KH. Ahmad Sanusi : Mufassir Pejuang

An-Nisa ayat 9.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”.

 

Memang bukan tradisi Sunda untuk membesar-besarkan kehebatannya. Bahkan sampai-sampai ada anggapan tabu menceritakan sejarah nenek moyangnya sendiri, bisi “agul ku payung butut” cenah. Doktrin “pamali” atau “teu wasa” begitu kuat mengakar.

Padahal sebagaimana Surat An Nisa di awal, kepentingan menuliskan sejarah adalah meneruskan tradisi kecerdasan Emotional Spiritual Question (ESQ), pelestarian Iman-Ilmu-Amal, kepahlawanan serta ketangguhan sebuah bangsa. ‘Dignity, Honour, country and people’.

Ikhtiar dalam usaha menciptakan lebih banyak anak-anak yang tanggon dan trengginas, pemuda/pemudi yang amanah – fathonah – sidiq dan gandrung ber-tabligh.

Memupuk generasi muda bermartabat, yang siap bekerjasama dengan bangsa dunia lainnya dalam mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tapi ada baiknya untuk menghindarkan dari kesan takabur, songong, adigung adiguna’, ‘asa aing uyah kidul, alak-alak cumampaka atau sombong, maka tulisan ini diawali dengan petatah-petitih dalam bahasa Melayu :

“Tak Kenal maka Tak Sayang”

Dalam manajemen kepemimpinan juga, konsep pertama adalah Mengenal Diri. Dengan mengenal diri, mahluk manusia akan pandai bersyukur akan nikmat-nikmat Allah swt yang telah memberikan begitu banyak keistimewaan padanya.

 

3 Jam dari ibukota NKRI

Teknologi Informasi dan Komunikasi telah membuka mata dan telinga kita sedemikian lebar, ternyata begitu banyak manusia-manusia hebat – pintar di seluruh Indonesia. Demikian pula daerah kota/kabupaten yang sangat luas, luar biasa kaya akan kesuburan alam, budaya, masyhur pula kesejarahannyanya.

Tetapi ketika ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan proklamasi 17 Agustus 1945 senyatanya sejarak 180 menit saja, ….atau hanya 3 jam perjalanan darat dari tempat dakwah tokoh pejuang yang satu. Ini jadi bahan tulisan yang sangat menarik.

Semenarik menganalisis pertanyaan-pertanyaan dan jawaban mengapa ibukota NKRI ditasbihkan, justru ada di Jawa bagian barat.

 

KH Ahmad Sanusi

Tulisan riwayat singkat KH. Ahmad Sanusia ini disadur dari beberapa sumber.

Mama Ajengan Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, ulama besar yang memimpin Pesantren Cantayan, salah satu pesantren terkemuka di Sukabumi, Jawa Barat.

Ahmad Sanusi atau dikenal dengan sebutan Kiai Haji Ahmad Sanusi atau Ajengan Genteng lahir 18 September 1889 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi – meninggal tahun 1950 di Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi.

Adalah tokoh Sarekat Islam dan pendiri Al-Ittahadul Islamiyah (AII), sebuah organisasi di bidang pendidikan dan ekonomi.

Sejak kecil Ahmad Sanusi hidup dilingkungan keluarga yang religius sehingga telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak usia belia. Sanusi kecil bahkan tidak segan-segan belajar dari para santri senior di pesantren yang dipimpin ayahnya.

Di lingkungan keluarga inilah Ahmad Sanusi mendapat pendidikan Agama Islam yang begitu ketat sehingga Ahmad Sanusi selain hafal al-Qur’an diusia 12 tahun, juga ia menguasai berbagai disiplin Ilmu Agama Islam, seperti Ilmu Nahu, Sharaf, Tauhid, Fiqh, Tafsir, Mantiq, dll.

Menginjak usia dewasa, Sanusi menunjukkan dirinya sebagai pembelajar sejati. Jiwa dan semangat petualangnya dalam menuntut ilmu ditunjukkannya dengan tak bosan dan tak henti-hentinya bertandang dari satu perguruan ke perguruan lainnya.

Terutama pondok pesantren yang ada di tatar Sunda selama 4,5 tahun. Pesantren yang pernah dikunjungi, diantaranya: 1) Pesatren Selajambe Cisaat Sukabumi, Pimpinan Ajengan Soleh/Ajengan Anwar, 2) Pesantren Sukamantri  Cisaat Sukabumi, Pimpinan Ajengan Muhammad Siddiq, 3) Pesantren Sukaraja Sukabumi, Pimpinan Ajengan Sulaeman/Ajengan Hafidz, 4) Pesantren Cilaku Cianjur untuk belajar ilmu Tasawwuf,

5) Pesantren Ciajag Cianjur, 6) Pesantren Gentur Warung Kondang Cianjur, Pimpinan  Ajengan Ahmad Satibi/Ajengan Qurtubi, 7) Pesantren Buniasih Cianjur, 8) Pesantren Keresek Blubur Limbangan Garut, 9) Pesantren Sumursari Garut, 10) Pesantren Gudang Tasikmalaya, Pimpinan Ajengan R. Suja’i, 11) Pesantren Babakan Selaawi Baros Sukabumi Pimpinan Ajengan Affandi.

Petualangan Ajengan Sanusi bahkan tidak hanya “ngulukutek” di Jawa Barat. Tahun 1904 pada usia 20 tahun ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama.

Di tanah Mekkah itulah ia berkenalan dengan sejumlah ulama besar ahli ilmu agama (Syeikh), baik yang asli Mekkah maupun para Syeikh yang berasal dari Indonesia.

Beberapa Syeikh yang sempat menjadi guru Ajengan Sanusi di tanah suci, antara lain: Syeikh Muhammad Junaidi, Syeikh Said Jawani, Syeikh Saleh Bafadlal, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syeikh Mukhtar Attarid asal Bogor.

Salah satu ulama besar yang banyak mempengaruhi pemikiran Ajengan Sanusi adalah Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, salah satu ulama pembaharu asal Mesir.

Ketekunannya dalam memperdalam ilmu agama telah mengantarkan Ajengan Sanusi menjadi salah seorang ulama yang disegani di Mekkah. Ajengan Sanusi mendapat gelar sebagai salah satu Imam besar Masjidil Haram, Mekkah.

Pada saat menuntut ilmu di Mekah itulah Ajengan Sanusi banyak berinteraksi dengan ide-ide pembaharuan dari sejumlah tokoh muslim dunia, seperti Syeikh Muhammad ‘Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, dan Jamaluddin al-Afghani.

Interaksi dan perjumpaan Ajengan Sanusi dengan tokoh-tokoh itu telah membangun perspektif baru dan menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia.

Namun demikian, Ajengan Sanusi tetap konsisten dan tidak meninggalkan mazhab dan manhaz dasarnya sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid.

Bahkan dalam bidang ilmu fikh yang juga merupakan keahliannya. Ajengan Sanusi terkenal sangat kritis dalam berijtihad menentukan hukum Islam.

 

Ajengen Genteng

Setelah menuntaskan petualangannya memperdalam ilmu agama Islam di tanah suci, pada 1915 Ajengan Sanusi kembali ke Indonesia dengan harapan dapat membantu ayahnya mengajar dan mengembangkan Pesantren Cantayan.

Setelah tiga tahun membantu ayahnya, Ajengan Sanusi kemudian mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng yang berada di sebelah utara Pesantren Cantayan.

Tahun 1922 itulah K.H. Ahmad Sanusi mendirikan pesantren Genteng Babakan Sirna, Cibadak, Sukabumi. Dalam menyampaikan dakwah, K.H. Ahmad Sanusi mempunyai metoda yang keras, tegas, dan teguh pendirian.

Beliau merombak cara belajar santri dengan duduk tengkurap (ngadapang) diganti dengan duduk di bangku dan meja dan diterapkan sistim kurikulum berjenjang (klasikal).

Karena itu, Ajengan Sanusi juga dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng. Pesantren yang ia dirikan di Kampung Genteng itu kemudian diberi nama Pondok Pesantren Syamsul Ulum.

 

Menulis Kitab dan Terbitkan Majalah

Selain keahliannya dalam ilmu agama – dimana KH Ahmad Sanusi semasa hidupnya juga dikenal luas sebagai ulama ahli tafsir. Salah satu karyanya adalah kitab Malja Al Talibin fi Tafsir Kalam Tabb Al Alamin.

Beliau juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan tercatat sebagai satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.

Sebelumnya, Ajengan Sanusi juga dikenal sebagai tokoh Syarikat Islam (SI) dan pendiri al-Ittihadiat al-Islamiyah.

Sebagai tokoh SI, Ajengan Sanusi juga aktif dalam usaha-usaha dan perjuangan  mengusir kolonial Belanda yang saat itu terus melakukan upaya untuk melakukan kolonisasi di seantero Hindia Belanda.

Ajengan Sanusi memang dikenal sebagai salah satu penganut Tarekat Qadiriyah yang banyak dianut oleh masyarakat pra/pasca kemerdekaan. Bahkan, para pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan, kerap meminta ajaran dan kekebalan kepada KH. Ahmad Sanusi berkaitan dengan terjemahan Manâqib Abdulqâdir Jailânî yang kemudian jadi pedoman Tarekat Qadiriyah itu.

Pada bulan Nopember 1926 meletus di Jawa Barat yang dikenal sebagai Gerakan Syarikat Islam (SI) Afdeeling B yang merupakan perlawanan rakyat jelata terhadap pemerintah kolonial Belanda.

K.H. Ahmad Sanusi bersama santri-santri Pesantren Genteng Babakan Sirna dituduh terlibat dalam pemberontakan tersebut, sehingga beliau ditangkap dan masuk penjara di Sukabumi 6 bulan dan di Cianjur 7 bulan.

Kemudian pada tahun 1927 beliau diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Tanah Tinggi – Senen, Batavia Centrum selama 7 tahun (1927-1934). Dalam pengasingannya, K.H. Ahmad Sanusi tetap terus berdakwah menyebarluaskan ilmunya dengan giat dan istiqomah, sehingga seluruh masjid yang ada di Batavia masa itu sempat dikunjungi dan bertabligh.

Beliau terkenal dengan julukan Ajengan Batawi.

Karena perjuangannya menentang pemerintah kolonial Belanda itu, Ajengan Sanusi ditangkap dan menjadi tahanan politik di Batavia. Namun selalu saja ada hikmah terpendam di balik semua kejadian yang dilalui Ajengan Sanusi.

Selama masa penahanan itu, Ajengan Sanusi menulis banyak buku dan membentuk suatu organisasi keagamaan yang sekaligus menjadi wadah perjuangan ummat dalam merebut kemerdekaan, yaitu al-Ittihadiat al-Islamiyah pada tahun 1931.

Pada saat ia kembali ke Sukabumi, ia terus melanjutkan perjuangan organisasinya sambil menangani lembaga pendidikan Syams al-‘Ulum yang lebih dikenal dengan Pesantren Gunung Puyuh yang masih berjalan sampai sekarang.

Selain itu Ahmad Sanusi juga menerbitkan majalah al-Hidayah al-Islamiyah (Petunjuk Islam) dan majalah at-Tabligh al-Islami (Dakwah Islam) sebagai bahan bacaan dalam rangka da’wah bi al-lisan (dakwah yang disampaikan secara lisan).

Sebagai ulama ahli tafsir dan fikih, beliau telah menghasilkan banyak karya. Di antara karya-karyanya di bidang tafsir, fikih, tasawuf dan kalam antara lain:

 

Bidang tafsir :

  • Kanzur ar-Rahmah wa Luth fi Tafsir Surah al-Kahfi
  • Tajrij Qulub al-Mu’minin fi Tafsir Surah Yasin
  • Kasyf as-Sa’adah fi Tafsir Surah Waqi’ah
  • Hidayah Qulub as Shibyan fi Fadlail Surah Tabarak al-Mulk min al-Qur’an
  • Kasyf adz-Dzunnun fi Tafsir Layamassuhu ilaa al-Muthahharun
  • Tafsir Surah al-Falaq
  • Tafsir Surah an-Nas
  • Raudhlatul Irfan fi Ma’rifat Al-Qur’an
  • Maljau at-Thalibin
  • Tamsyiyatul Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-‘Alamin
  • Ushul al-Islam fi Tafsir Kalam al-Muluk al-Alam fi Tafsir Surah al-Fatihah

 

Bidang fikih :

  • Tahdzir al-‘Awam fi Mufiariyat Cahaya Islam
  • Al-Mufhamat fi Daf’I al-Khayalat
  • At-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith
  • Tarjamah Fiqh al-Akbar as-Syafi’i
  • Al-Jauhar al-Mardliyah fi Mukhtar al-Furu as-Syafi’iyah
  • Nurul Yaqin fi Mahwi Madzhab al-Li’ayn wa al-Mutanabbi’in wa al-Mubtadi’in
  • Tasyfif al-Auham fi ar-Radd’an at-Thaqham

 

Bidang tasawuf :

  • Mathla’ul al-Anwar fi Fadhilah al-Istighfar
  • Al-Tamsyiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah
  • Fakh al-Albab fi Manaqib Quthub al-Aqthab
  • Siraj al-Adzkiya fi Tarjamah al-Azkiya
  • Al-Audiyah as-Syafi’iyah fi Bayan Shalat al-Hajah wa al-Istikharah
  • Siraj al-Afkar
  • Dalil as-Sairin
  • Jauhar al-Bahiyah fi Adab al-Mar’ah al-Mutazawwiyah

 

Bidang kalam :

  • Miftah al-Jannah fi Bayan ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah
  • Tauhid al-Muslimin wa ‘Aqaid al-Mu’minin
  • Alu’lu an-Nadhid
  • Al-Mufid fi Bayan ‘ilm al-Tauhid
  • Siraj al-Wahaj fi al-Isra wa al-Mi’raj
  • Al-‘Uhud wa al-Hudud
  • Bahr al-Midad fi Tarjamah Ayyuha al-Walad
  • Haliyat al-‘Aql wa al-Fikr fi Bayan Muqtadiyat as-Syirk wa al-Fikr
  • Thariq as-Sa’adah fi al-Farq al-Islamiyah
  • Maj’ma al-Fawaid fi Qawaid al-‘Aqaid
  • Tanwir ad-Dzalam fi Farq al-Islam

 

Karya yang paling menonjol adalah Raudhatul Irfan, berisi terjemah Al-Quran 30 juz dalam bahsa Sunda, dengan terjemah kata- per- kata dan syarah (tafsir penjelasan) singkat.

Tafsir ini telah dicetak ulang berpuluh kali dan sampai sekarang masih digunakan di Majelis-majelis Ta’lim di Jawa Barat.

Karya monumental lainnya adalah serial Tamsyiyyatul Muslimin, tafsir Al-Quran dalam bahasa Melayu /Indonesia.

Setiap ayat-ayat al-Quran disamping ditulis dalam huruf Arab juga ditulis (transliterasi) dalam huruf Latin.

Melalui pemahaman ummat Islam terhadap Al-Quran, serial tafsir itu sarat dengan pesan-pesan tentang pentingnya harga diri, persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan di kalangan ummat.

 

Ahmad Sanusi sebagai Mufassir

KH. Ahmad Sanusi banyak terlibat dalam dunia pendidikan dan menulis buku sebanyak 126 buah yang meliputi berbagai bidang agama, yang ditulis baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia.

Sosok ulama ini dipenuhi aktifitas sosial keagamaan plus mewariskan karya yang sangat berharga.

Beliau adalah salah satu dari ulama-ulama Jawa Barat yang produktif menelorkan kitab-kitab berbahasa Sunda yang berisi tentang ajaran agama Islam.

Dua yang lainnya, adalah Rd. Ma’mun Nawawi bin Rd. Anwar yang menulis berbagai risalah singkat. Begitu juga ulama sekaligusi penyair terkenal, ‘Abdullah bin Nuh dari Bogor yang menulis karya-karya penting tentang ajaran-ajaran sufi, yang didasarkan atas pandangan al-Ghazâli.

Kitab Raudhatu al-‘Irfân fi ma’rifati al-Qur’ân bisa dikatakan sebagai starting point di tengah tradisi tulis-baca di dunia pesantren saat itu yang belum cekatan dalam menelorkan karya tafsir yang utuh.

 

Model Tafsir Sunda

Kitab ini terdiri dari dua jilid, jilid pertama berisi juz 1-15 dan jilid kedua berisi juz 16-30. Dengan mempergunakan tulisan Arab dan bacaan Sunda, ditambah keterangan di samping kiri dan kanan setiap lembarnya sebagai penjelasan tiap-tiap ayat yang telah diterjemahkan.

Model penyuguhan tersebut, bukan saja membedakannya dari tafsir yang biasa digunakan di pesantren dan atau masyarakat umumnya, melainkan berpengaruh banyak pada daya serap para peserta pengajian.

Tulisan ayat yang langsung dilengkapi terjemahan di bawahnya dengan tulisan miring akan membuat pembaca langsung bisa mengingat arti tiap ayat. Kemudian, bisa melihat kesimpulan yang tertera pada sebelah kiri dan kanan setiap lembarnya.

Keterangan yang ada di bagian kiri-kanan di setiap lembarnya, berisi kesimpulan dari ayat yang tertulis di sebelahnya dan penjelasan tentang waktu turunnya ayat (asbâb an-nuzûl), jumlah ayat, serta huruf-hurufnya.

Kemudian, disisipi dengan masalah tauhid yang cenderung beraliran ‘Asy’ari dan masalah fikih yang mengikuti madzhab Syafi’i. Kedua madzhab dalam Islam itu memang dianut oleh kebanyakan masyarakat muslim di wilayah Jawa Barat.

Dari sini terlihat bagaimana KH. Ahmad Sanusi mempunyai strategi tersendiri dalam menyuguhkan ayat-ayat teologi dan hukum yang erat kaitannya dengan paham masyarakat pada umumnya.

Bacaan atas teks-teks tafsir Arab yang ada di lingkungannya telah menginspirasikan KH. Ahmad Sanusi untuk membuat sebuah karya yang sampai sekarang layak dijadikan contoh oleh para pengkaji tafsir, khususnya yang berbahasa Sunda.

Karena tafsir adalah nalar kita atas kitab suci yang dibentuk oleh lokus budaya dan bahasa yang terus bergerak. Intelektual muslim Sunda sedianya melanjutkan estafet KH. Ahmad Sanusi, sehingga Al-Quran akan sesuai dengan perubahan ruang dan waktu (shâlihun li kulli zamân al makân).

 

PUI (Persatuan Umat Islam)

Karena dianggap merongrong kewibawaan pemerintah kolonial, Al-Ittihadiat al-Islamiyah akhirnya dibubarkan oleh penguasa Jepang. Namun Ajengan Sanusi terus melakukan konsolidasi dan mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).

Organisasi ini kemudian makin berkembang dan cukup disegani oleh Jepang. Ajengan Sanusi kemudian mewakili PUI dalam Masyumi.

Pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1943 beliau diangkat sebagai penasihat pemerintah Keresidenan Daerah Bogor (Giin Bogor Shu Sangi Kai).

 Di Keresidenan Bogor (Bogor Syu), Ahmad Sanusi salah seorang yang membidani lahirnya Tentara PETA (Pembela Tanah Air), BKR (Badan Keamanan Rakyat), KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah), juga ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar AII (POII atau PUII).

Juga organisasi underbouw AII, seperti BII, Zaenabiyyah, IMI, pendiri GUPPI (Gabungan Usaha-usaha Perbaikan Pendidikan Islam), dll.

Tahun 1944 beliau diangkat sebagai Wakil Residen Bogor (Fuku Syucokan). Selanjutnya ditunjuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia.

Sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dibentuk segera setelah Proklamasi 17-8-1945, maka KH. Ahmad Sanusi ikut bersama Republik Indonesia hijrah ke Yogya.

Pada hari Ahad malam senin tanggal 15 Syawal 1369 H bertepatan dengan tanggal 31 Juli 1950 M sekitar pukul 21.00 WIB, Ahmad Sanusi dalam usia 63 tahun berdasarkan hitungan kalender Hijriyyah atau 61 tahun, 10 bulan dan 22 hari menurut hitungan kalender Masehi, dipanggil dengan tenang oleh sang pecipta untuk kembali keharibaannya

Pemerintah Indonesia mengakui jasa-jasanya sebagai salah seorang perintis Kemerdekaan Republik Indonesia. Presiden Soeharto menganugerahi penghargaan Bintang Maha Putera Utama pada tanggal 12 Agustus 1992.

Serta Presiden Susilo Bambang Yudoyono menganugerahi Bintang Maha Putera Adipradana pada tanggal 10 November 2009

 

Anggota BPUPKI

Sampai menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, Ajengan Sanusi tercatat sebagai anggota panitia Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPIPKI).

 

Penutup

Abraham Lincoln, presiden ke 16 AS yang membawa keluar bangsa Amerika dari Perang Saudara, mempertahankan persatuan bangsa, dan menghapuskan perbudakan berkata: “one cannot escape history”, orang tak dapat meninggalkan sejarah.

Bersama TNI , Polri dan organisasi pemerintahan selain selalu melaksanakan pewarisan nilai-nilai di atas, maka membentuk lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak dan generasi muda umumnya adalah mutlak.

Melindungi mereka dari serbuan besar-besaran benda berbahaya Napza, juga berupaya sekeras mungkin membentengi anak-anak gadis dari penjualan wanita (woman traficking).

 

Jazakumullah khairan katsiran.

Wassalam, Cag.

 

Sumber : dikutip dari tulisan Munandi Shaleh dalam Topic berita.blog dan lainnya

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s