Phinisi Nusantara

Phinisi memberikan bukti akan ketinggian ilmu kemaritiman Bugis-Makassar. Walau tidak memiliki design dalam bentuk gambar konstruksi sebagaimana layaknya para insinyur membuat perencanaan dalam memulai pekerjaan pembangunan kapal.

Tapi dengan menggunakan teknik pengukuran yang sederhana bisa diciptakan keseimbangan kiri dan kanan dari papan yang disusun dengan cara alamiah.

Phinisi sesungguhnya pernah merajai segala bentuk transportasi laut di nusantara. Pada masa kerajaan Sawerigading dan Kesultanan Gowa telah menjadikan phinisi sebagai transportasi dalam perdagangan termasuk digunakan dalam armada angkatan laut.

Suatu sejarah mungkin saja hanya tersisa dalam tulisan dan artefak yang hanya bisa dinikmati dalam bentuk informasi dan pengetahuan. Tetapi bila phinisi tentu saja berbeda karena sejarah itu masih hidup dan bergerak hingga saat ini.

Kehebatan Phinisi terbukti ketika mengikuti ekspedisi pelayaran ke Vancouver – Kanada. Pada tahun 1986 sebuah perhelatan akbar digelar dalam rangka pameran transportasi dunia yang juga diikuti oleh Indonesia.

Phinisi saat itu diwakili oleh Phinisi Nusantara untuk membuktikan kesaktian melayari samudera pasifik selama kurang lebih 67 hari. Sebuah pelayaran yang sangat bersejarah bagi para pelaut. Padahal Phinisi yang hanya terbuat dari kayu dengan kemampuan angkut 150 ton sangat dikhawatirkan untuk dapat melewati samudera yang ketinggian gelombangnya 4 – 7 meter, sementara ketinggian badan kapal hanya sekitar 4 meter.

Meskipun saat itu phinisi nusantara diperlengkapi dengan cadangan mesin dan alat komunikasi yang canggih tetapi yang digunakan sebagai alat navigasi adalah dengan menggunakan layar sebagaimana yang digunakan oleh sarana transportasi masa lalu.

Awak kapal yang mengikuti ekspedisi phinisi nusantara tersebut merupakan gabungan awak kapal yang memiliki pengetahuan formal dalam bidang pelayaran dan awak kapal yang ditempa dari pengalaman berpuluh-tahun dan memperoleh ilmu secara turun temurun.

Capt. Gita Arjakusuma yang mantan awak Kapal Dewa Ruci sebagai nahkoda Phinisi Nusantara bersanding dengan Daeng Mappa sebagai wakil nakhoda yang merupakan pelaut ulung dari Tanahberu, Bulukumba.

Sang Nakhoda

Capt. Gita Arjakusuma adalah pelaut Indonesia yang berhasil melayarkan kapal tradisional Phinisi Nusantara dari Indonesia ke pantai barat Amerika sejauh 11.000 mil selama 67 hari. Tekadnya menghadapi gelombang dan menerjang badai, sungguh luar biasa. Hingga ia berhasil mendaratkan Phinisi dengan selamat dan turut mengharumkan nama dan bangsa Indonesia di pameran internasional Vancouver Expo 1986.

Gita sebenarnya ‘anak gunung’ yang dibesarkan di tanah Priangan, Jawa Barat. Bersama para pelaut Bugis- Makassar, kembali membuktikan kepada dunia kalau nenek moyang kita memang orang pelaut!

Kisah Pelayaran Legendaris Phinisi Nusantara

Mission Impossible!

Saya ikuti proyek phinisi Nusantara sejak awal. Pada akhirnya, Panitia membutuhkan seorang Nakhoda di atas kapal itu. Kemudian saya mengontak Laksamana Urip Santoso, ketua Harian Ekspedisi Phinisi Nusantara. Kepadanya saya katakan, bila diperlukan seorang nakhoda untuk pelayaran ini, saya siap membantu proyek ini.

Cerita itu, akhirnya sampai kepada Laksamana Sudomo. Setelah mendengar nama saya, beliau teringat pada proyek pelayaran Java Doll, pada tahun 1972. Laksamana Sudomo ketika itu diminta bantuan oleh Kol. Jerry Mitchell, Atase Angkatan Laut Amerika, untuk membawa perahu kecil dari KeeLung, Taiwan ke Jakarta, yang kemudian saya bersama John Gunawan dan Serma Abrar Buhari menyanggupi permintaan itu. Pelayaran Java Doll berakhir dengan sukses. Jadi, begitu mendengar saya mengajukan diri, dengan serta merta Pak Domo menyetujui dan mengirimkan surat ke pihak pimpinan Andhika Lines untuk meminjam saya, sebagai nakhoda dalam proyek Phinisi Nusantara.

Memang kami dengar bahwa sebetulnya, Kepala Staf Angkatan Laut pada waktu itu, menghendaki nakhoda yang membawa kapal itu adalah dari kalangan perwira Angkatan Laut. Namun ternyata, setelah beberapa perwira Angkatan Laut diuji coba kemampuannya, Pak Domo tetap memilih saya.

Setelah mendapat izin dari perusahaan, kemudian secara resmi saya terlibat sepenuhnya dalam proyek Phinisi Nusantara. Dan proses pembuatan kapal itu, saya ikuti dari awal.

Kalau melihat kapal yang saat itu sudah 90 persen selesai dikerjakan, siapa yang tidak akan gentar melihat kondisi kapal itu? Sekali pandang saja, orang bisa mengatakan bahwa kapal itu memang tidak layak laut. Kapal dibuat dengan sangat sederhana. Dibuat secara tradisional, tanpa gambar oleh pengarajin-pengrajin di Tanah Beru.

Namun dengan tekad yang kuat – apa pun yang akan terjadi – saya bersumpah akan melayarkan kapal ini. Saya pun pergi ke galangan kapal IKI di Ujung Pandang (sekarang Makassar) dan mulai menyusun para calon ABK lainnya.

Terpikir dalam benak saya, demi keberhasilan pelayaran ini, harus dibentuk tim yang kompak, yang mempunyai keahlian di bidangnya masing-masing. Jadi, tentunya kapal ini, tidak harus diawaki semuanya oleh pelaut-pelaut Bugis-Makassar. Karena pelayaran mengarungi lautan sejauh lebih dari 10.000 mil ke benua Amerika, kapal ini dilengkapi peralatan tambahan yang sangat kompleks.

Phinisi Nusantara dilengkapi peralatan yang canggih seperti: peralatan pemantau cuaca Radio Weather Faximile, Radar JRC/JMA-300 radius 24 NM, Gyro Compass/Tokyo Keiki, Satelite Navigator JRC, peralatan komunikasi Inmarsat (International Maritime Satelite) JRC JUW, Radio SSB (Side Single Band) Inti, Radio VHF (Very High Frequency) dan Radio FM Tranceiver JHV 212.

Dalam menentukan masalah layar dan bahari, memang orang-orang Bugis lah yang paling menguasai. Mereka sangat ahli dan sangat berani untuk melayarkan kapal itu. Namun keahlian alamiah itu, harus dipadu dengan awak yang terampil dan mampu mengoperasikan peralatan modern. Untuk itu, kami merekrut orang-orang mesin dari Andhika Lines, sehingga akhirnya terkumpul lah satu tim yang kompak.

Para ABK yang berasal dari pelaut tradisional Bugis-Makassar, terdiri dari; Muhammad Hatta, Rusli, Mappagau, Muhammad Hasan, dan Abdullah. Sementara pelaut modern adalah Hasyim (ahli komunikasi), Atok Issoluchi (ahli mesin), Amrillah Hasan (ahli listrik), Roy Rusdiman (juru masak), juga direkrut Pius Caro (wartawan Kompas), yang medianya menjadi salah satu sponsor kegiatan ini.

Hambatan selama pelayaran memang tidak sedikit. Dalam pelayaran uji coba Makassar-Jakarta, namanya saja uji coba, kapal ini mengalami beberapa kerusakan yang cukup mencemaskan. Pondasi generator, tiba-tiba retak. Karena rusak, kerja generator terganggu bahkan tidak berfungsi maka aliran listrik ke pompa-pompa penguras tidak bekerja. Kejadian itu membawa hikmah dengan mengharuskan dipasangkannya paling sedikit dua generator dan dua pompa listrik-mekanis independen untuk fungsi pengurasan dan pemadam kebakaran.

Saya berpendapat, anggota tim mesin perlu ditambah satu orang lagi, yang sangat ahli menangani peralatan mesin merk Lyster yang dipasok oleh PP. Berdikari. Maka, ketika kami singgah di Jakarta, direkrut Amrillah, seorang ahli mesin dari Lyster. Selanjutnya, permasalahan-permasalahan mengenai mesin; motor bantu Genset, peralatan pompa, bisa dioperasikan dengan baik.

Dalam pelayaran uji coba itu, kapal juga mengalami kebocoran-kebocoran. Peristiwa itu, kemudian menjadi santapan pers yang menggambarkan pelayaran Phinisi Nusantara sebagai Mission Impossible!

Saya berusaha menenangkan panitia, bahwa peristiwa-peristiwa tersebut, ditambah berita di koran, jangan diambil pusing. ‘’Kapal bocor bagi pelaut itu biasa. Yang penting genangan air masih dapat diatasi dengan peralatan yang ada,’’ kata saya. ‘’Bila kapal terombang-ambing pada saat cuaca buruk, yang terpenting jangan melawan alam. Bertahanlah pada kondisi yang terburuk, agar kira dapat menghadapi kondisi yang lebih buruk lagi!’’

Setiap pelaut sejati tahu itu. Hujan tak akan turun satu bulan penuh, dalam tiga hari hujan pasti akan berhenti. Cuaca buruk jangan mencoba mengusirnya. Yang penting, bagaimana menghadapinya dengan tabah.

Apakah kami bisa berhasil sampai di Vancouver? Dari pelayaran Jakarta ke Bitung pun kapal ini harus berdeviasi ke Surabaya untuk perbaikan.

Rencana pelayaran Phinisi Nusantara ini sudah menjadi isu nasional. Maka setiap langkah kapal ini, menjadi perbincangan tingkat nasional. Tak heran, kemudian timbul sikap pesimistis, apakah kapal ini bisa berhasil sampai di Vancouver? Dari pelayaran uji coba selanjutnya Jakarta-Bitung pun, kapal ini harus berdeviasi ke Cirebon untuk perbaikan karena spi roda kemudi patah.

Selanjutnya, dalam pelayaran dari Bitung menuju Honolulu, turut naik ke kapal Frank Koller, wartawan dari Canadian Broadcasting Corporation (CBC), Kanada. Ternyata, Koller bersikap sangat baik terhadap para awak kapal.

global winds and mean, sea level pressure

Gila, Kamu!

Pada 22 Juli 1986, kami tiba di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Selama di sana, kami mendapat bantuan dari Gubernur CJ. Rantung. Beliau menyumbangkan 100 ekor ikan cakalang, bahan bakar, beras, mie, dan lain-lain. Setelah pembekalan itu, tak diduga kami mendapat kunjungan Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi Jenderal (Purn) Ahmad Taher, yang kebetulan berada di Bitung untuk meresmikan Sentral Telepon Otomat Bitung.

‘’Kamu betul-betul berani melayarkan perahu seperti ini menyeberangi Pasifik?’’ Tanya Pak Taher.

‘’Kami akan mencoba, Pak,’’

‘’Gila Kamu!’’ kata Pak Taher, masih tetap tersenyum sambil meletakkan jari telunjuknya, melintang di dahi.

Kesan Pak Taher terhadap kami, bisa dimengerti. Kami memang ‘orang-orang gila’, yang berusaha membawa nama bangsa dan negara. Jarak Bitung-Honolulu mencapai 6050 nautical mile, bukan pelayaran yang mudah dan sederhana. Di tengah Samudera Pasifik itu, kami bagai sabut kelapa yang setiap saat dipermainkan gelombang, mungkin ditenggelamkan badai atau amukan alam yang tak suka dengan ambisi ‘orang gila’

Phinisi Nusantara tetap merayap terguncang-guncang pada haluan 070. Pada posisi 04 derajat Lintang Utara/130 derajat Bujur Timur. angin bertiup dari arah barat laut, tapi arus laut justru datang dari arah berlawanan sehingga Phinisi Nusantara melaju terseok-seok. Terdengar suara berderak-derak tiada henti.

Keberadaan kami di Samudera Pasifik ini semakin terasing. Siang itu, 26 Juli 1986, kalau ditarik garis lurus ke arah barat laut maka Teluk Davao, Filipina, berjarak 35 jam pelayaran. Ditarik garis lurus ke arah barat daya, maka Pulau Morotai berada 16 jam pelayaran. Sedangkan Pulau Sonsorol yang berada diujung garis haluan kapal, jaraknya 35 mil. Pulau Anna, AS, di lambung kanan jaraknya 35 mil dan Honolulu sebagai pelabuhan singgah, jaraknya masih 36 hari pelayaran.

Ah, persetan dengan angka-angka dan perhitungan waktu yang memusingkan. Persetan dengan nasib. Kami sudah kepalang berlayar jauh. Terlebih lagi, tekad sudah bulat. Yang penting ialah berupaya sekuat tenaga, penuh kesabaran, tahan uji dan tawakal.

Di tengah samudera yang maha luas, kami bagai anak ayam kehilangan induk. Tak ada tempat berlindung dari badai ataupun taifun. Oleh karena itu, kapal ini dan para ABK, kami anggap sebagai rumah dan keluarga kandung. Tempat kami berbagi kasih dan saling tolong-menolong. Jika ada anggota keluarga yang merasa paling berkuasa, kami anggap sebagai dinamika biasa bukan sikap otoriter.

Proyek (Mengirim Mayat ke) Laut

Suatu ketika angin badai mulai menyergap Phinisi Nusantara. ‘’Ambil layar! Cepat ambil layar!’’ teriak Mappagau sambil keluar dari anjungan. Ambil layar dalam dialek Bugis-Makassar, berarti menurunkan layar. Saya yang sedang berada di anjungan membiarkan Mappagau memegang komando, menyuruh ABK yang sedang jaga, ketika badai dengan kecepataan 30 knots datang.

Di tengah lautan kami berlayar sambil didorong arus khatulistiwa. Perahu bertingkah ditekan angin kencang dan dikocok ombak dan gelombang. Walau tanpa layar selembarpun, Phinisi Nusantara melaju didorong tiga kuasa alam, angin ribut, arus laut dan ombak gelombang yang datang dari arah buritan. Sehingga Phinisi Nusantara seperti sedang berlayar mengikuti banjir ke arah hilir.

Satu hal yang sangat menggembirkan kami, setelah berlayar selama dua bulan lebih seminggu (67 hari), kami sampai di Victoria, yang berarti hanya perlu satu hari lagi sebelum mencapai Vancouver. Kenyataan itu, seolah memupus perasaan keterangasingan di negeri sendiri, berganti dengan luapan kegembiraan.

Tiba di Victoria, kami melihat Bapak Sudomo datang dengan pesawat Otter Amphibi dan mendarat di samping kapal kami. Beliau turun, serta-merta memeluk kami satu-persatu. Terlihat begitu terharunya Pak Domo, karena menurut beliau, banyak masyarakat Indonesia yang sangat mencemaskan keberhasilan proyek ini. Malah di koran-koran pun muncul anggapan bahwa proyek ini hanyalah ‘proyek mengantarkan mayat ke laut’ .

Tidak sedikit masyarakat yang mencibirkan bibir karena menyangsikan keberhasilan proyek ini. Memang, dalam sejarah Indonesia, baru kali inilah sebuah perahu tradisional Bugis yang dibuat oleh tangan-tangan pengrajin Tanah Beru, berhasil selamat di pantai barat Amerika. Inilah bukti kesuksesan yang memupus keragu-raguan masyarakat akan ketangguhan tim kami. Dan itu dinyatakan oleh Bapak Sudomo dengan terbata-bata, menekan perasaannya. Sebab, bagaimana pun beliau sendiri seolah mempertaruhkan namanya untuk meyakinkan keberhasilan proyek ini.

Telepon Dari Pak Harto

Pada petang hari itu juga, terjadi sebuah klimaks bagi kami, terutama bagi saya pribadi. Pesawat Inmarsat (International Maritime Satellite) kami menerima pemberitahuan dari Jakarta yang mengabarkan bahwa jam delapan malam ini (perbedaan waktu sekitar 12 jam, sehingga malam hari di Victoria adalah pagi hari di Jakarta), Presiden Soeharto akan menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh ABK

Telepon berdering. Percakapan diawali Pak Domo dengan Presiden Soeharto, kemudian Pak Harto minta berbicara dengan nakhoda, yaitu saya sendiri. Pada intinya, beliau atas nama Pemerintah dan bangsa Indonesia mengucapkan selamat dan menyampaikan terimakasih atas keberhasilan pelayaran Phinisi Nusantara, yang telah menjunjung nama baik bangsa dan negara.

‘’Keuletan para awak Phinisi Nusantara telah membuktikan semangat bahari bangsa Indonesia kepada dunia. Keuletan itu akan dihargai bukan saja oleh bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga oleh bangsa-bangsa di dunia,’’ ujar Presiden Soeharto. Pada bagian akhir pembicaraanya, beliau mengatakan: ‘’Sampaikan salam selamat dan penghargaan saya kepada seluruh ABK,’’ pesan Pak Harto.

IMG00364

Kapal tradisional di pesisir Selatan Jawa Timur

Setelah menerima telepon dari Pak Harto dan Pak Domo pun meninggalkan kapal, di malam hari yang sunyi saya merenung kembali. Inilah rupanya, akhir dari suatu perjuangan: betapa seorang anak, dalam kemampuan dan kekuatannya sendiri, telah berusaha membela nama baik ayahnya. Itulah pula, yang sanggup saya lakukan demi membela keluarga kami, demi ketenangan dan ketentraman almarhum ayah, bahkan jika mungkin bagi masa depan anak-anak dan cucu kami kelak.

Sesungguhnya, keberhasilan pelayaran Phinisi Nusantara adalah terutama berkat Rahmat dari Gusti Allah Subhannahuwata’ala. Sebab sejak kami berlayar, kami senantiasa memohon kepada Gusti Allah agar dijauhkan dari rintangan, dijauhkan dari malapetaka dan marabahaya di laut.

Di dalam do’a, saya seolah menagih janji kepada Tuhan. Tunjukkan keadilanMU, ya Allah! Saya pernah menolong sekian ribu orang di lautan. Apakah kini saya harus mati dengan sia-sia dalam pelayaran Phinisi Nusantara? Saya menagih janji, bahwa saya sudah menanamkan pohon. Apakah kami masih diperbolehkan untuk menikmati buahnya? Ribuan nyawa manusia telah saya selamatkan di laut, apakah patut saya mati di lautan? Keyakinan dan do’a itulah yang menjadi tekad saya untuk memberanikan diri melayarkan Phinisi Nusantara ke Vancouver.

Tidak sedikit pula, selama 68 hari pelayaran itu, kami menerima berbagai cobaan hidup. Setidaknya ada tiga orang keluarga terdekat kami yang meninggal dunia. Pertama, Kolonel (Purn) Samidjo, bapak mertua. Kedua, Ir. Putu Predana, adik ipar. Dan ketiga, Amung Ardjakusuma, 63 tahun, salah seorang paman kami. Mang Amung, demikian ia biasa disapa akrab, semasa mudanya adalah seorang pemain bola jempolan. Almarhum pernah memperkuat tim PERSIB, Bandung, seangkatan dengan Aang Witarsa dan kiper Saelan. Berita duka itu saya terima berturut-turut melalui pesawat Inmarsat.

Misi Belum Usai: Dari Vancouver ke San Diego

Dalam pelayaran dari Vancouver ke San Diego, Philipe tidak ikut karena pelayaran dinyatakan telah berakhir. Ia meninggalkan kapal, karena kontraknya pun habis. Selanjutnya, ada sukarelawan baru yang ikut yaitu Norman Edwin, wartawan Mutiara yang juga pendaki gunung. Sejak awal, ia memang sangat berminat untuk turut dalam proyek ini. Sukarelawan lainnya, adalah putra dari Robby Sularto Sastrowardoyo, pimpinan Pavilyun Indonesia.

Dalam pelayaran ke Vancouver ini, track-track pelayaran kami selalu memanfaatkan arah angin dan kekuatan arus. Dan untuk ini, kami tidak malu-malu bertanya kepada para pelaut yang ada di sana, untuk memilih track yang paling aman.

Dalam pelayaran ke San Diego, yang menempuh jarak 1125 mil laut itu, kami mempunyai suatu strategi agar bisa mencapai San Diego dengan aman, karena pada waktu itu cuaca makin memburuk.

Rute pelayaran tidak bisa tembak langsung lurus ke selatan, menelusuri pantai ke San Diego. Kami disarankan agar menjauhi garis pantai sampai 40 mil. Kami harus mengarahkan kapal ke selat Juan de Fuca, kemudian berbelok ke barat untuk mendapatkan arus laut California yang merupakan lanjutan dari arus Aleuten yang akan mendorong kapal ke selatan. Jika kami langsung menyisir pantai ke selatan, bukannya cepat sampai malah bisa terseret ke Lautan Atlantik. Di kawasan itu, ada arus Davidson yang cenderung mendorong kapal kembali ke arah utara.

Esoknya, Sabtu 27 September 1986, kami layarkan kapal keluar False Creek. Sekitar 40 menit kemudian kami baru mengubah haluan ke selatan. Begitu masuk arus laut ini, kami terperangah karena harus berhadapan dengan ombak dan arus dari belakang. Arus laut ini sangat mencemaskan kami. Tinggi gelombang sekitar 7-8 meter dan kami didorong dari belakang. Sehingga meskipun pelayaran ini sangat menguntungkan karena kecepatan akan bertambah, namun dengan tingginya gelombang, kami mendengar dengan keras sekali kapal berbunyi berderak-derak mencemaskan

Terus terang, pengalaman ini belum kami alami, sehingga kami tanyakan kepada para pelaut Bugis-Makassar, sejauhmana kekuatan kapal ini menentang gelombang yang cukup tinggi? Mereka pun rupanya belum pernah berpengalaman menghadapi gelombang setinggi 8 meter ini.

Sehingga dalam pelayaran Vancouver-San Diego ini, kami harus cermat sekali mengendalikan kemudi. Akhirnya, setelah 12 hari pelayaran, pada tanggal 5 Oktober 1986, kami berhasil masuk ke teluk San Diego dan dengan lancar akhirnya kapal sampai di Broadway Pier, Marina San Diego, yang terletak tepat di jantung kota San Diego.

Oleh karena hari Minggu merupakan hari libur resmi, maka tidak ada upacara penyambutan yang meriah. Kami hanya disambut oleh Komandan Pangkalan Angkatan Laut Amerika beserta stafnya dengan ramah. Mereka tampaknya telah mendengar rencana kedatangan Phinisi Nusantara ke San Diego.

Jadi sebetulnya, dalam pelayaran Phinisi itu, kita pernah mengalami suatu hambatan. Namun dengan rasa kekompakan dan rasa persaudaraan, akhirnya masalah itu pun bisa diselesaikan dengan baik.

Selesai melayarkan Phinisi Nusantara, saya kembali ke Tanah Air. Tidak berapa lama di Jakarta, saya masih diminta untuk mengantar para pelaut Bugis- Makassar ke Makassar.

Namun tiba di sana, kami benar-benar larut dalam kegembiraan dan suasana haru. Betapa luar biasa sambutan masyarakat Bugis- Makassar terhadap tim Phinisi ini. Kami disambut dengan tarian kebesaran adat Bugis- Makassar, dikenakan sarung Bugis- Makassar, dikalungi bunga, kemudian mendapat kehormatan diterima oleh Gubernur Sulawesi Selatan.

Saya sebagai orang Sunda, tentu saja merasa tersanjung karena bisa diterima sebagai warga kehormatan dengan sambutan adat tradisional Bugis- Makassar.

Selesai mengantar para pelaut Bugis ke tanah leluhur mereka, saya kembali ke Jakarta dan bertugas kembali di PT. Andhika Lines. Setahun kemudian, pada 1987 saya ditugaskan ke Jepang, mewakili perusahaan.

Ketika saya bertugas di Jepang itulah, saya dipanggil secara khusus untuk hadir di Jakarta. Pada tanggal 10 Nopember 1989 bertepatan dengan hari Pahlawan, saya menerima penghargaan berupa tanda jasa Satya Lencana Pembangunan di bidang bahari. Penyematan tanda jasa berlangsung di atas geladak KRI Teluk Ende. Tentu saja, penghargaan inipun saya dedikasikan juga bagi seluruh ABK. Khususnya para pelaut Bugis- Makassar. (Dari berbagai sumber dengan diedit seperlunya)

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s