Kemerdekaan adalah Jembatan Emas

(Kesetaraan dalam keberagaman = Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni)

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ وَّ خَلَقَ مِنۡہَا زَوۡجَہَا وَ بَثَّ مِنۡہُمَا رِجَالًا کَثِیۡرًا وَّ نِسَآءً ۚ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ الَّذِیۡ تَسَآءَلُوۡنَ بِہ وَ الۡاَرۡحَامَ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ عَلَیۡکُمۡ رَقِیۡبًا ﴿﴾

Hai manusia, bertakwalah kepada Allah Tuhan kamu yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya sebagai pasangan serta mengembang-biakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan bertakwalah mengenai hubungan kekerabatan, sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisā [4]:2).

 

Tentu kita percaya bahwa Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah Jembatan Emas menggapai cita-cita berbangsa bernegara.
Pada pidato di sidang BPUPKI Soekarno mengajukan usulan penting bahwa modal utama dari negara yang akan segera lahir itu tak lain adalah kemerdekaan. Karena kermerdekaan itu adalah “jembatan emas”.
Jembatan. Itu kaca kuncinya. Di seberang jembatan itu kelak, kata Bung Karno, semua akan ditata. Bagaimana masyarakat Indonesia yang telah meraih kemerdekaan akan hidup dengan landasan filosofi Pancasila yang menjunjung tinggi kesetaraan dalam keberagaman.

Sementara kolonialisme pada praktiknya membedakan manusia berdasar pada bangsa/suku, agama, ras (SARA) dan privelege jabatan, kekayaan, tingkat pendidikan.
Kasta penduduk dan masyarakat masa kolonial (apartheid) menempatkan manusia pra-Indonesia paling tidak menjadi lima (5) tingkatan kelas. Milone (1975) menuliskan :
Kelas Satu= orang-orang Eropa, termasuk para pejabat VOC.
Kelas Dua = Vrijburger, Eurasian, Mardijker, Papanger, orang Jepang, orang pribumi Kristen, dan beberapa orang Afrika.
Kelas Tiga = orang Tionghoa, Arab, dan India.
Kelas Empat = orang Melayu.
Kelas Lima = orang pribumi non-Kristen.

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s