Oto Iskandardinata (Tokoh Pergerakan Nasional dan Paguyuban Pasundan)

Oleh : Linda Sunarti

“Seperti orang beriman percaya akan adanya Allah, begitulah juga saya percaya akan datangnya kemerdekaan bagi semua negara terjajah, juga bagi Indonesia. Dengan  sendirinya jika kebebasan itu dicapai Indonesia dengan kekerasan maka perpisahan antara negeri Belanda dan Indonesia akan seperti musuh. Perusahaan-perusahaan dan hak milik orang Belanda di sini akan dirampas. Perdagangan Belanda akan dilarang atau dipersulit. Memperoleh kemerdekaan dengan atau tanpa kekerasan seperti dikatakan, akan tidak sedikit bergantung kepada negara Belanda sendiri. Akan tetapi, saya percaya Tuan Ketua, bahwa bangsa Tuan  yang dikenal sebagai bangsa tenang berpikir akan tahu memilih antara dua kemungkinan ini mengundurkan diri atau diusir”.

Salah satu Pidato Oto Iskandardinata di Volksraad, yang membuktikan keberaniannya yang suka berbicara terus terang dan apa adanya.

Oto Iskandardinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, kecamatan Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung. Oto adalah putra seorang bangsawan Sunda bernama Nataatmadja, dalam keluarga tersebut Oto merupakan anak ketiga dari sembilan  orang saudara.

Pada jamannya ayah Oto adalah seorang yang berpikiran maju, terbukti dengan sadar telah menyekolahkan anak-anaknya. Oto sendiri memasuki Holland Inlandsche School (HIS), setingkat SD sekarang, di Bandung.

Kepribadian Oto sejak kecil menunjukkan karakteristik sebagai anak yang nakal tetapi jujur dan berterusterang. Berani menyatakan secara spontan mana yang benar dan mana yang salah. Olah raga adalah hobinya, salah satunya sepakbola. Bahkan hobi sepakbola ditekuninya sampai dewasa, hal itu dibuktikannya dengan menjadi ketua umum Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (Persib).

Selesai menamatkan HIS, Oto melanjutkan ke Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) di Bandung. Sekolah ini biasa disebut sebagai Sakola Raja (Sekolah Raja) karena didirikan bertalian dengan lahirnya Ratu Wihelmina. Setiap murid Sekolah Guru diharuskan masuk asrama untuk memudahkan pengawasan dari guru-gurnya.

Dalam asrama tersebut  Oto Iskandardinata dianggap sebagai anak yang nakal, sehingga ia sering mendapat hukuman dari pimpinan asrama bahkan seringkali dilarang ke luar kamar. Hal ini dapat dimengerti karena pimpinan asrama dan guru-guru Oto pada saat itu menginginkan anak-anak Indonesia yang patuh, menurut kepada perintah dan keinginan mereka, maka sikap Oto sebagai anak yang mempunyai inisiatif dan kreatif dianggap sebagai anak yang nakal.

Setelah menyelesaikan Kweekscholl Onderbouw, Oto kemudian melanjutkan sekolahnya di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Di sekolah inilah Oto tumbuh sebagai seorang anak dewasa yang mulai gemar membaca.

Bacaannya adalah  buku dan surat kabar yang berbau politik. Surat kabar De Express yang dipimpin Dr. Dewes Dekker (Dr. Setiabudi)  yang isinya seringkali mengecam pemerintah Hindia Belanda adalah suratkabar kesukaan Oto. Semua murid Sekolah Guru Atas sebenarnya dilarang membaca surat kabar tersebut, akan tetapi Oto sering menyembunyikan surat kabar tersebut di bawah bantalnya, dan membacanya secara sembunyi-sembunyi.

Dari kegemarannya membaca mengakibatkan jiwa Oto tumbuh menjadi lebih matang dan mulai tertarik pada masalah kemasyarakatan, kebangsaan dan  perjuangan bangsa.

Setelah menyelesaikan sekolahnya Oto kemudian menjadi guru HIS di Banjarnegara dan menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, karena ia sadar bahwa dengan pendidikanlah bangsanya dapat menjadi bangsa yang berilmu dan mengerti tugas serta tanggungjawab terhadap tanah air.

Pada bulan Juli 1920 Oto kemudian  dipindahkan ke Bandung. Di Bandung Oto mengajar di HIS bersubsidi  dan perkumpulan Perguruan Rakyat. Di Bandung pula Oto mulai aktif dalam pergerakkan politik. Kariernya dalam bidang politik  dimulai dengan menjabat wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung.

Pada Agustus 1924  Oto dipindahkan ke Pekalongan Jawa Tengah, di tempat ini pun Oto tetap berkarier dalam bidang politik. Oto menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang  Pekalongan  merangkap sebagai Komisaris Hoofdbestuur Budi Utomo.

Berdirinya Paguyuban Pasundan  merupakan suatu manifestasi dari kelahiran kembali pribadi pemuda-pemuda Sunda dan orang-orang Sunda pada umumnya. Tujuan semula organisasi ini untuk memajukan kehidupan orang-orang Sunda khususnya dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.

Oto masuk menjadi anggota Paguyuban Pasundan cabang Jakarta dan langsung menjadi Sekretaris Pengurus Besar organisasi tersebut pada tahun  1928, hal itu terjadi ketika Oto pindah ke Jakarta dan menjadi guru HIS Muhammadiyah.

Pada Desember 1929 dalam suatu pemilihan pengurus pusat Paguyuban Pasundan di Bandung Oto terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan. Jabatan tersebut dipegangnya sampai tahun 1945.

Pada masa kepemimpinan Oto, Paguyuban Pasundan mengalami kemajuan pesat di bidang politik, ekonomi, sosial, pers, dan  pendidikan. Bermula dari gerakan kebudayaan, Paguyuban Pasundan kemudian  menyelami juga pergerakan politik.

Paguyuban Pasundan  berdiri di atas dasar keyakinan bahwa bangsa Indonesia pasti merdeka. Paguyuban Pasundan  menitikberatkan perjuangannya di Volksraad (Dewan Rakyat). Pada tahun 1921-1924 Oto tercatat sebagai salah satu anggota  Volksraad yang vokal.

Atas dasar keyakinan politik Oto, pada akhir tahun 1939 Paguyuban Pasundan masuk dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Dalam kongresnya yang ke-25, Paguyuban Pasundan menyatakan mengakui  bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu kebangsaan Indonesia, meminta kepada pemerintah mengadakan upah minimum, mendirikan komisi istimewa untuk menyelidiki kehidupan di tanah partikelir, dan menyokong aksi Indonesia Berparlemen.

            Di bidang pendidikkan, Paguyugan Pasundan sadar untuk memajukan rakyat Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya melalui pendidikan. Oleh karena sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial sangat sedikit, maka Paguyuban Pasundan kemudian membentuk sebuah badan Bale Pamulangan Pasundan.

Tugas badan ini khusus untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang pendidikkan dan pengajaran. Dalam masa kepengurusan Oto di seluruh Jawa Barat terdapat kurang lebih 48 sekolah yang telah didirikan Paguyuban Pasundan.

            Di bidang ekonomi, Paguyuban Pasundan mendirikan Bale Ekonomi Pasundan (BEP). Badan ini bertugas menyelenggarakan dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan ekonomi rakyat. Tujuannya memperkuat kehidupan orang Sunda dan orang Indonesia  pada umumnya. BEP mendirikan  bank-bank kecil atas dasar kerakyatan, mendirikan koperasi petani, dan perkumpulan-perkumpulan koperasi dagang.

            Di bidang sosial, Paguyuban Pasundan mendirikan Centrale Advies Bureau. Badan ini bertugas memberi penerangan dan petunjuk mengenai hukum kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan tanpa meng-harapkan adanya imbalan.

            Dalam bidang Penerangan Umum, Paguyuban Pasundan menerbitkan surat kabar berbahasa Sunda yaitu Sipatahunan dan surat kabar berbahasa Melayu yaitu Sepakat. Sampai pertengahan tahun 1980-an surat kabar Sipatahunan tetap terbit.

            Sejak 15 Juni 1931, Oto menjadi anggota Volksraad sebagai wakil dari Paguyuban Pasundan. Jabatan ini  dipegangnya sampai tahun 1942, tahun ketika Jepang mulai berkuasa di Indoenesia. Oto menjadi anggota Volksraad secara berturut-turut dalam tiga periode, yaitu periode kelima (1931-1934), periode keenam (1935-1938) dan periode ketujuh  (1938-1942).

Sebagai anggota Volksraad Oto bergabung dengan Fraksi Nasional yang didirikan atas gagasan Husni Thamrin.  Suara Fraksi Nasional dalam Volksraad sangat radikal. Oto yang tergabung dalam Fraksi Nasional dikenal dengan sebutan Si Jalak Harupat, yang dalam perumpamaan bahasa Sunda mengandung arti lincah dan tajam lidahnya seperti burung jalak.

Keberanian dan kejujuran selalu mewarnai ucapan-ucapan Oto. Dalam suatu kesempatan dalam suatu sidang di dalam Volksraad Oto pernah mengemukakan:

“Seperti orang beriman percaya akan adanya Allah, begitulah juga saya percaya akan datangnya kemerdekaan bagi semua negara terjajah, juga bagi Indonesia. Dengan  sendirinya jika kebebasan itu dicapai Indonesia dengan kekerasan maka perpisahan antara negeri Belanda dan Indonesia akan seperti musuh. Perusahaan-perusahaan dan hak milik orang Belanda di sini akan dirampas. Perdagangan Belanda akan dilarang atau dipersulit. Memperoleh kemerdekaan dengan atau tanpa kekerasan seperti dikatakan, akan tidak sedikit bergantung kepada negara Belanda sendiri. Akan tetapi, saya percaya Tuan Ketua, bahwa bangsa Tuan  yang dikenal sebagai bangsa tenang berpikir akan tahu memilih antara dua kemungkinan ini mengundurkan diri atau diusir”.

Menurut Oto hasrat untuk menjadi bebas itu sudah menjadi sifat dasar manusia.  Oleh karena itu, bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah selalu berjuang untuk mencapai kemerdekaannya. Dalam suatu sidang Volksraad lainnya Oto menyatakan:

“Saya kira, Tuan Ketua tak usah diberi petunjuk lagi tentang keadaan alam yang penuh dengan contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa hasrat untuk bebas itu sudah menjadi sifat. Cobalah lihat, hewan biarpun diikat atau dikurung, tetapi mereka tetap mencoba akan melepaskan diri. Sejarah tiap negara cukup memberi pelajaran bahwa setiap bangsa yang dijajah mengorbankan segala sesuatu untuk meningkatkan derajat bangsa dan tanah airnya yang dalam keadaan dihina”.

Oleh karena keberaniannya dalam sidang-sidang Volksraad, Oto dikenal pula dengan julukkan seorang non koperator di tengah-tengah koperator. Artinya, bergabung dengan Volksraad adalah suatu tindakan yang dianggap sebagai koperator pada saat itu.

Akan tetapi,  pidato-pidato yang diucapkan Oto di dalam Volksraad ternyata lebih mencerminkan sikap seorang non-koperator terhadap penjajahan. Peranan Oto, Husni Thamrin, Sukardjo Wiryoparnoto dan anggota Fraksi Nasional lainnya sangat menonjol dalam pergerakan nasional. Hal itu disebabkan pergerakkan di luar Volksraad sedang mengalami tekanan hebat dari Pemerintah Hindia Belanda.

Cita-cita kemerdekaan Indonesia semakin menjadi-menjadi bagi Oto dan anggota Paguyuban Pasundan, hal itu terlihat dalam tanggapan Oto untuk bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan Partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)  pada  1927.

Bergabungnya Oto beserta organisasi Paguyuban Pasundan  dikarenakan cita-cita PPKI sejalan dengan kehendak Oto yaitu mencapai Indonesia Merdeka. Dalam hal ini Oto mengatakan bahwa demi persatuan bangsa yang akan menghadapi kemerdekaan seperti Indonesia, pihak yang berpendirian federalisme sekalipun sebagian besar akan meninggalkan fahamnya, bersatu dengan penganut unitarisme untuk memperoleh kemerdekaan di bawah naungan Negara Persatuan.

Ketika Jepang  menduduki Indonesia, semua partai politik dilarang. Hal itu tidak terkecuali bagi Paguyuban Pasundan beserta anak-anak organisasinya. Sehubungan dengan hal itu untuk menyelamatkan kekayaan Paguyuban Pasundan, Oto Iskandardinata kemudian mendirikan suatu Badan Usaha Pasundan yang diketuai oleh Sanusi Hardjadinata.

Pada masa Jepang berkuasa kaum pergerakkan pada umumnya melanjutkan perjuangannya dalam bentuk lain, yaitu menempuh jalan bekerjasama dengan pihak Jepang dengan harapan  akan menyelamatkan dan melanjutkan perjuangan mereka. Di pihak lain, Jepang pun merasa perlu bekerjasama dengan kaum pergerakkan karena menganggap pengaruh kaum pergerakkan sangat besar di kalangan rakyat. Jepang kemudian membentuk suatu birokrasi pemerintahan untuk memperkokoh  keduduk-kannya di Indonesia.

Beberapa tokoh bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk menduduki jabatan tinggi. Mula-mula Oto diangkat sebagai pegawai Gunsei (Pemerintah Militer). Kemudian Oto diberi tugas untuk menjadi pemimpin surat kabar Cahaya di Bandung menggantikan Sipatahunan yang dilarang terbit oleh Jepang.

Ketika Jawa Hokokai  (Perhimpunan Kebaktian Jawa) dibentuk, Oto ikut menjadi anggota organisasi ini. Jawa Hokokai dibentuk untuk menggantikan kedudukan Poetera yang tidak mendapat dukungan masyarakat. Jawa Hokokai dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah.

Pimpinan tertinggi langsung di bawah Kepala Pemerintahan Militer. Pada 14 September 1944 dibentuk Barisan Pelopor  (Suisyintai) yang merupakan anak cabang Jawa Hokokai atau Jawa Hokokai Bagian Pemuda.

Pengurus  Barisan Pelopor  antara lain terdiri dari Ir Sukarno sebagai ketua, R.P. Suroso, R. Oto Iskandardinata, dan  Dr. Buntaran  Martoatmojo sebagai wakilnya. Organisasi ini sebenarnya merupakan pembinaan kader dan masa aksi. Tugas ketua dan wakil ketua Barisan Pelopor adalah memberikan ceramah-ceramah  politik.

Sebelum Barisan  Pelopor  dibentuk,  Jepang juga telah memberikan latihan militer pada pemuda-pemuda Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan Indonesia. Antara lain memberikan kesempatan pada pemuda Indonesia untuk menjadi Heiho (pembantu prajurit). Pada 3 Oktober 1943 dibentuk PETA (Pembela Tanah Air).  Oto, bersama Gatot Mangkupraja, Iyos Diding, dan Ibnu Hasyim membentuk pasukan PETA Jawa Barat dengan tempat latihan di Bogor.

Dalam hal pendirian PETA di Jawa Barat, Oto memiliki pandangan politik jauh ke depan. Ia sadar bahwa Indonesia memerlukan pemuda yang kuat dan terlatih secara fisik. Untuk itu, Oto menganjurkan anaknya yang pertama yaitu Sentot, untuk ikut dalam pendidikan PETA tersebut.  Sentot sendiri sebenarnya tidak tidak berminat untuk menjadi tentara dan berniat untuk masuk Sekolah Tinggi Tekhnik Bandung.

Akan tetapi, Oto selalu menegaskan kepada puteranya bahwa negara nomor satu baru keluarga hingga Sentot akhirnya masuk PETA. Sentot sendiri akhirnya menyadari bahwa cita-cita luhur ayahnya jauh menjangkau ke depan. Kemerdekaan tidak akan didapat tanpa pengorbanan pemuda yang penuh kemauan dan kemampuan yang harus dapat mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Jepang semakin terjepit, Perdana Menteri Koiso mengumumkan pendirian pemerintah Jepang bahwa Indonesia dijanjikan kemerdekaan di kemudian hari. Pemerintahan Jepang di Indonesia kemudian membentuk Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Jumbi Cosakai).

Tugas badan tersebut  mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang penting yang berhubungan dengan segi-segi politik, ekonomi, tata pemerintahan dan lain-lain yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka. Oto Iskandardinata adalah anggota dari Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan ini.

Pada 7 Agustus 1945 Jepang mengumumkan  dibentuknya  Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Oto pun  tergabung dalam badan ini. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang pertama. Pada sidang tersebut diputuskan beberapa hal penting menyangkut landasan  politik bagi Indonesia yang merdeka dan ketatanegaraan.

Sumbangan Oto dalam sidang PPKI tersebut adalah  usulnya tentang pemilihan Presiden dan wakilnya, usul tersebut disetujui secara bulat oleh  peserta sidang. Oto kemudian ditunjuk menjadi ketua panitia kecil untuk membuat  rancangan tentang urusan  rakyat, pemerintah daerah, kepolisian dan ketentaraan.

Pada jaman kemerdekaan Oto Iskandardinata merupakan orang pertama yang menjabat sebagai Menteri  Urusan Keamanan. Pada saat Oto menjabat Menteri Urusan Keamanan, timbul masalah  yaitu bekas Daidanco dan Codanco yang bertekad  mempertahankan kemerdekaan kekurangan senjata.

Kemudian muncul   badan-badan perjuangan  seperti  Hisbullah dan Sabillilah, Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia, dan Pemuda Republik Indonesia yang juga menuntut diberikan senjata.

Menanggapi hal tersebut, Oto kemudian mengadakan pembicaraan dengan pihak Jepang. Kedudukan Jepang pada saat itu dalam posisi sulit, apabila menyerahkan senjata maka pihak Jepang akan disalahkan sekutu. Sedangkan pada pihak lain Jepang melihat bahwa tuntutan rakyat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan juga mengancam Jepang.

Pihak Indonesia tidak sanggup memaksa Jepang  untuk menyerahkan senjatanya secara damai.  Hasil pembicaraan pemerintah dan pihak Jepang  tidak memuaskan kalangan pemuda. Mereka menuduh para pemimpin Indonesia  yang terlibat dalam pembicaraan dengan pihak Jepang sebagai penyebab terjadinya  penculikkan terhadap beberapa pemimpin pemerintahan.

Oto Iskandardinata pun  menjadi korban penculikan itu. Oto hilang penuh misteri  pada Oktober 1945 dan baru pada Desember 1945 terdengar berita bahwa dia telah dibunuh di pantai Mauk, Banten Selatan. Jenazah Oto tidak berhasil diketemukan sampai sekarang, demikian pula penyebab kematiannya masih belum dapat diungkapkan secara pasti. 

Muncul beberapa pendapat mengenai kematian Oto Iskandardinata, pertama, peristiwa yang menimpa Oto terjadi pula terhadap beberapa pemimpin pemerintahan di Jawa Barat yang dianggap berpihak pada Jepang.  Pendapat kedua, kemungkinan Oto dibunuh oleh sesorang atau golongan yang dendam karena langkah dan ucapan Oto yang tegas tanpa tedeng aling-aling.

Linda Sunarti, Dosen Departemen Sejarah

Daftar Pustaka

Notosutanto, Nugroho. Et al. 1977. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid V. Balai Pustaka.

Safwan, Mardanah. Et al. 1975.  Riwayat Hidup dan Perjuangan  R. Oto Iskandar di Nata. Lembaga Sejarah dan Antropologi.

Saleh, Iyan Tiarsah. 1975. Sekitar Lahir dan Perkembangan Pagoeyoeban Pasoendan  (1914-1942). Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Padjadjaran. Bandung

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s