu menjadi Raja Sunda. Rakeyan Jamri ini sebagai penguasa Kerajaan Sunda dikenal dengan nama Prabu Harisdarma, dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.

Sanjaya ternyata juga sebagai ahli waris Kalingga di Jawa Tengah, sehingga kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bhumi Mataram (Mataram Kuno) dalam tahun 732 M.

Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok.

Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja ke 2 dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sannaha yang menikah dengan raja ke 3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa.

Sannaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Sannaha memiliki saudara laki-laki bernama Sanna sebagai raja berkuasa, yang kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, Tertulis dalam Prasasti Canggal (732 M) di Magelang.

Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkala berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih Kecamatan Salam, Magelang – Jawa Tengah.

Prasasti ini dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya.

Sanjaya menjadi Raja Kalingga Utara yang kemudian disebut Bhumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Wilayah kekuasaan pada masa pemerintahan Sanjaya dapat dipastikan meliputi wilayah gabungan Kerajaan Sunda dan Galuh. Bahkan diperkirakan, pada masa Sanjaya, wilayah itu melebihi wilayah Jawa Barat.

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan, diberitakan yang mengakui Sanjaya di antaranya Mananggul, Kahuripan, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina.

 

Salakanagara dan Kutai

Bhimadigwijaya (Dewawarman VII) adalah raja yang memindahkan ibukota Salakanagara ke daerah JayaSINGHAPURA yang ketika itu telah berkembang menjadi kota besar. Nama Jasinga di Banten rupanya berasal dari nama kota itu.

Bhimadigwijaya Satyaganapati memiliki anak perempuan bernama Spatikarnawa, yang kemudian menggantikannya sebagai ratu setelah ayahnya meninggal.

Ratu Spatikarnawa memerintah pada tahun 340 s/d 348 Masehi.

Prabu Dharmawirya Salakabhuwana lalu menggantikannya sebagai raja dan memerintah tahun 348-363 Masehi. Sang Prabu Dharmawirya Salakabhuwana (Dewawarman VIII) yang berasal dari India, adalah suami Ratu Spatikarnawa yang berlokasi di Jawa Barat itu.

Prabu Dharmawirya beristrikan 2 orang, yaitu Spatikarnawa dan Dewi Ratri Candralocana. Dari perkawinan ini, Dharmawirya memiliki putra yang tinggal di Swarnabhumi yang kelak menurunkan raja-raja di Sumatera.

Dari Spatikarnawa, Dewawarman VIII memiliki beberapa anak. Di antara anaknya itu, seorang putri bernama Parameswari Iswari Tunggalprethiwi (Dewi Minawati) menjadi istri Maharesi Jayasinghawarman-guru Dharmapurusa (kemudian bergelar Rajadhirajaguru, raja pertama Tarumanagara).

Seorang putra Dharmawirya lainnya bernama Aswawarman. Aswawarman menikah dengan putri raja Bakulapura, Kundungga (Kudungga). Nama Bakulapura merupakan nama asli dari Kutai –berlokasi di Muara Kaman.

Pemberian nama Kutai Martadipura atau Kutai Martapura untuk kerajaan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur ini didasarkan pada nama tempat dimana ditemukan sejumlah yupa mengenai kerajaan tersebut. Kudungga sendiri merupakan seorang pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja).

Kekerabatan Tarumanegara dengan Kutai berikutnya adalah ketika Wisnuwarman berkuasa selama 21 tahun dari 434-455 di Tarumanegara. Dengan permaisurinya bernama Suklawarmandewi, adik raja Bakulapura.

Berikutnya, Raja Kendan di wilayah Bandung – Garut yang bernama Suraliman (memerintah tahun 568-597 Masehi) menikah dengan putri Raja Bakulapura (Kutai) bernama Dewi Mutyasari.

Aswawarman disebut raja pertama yang resmi berkuasa di Kerajaan Kutai dan diberi gelar “Wangsakarta”, yang artinya pembentuk keluarga/dinasti.

Aswawarman mempunyai 3 orang putra, salah satunya bernama Mulawarman. Ketika Maharaja Mulawarman berkuasa, Kerajaan Kutai Martadipura mengalami zaman kejayaan dan menjadi kerajaan yang besar.

Kerajaan Kutai Martadipura berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa.

Jadi Kutai ada 2, yang pertama Kutai Martadipura. Dan yang kedua Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325 M).

 Pada abad ke-14 berdiri Kesultanan Berau dengan raja pertama yang memerintah dengan gelar Aji Raden Suryanata Kesuma.

 

Salakanagara

Salakanagara merupakan kerajaan yang berlokasi di Jawa Barat bagian barat atau daerah Banten. Pendirinya adalah Dewawarman, bergelar Prabu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapura-sagara, atau dalam bahasa rakyat sebagai Aji Saka.

Lokasi pertamanya di Ujungkulon dengan Pwahaci Larasati sebagai permaisuri dengan gelar Dewi Dhwanirahayu.

Disebutkan dalam Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara dari Keraton Cirebon, Dewawarman (disebut juga Dewawarman I) memerintah tahun 130-168 Masehi.

Keterangan ini tak bertentangan dengan kronik (berita) Cina yang menyebutkan bahwa pada tahun 132 M di wilayah Jawa bagian barat ada raja bernama Pien dari Kerajaan Ye-tiao. Pien merupakan nama Cina untuk Dewawarman, sedangkan Ye-tiao lafal Cina untuk Jawadwipa.

Keterangan tertulis lain tentang keberadaan Salakanagara (Salak yang berarti “Kota Perak” atau disebut juga Rajatapura) adalah catatan ahli geografi Yunani Kuno bertahun 150 M, Ptolemeus. Ia menulisnya dengan nama Argyre.

Salakanagara menurut pustaka kuno Cirebon tercatat berdiri dari 130 M hingga 363 M.

Raja ketiga Tarumanegara bernama Rakeyan Taruma Hyang (“Si Tumang” dalam ceritera legenda, suami Dayang Sumbi) atau Pangeran Wisnu Gopa, Dewawarman III. Pernikahan dengan Dayang Sumbi yang bergelar Dewi Mayang Sunda atau nama aslinya Galuh Kaniawati menghasilkan lima orang anak yang kelak disebut sebagai Lima Putra Sunda atau Panca Putra Dewa.

Pendahulu Salakanagara adalah Kebudayaan Buni berupa budaya tembikar yang berkembang di pantai utara Jawa Barat dan Banten sekitar 400 SM hingga 100 M.

Kebudayaan Buni mungkin merupakan pendahulu kerajaan-kerajaan tertua di Jawa Barat yang kemudian menghasilkan banyak prasasti yang menandai awal berlangsungnya periode sejarah di pulau Jawa.

Peninggalan Buni diantaranya : perhiasan emas dalam periuk, Tempayan, Beliung, Logam perunggu, Logam besi, Gelang kaca, Manik-manik batu dan kaca, Tulang belulang manusia dan Sejumlah besar gerabah bentuk wadah.

Situs prasejarah lainnya di Jawa Barat :

 

Shri Jayabupati, kaitan antara Sriwijaya dan Airlangga

Prasasti Sanghyang Tapak yang berhuruf Jawa Kawi dan bertahun 952 Saka (1030 M) ditemukan di Cibadak Sukabumi. Yang menyebutkan bahwa raja yang memerintah di Kerajaan Sunda ketika itu adalah Jayabupati.

Raja ini memiliki nama gelar Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamandala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa. Disebutkan pada prasasti itu, Jayabhupati berkuasa di kawasan “Praharyan Sunda” tahun 1030 -1042 M.

Sri Jayabupati adalah putra Sanghiyang Ageng atau Prabu Dewa Sanghyang (1019 – 1030 M) yang bertahta di Pakuan. Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja Wurawuri di Jawa Timur.

Permaisuri Sri Jayabupati adalah putri dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur. Dengan demikian, Jayabupati merupakan saudara ipar Raja Airlangga dari Kediri, karena anak gadis Dharmawangsa yang lain bernama Dewi Laksmi merupakan istri Airlangga.

Dan Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari Darmawangsa, mertuanya. Gelar itulah yang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak.

Dari pernikahannya dengan putri Jawa Timur tersebut, Jayabupati memiliki anak lelaki bernama Dharmaraja.

 

Galuh

Babad Galuh menyebutkan Bojong Galuh yang disebut juga Desa Karangkamuliaan – Ciamis, dianggap sebagai bekas pusat Kerajaan Galuh. Tempat itu sangat strategis dijadikan pusat pemerintahan karena letaknya berada di muara, tempat pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur.

Pendirinya adalah Wretikandayun, memerintah Galuh selama 90 tahun dari tahun 612 hingga 702. Ia menikah dengan putri Resi Makandria, Nay Manawati atau disebut juga Dewi Candrarasmi.

Dari pernikahan ini, Wretikandayun memiliki tiga orang anak, yakni Sempakwaja, Wanayasa (Jantaka), dan Mandiminyak (Amara).

Wretikandayun adalah cicit Manikmaya. Manikmaya pada tahun 526 M telah mendirikan kerajaan baru bernama Kendan yang berlokasi di Nagreg (antara Bandung dengan Limbangan, Garut).

Manikmaya sendiri adalah sebagai menantu Suryawarman, karena menikah dengan Tirtakancana putrinya. Suryawarman adalah Raja Tarumanegara pada tahun 535-561 Masehi, berdasarkan naskah Pustaka Jawadwipa.

Manikmaya berputra Rajaputera Suralimansakti. Suraliman naik tahta pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji 490 Saka (5 Oktober 568 M). Suraliman menikah dengan putri Raja Bakulapura (Kutai) bernama Dewi Mutyasari.

Dari Mutyasari, Suraliman memiliki seorang anak lelaki bernama Kandiawan dan seorang anak perempuan bernama Kandiawati.

Kandiawan menggantikan Suraliman menjadi raja Kendan pada 597 M. Langkah pertama yang diambil oleh Kandiawan setelah menjadi raja adalah memindahkan ibu kota dari Kendan ke Medang Jati. Lokasi Medang Jati diperkirakan berada di sekitar daerah Cangkuang, Garut.

Kandiawan memerintah dalam kurun waktu 15 tahun (597-612 M). Wretikandayun, anak bungsunya kemudian ditunjuknya untuk menjadi raja Kendan. Ia dinobatkan menjadi penguasa Kendan pada usia 21 tahun (612 M). Wretikandayun pun memindahkan ibukota Kerajaan ke kawasan baru di Galuh.

Galuh sendiri berarti “permata” atau “batu mulia”.

Penggunaan nama Galuh akhirnya banyak digunakan para penduduk Jawa Tengah sampai timur, seperti Galuh Timur (Bumiayu), Galuh (Purbolinggo), Sirah Galuh (Cilacap), Sagaluh dan Sungai Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), dan Sagaluh (Purwodadi).

Daerah sekitar Sidoarjo disebut sebagai Hujung Galuh., sekarang masuk wilayah Surabaya – Jawa Timur.

Di dalam Babad Banyumas, dijelaskan sebagai berikut :

“Keturunan-keturunan Kerajaan Galuh Purba kiye nerusna pemerentahan Kerajaan nang Garut – Kawali (Ciamis) sing wis duwe budaya Sunda, terus sebagian campur darah karo keturunan Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah).

Campur darah (perkawinan) kuwe juga berlanjut dong masa Kerajaan Galuh Kawali dadi Kerajaan Galuh Pajajaran sebab akeh perkawinan antara kerabat Keraton Galuh Pajajaran karo kerabat Keraton Majapahit (Jawa), lha keturunan campurane kuwe sing mbentuk Banyumas.

Babad Banyumas juga ora bisa dipisah karo sejarah Kerajaan Galuh Kawali sing wilayah kekuasaane ngeliputi lewih separo wilayah Jawa Tengah siki (kemungkinan tekan Kedu lan Purwodadi), dadi termasuk juga wilayah Banyumasan.

Babad Banyumas juga ora bisa dipisah sekang pribadi Raden Joko Kahiman (putra Raden Banyak Cotro, putu Raden Baribin)”.

Dalam laporan yang disusun Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat sejumlah nama sebagai berikut :

  1. Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok
    dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
    2.  Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
    3.  Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
    4.  Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
    5.  Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
    6.  Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
    7.  Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
    8.  Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
    9.  Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
    10. Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian
    Gunungtanjung;
    11. Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara
    12. Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis sejak tahun 1812.

 

Pusat Kekuasaan Galuh – Pakuan

Pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur ke barat dan sebaliknya (antara 895 hingga 1482 M). Sebagai contoh: ayah Sri Jayabhupati berkedudukan di Galuh, namun Jayabhupati sendiri memilih tinggal di Pakuan; tetapi putra Jayabhupati berkedudukan di Galuh lagi.

Begitu pula dengan Prabu Guru Dharmasiksa (1175-1187) yang menurut Kropak 406, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Putranya, Prabu Ragasuci, berkedudukan di Saunggalah.

Tatkala naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Guru Darmasiksa), Prabu Ragasuci tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan karena sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja daerah di wilayah timur (Galuh).

Namun pada masa pemerintahan putranya, Prabu Citraganda atau Sang Mokteng Tanjung (1303-1311 Masehi), Pakuan untuk kesekian kalinya menjadi ibukota dan pusat pemerintahan Sunda.

Memang dalam naskah yang dikumpulkan Pangeran Wangsakerta sendiri, pusat kekuasaan Sunda Galuh beberapa kali mengalami perpindahan. Yaitu dari Pakuan (Bogor) ke Kawali (Ciamis) dan di Saunggalah (Kuningan).

(bersambung)

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s