Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara berdiri pada abad ke-4, dan berpusat di Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara sendiri berasal dari kata “taruma” dan “nagara”. Tarum berasal dari nama sungai di Jawa Barat, yakni Citarum, sedangkan nagara berarti negara.

Prasasti_tuguKerajaan Tarumanegara berdiri pada abad ke-4 (tahun 358) dan berakhir di abad ke-7. Kerajaan ini menganut agama Hindu yang beraliran Wisnu. Pendiri kerajaan ini bernama Rajadirajaguru Jayasingawarman. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara bisa dilihat melalui berbagai sumber, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, sumbernya bisa dilihat pada tujuh buah prasasti yang ada di Bogor, Jakarta, dan Banten.

Prasasti-prasasti tersebut, antara lain prasasti Ciaruteun, prasasti Jambu, prasasti Muara Cianten, prasasti Pasir Awi, prasasti Cidanghiyang, prasasti Tugu, dan prasasti Pasir Muara. Sedangkan sumber yang berasal dari luar negeri, antara lain berita Fa Hsien, berita Dinasti Sui, dan berita Dinasti Tang. Berita Fa Hsien yang berasal dari tahun 414 mengisahkan soal negeri Ye Po Ti, yang hanya sedikit dijumpai orang beragama Buddha.

Mayoritas beragama Hindu dan sebagian animisme. Kisah ini ditulis dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti diinterpretasikan oleh para ahli sebagai Kerajaan Tarumanegara. Lalu, berita dari Dinasti Sui yang mengisahkan kalau di tahun 528 dan 535 datang seorang utusan dari To Lo Mo, berasal dari arah selatan. Dan, Dinasti Tang mengisahkan soal utusan dari To Lo Mo yang datang pada tahun 666 dan 669. Para ahli menyimpulkan, To Lo Mo merupakan Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara merupakan kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Sebelumnya, Jayasingawarman yang merupakan raja pertama Tarumanegara adalah seorang maharesi dari Salankayana di India. Karena daerahnya diserang Kerajaan Magada, dia mengungsi ke Nusantara. Saat Jayasingawarman memerintah, pusat kekuasaan berpindah dari Rajatapura ke Tarumangara. Makam Jayasingawarman diperkirakan ada di sekitar sungai Gomati, wilayah Bekasi. Setelah Jayasingawarman meninggal dunia, Kerajaan Tarumanegara dipimpin oleh putranya bernama Dharmayawarman yang memerintah dari tahun 382 sampai 395.

Masa Kejayaan Kerajaan Tarumanegara

Raja ketiga Kerajaan Tarumanegara bernama Maharaja Purnawarman yang mmerintah dari tahun 395 hingga 434. Di masa Purnawarman, Kerajaan Tarumanegara menjelma menjadi kerajaan besar yang memiliki wilayah luas di pulau Jawa. Pada tahun 397, Purnawarman memusatkan pemerintahannya di dekat pantai, yang diberi nama Sundapura. Di masa keemasannya, Purnawarman membawahi sebanyak 48 raja kecil, dan daerahnya membentang dari Salakanagara yang sekarang dikenal sebagai Teluk Lada Pandeglang, sampai Purwalingga (kemungkinan Purbalingga, Jawa Tengah).

Sungai Brebes, yang dahulu bernama Ci Pamali, dijadikan batas kekuasaan raja-raja kecil tadi. Menurut prasasti Tugu, pada tahun 417, Purnawarman memerintahkan untuk menggali Sungai Gomati dan Candrabaga yang memiliki panjang 6.112 tombak, atau sekitar 11 kilometer. Penggalian sungai ini dimaksudkan untuk keperluan irigasi, yang berguna dalam mengaliri air ke sawah-sawah pertanian, mencegah banjir, dan jalur perairan untuk berdagang antardaerah. Berkat usahanya ini, kehidupan ekonomi rakyat Tarumanegara menjadi lebih baik.

Ketika kerja penggalian rampung, Purnawarman mengorbankan 1.000 ekor sapi kepada golongan Brahmana (golongan agama). Ini merupakan bukti bahwa Raja Purnawarman sangat menghormati kedudukan golongan Brahmana. Golongan Brahmana kerap dilibatkan dalam setiap upacara korban di kerajaan atau upacara-upacara keagamaan lainnya.

Di bidang budaya, ditilik dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf dalam prasasti-prasasti hasil peninggalan Tarumanegara, bisa dipastikan kalau tingkat kebudayaan rakyat Tarumanegara sudah tinggi. Sebab, keberadaan prasasti-prasasti tersebut menyiratkan kebudayaan tulis-menulis yang berkembang di masa Kerajaan Tarumanegara.

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara dan Bukti Prasasti

Selama masa kekuasaannya, Kerajaan Tarumanegara diperintah oleh dua belas orang raja. Setelah Raja Punawarman meninggal dunia, berturut-turut kekuasaan dipegang oleh Wisnuwarman yang memerintah pada tahun 434 sampai 455; Indrawarman yang memerintah pada tahun 455 sampai 515; Candrawarman yang memerintah pada tahun 515 sampai 535, Suryawarman yang memerintah pada tahun 535 sampai 561, Kertawarman yang memerintah pada tahun 561 sampai 628, Sudhawarman yang memerintah pada tahun 628 sampai 639, Hariwangsawarman yang memerintah pada tahun 639 sampai 640; Nagajayawarman yang memerintah pada tahun 640 sampai 666), dan terakhir Linggawarman yang memerintah pada tahun 666 sampai 669.

Pada masa pemerntahan Suryawarman, perhatian diberikan pula ke daerah timur, tidak hanya konsen pada raja-raja daerah. Manikmaya, menantu Suryawarman, pada tahun 526 membangun sebuah kerajaan baru di daerah Kendan, antara Bandung dan Limbangan. Daerah timur pun mengalami perkembangan ketika cicit Manikmaya pada tahun 612 mendirikan Kerajaan Galuh. Kerajaan Tarumanegara runtuh pada tahun 669.

Raja terakhirnya bernama Linggawarman yang memerintah pada tahun 666 hingga 669. Linggawarman menyerahkan kekuasaan kepada menantunya yang bernama Tarusbawa. Putri Linggawarman yang bernama Sobankancana menikah dengan Dapungtahyang Srijayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan besar di Sumatra Selatan.

Sudah diuraikan di atas, keberadaan Kerajaan Tarumanegara dibuktikan dengan sumber yang berasal dari dalam negeri berupa prasasti dan luar negeri berupa berita Dinasti Sui, Dinasti Tang, dan Fa Hsien.

Tujuh buah prasasti

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara ini terdiri dari : Pertama, prasasti Ciaruteun yang ditemukan di sekitar sungai Ciaruteun. Di prasasti tersebut, terdapat puisi empat baris. Dan, ada pula tulisan dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta:

“vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam” (Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara). Di prasasti Ciaruteun kita bisa melihat sepasang kaki Raja Purnawarman dan sebuah lukisan mirip laba-laba.

Kedua, prasasti Pasir Muara yang ditemukan di Pasir Muara, Bogor. Tulisan yang ada di prasasti ini: “sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda” (Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda).

Ketiga, prasasti Muara Cianten yang ditemukan di tepi sungai Cisadane oleh N. W. Hoepermans pada tahun 1864. Dalam prasasti tersebut terdapat lukisan telapak kaki dan tulisan aksara ikal yang belum bisa terbaca. Keempat, prasasti Pasir Awi yang ditemukan di daerah Bukit Pasir Awi, Kabupaten Bogor. Pahat gambar daun dan ranting, buah-buahan, dan sepasang telapak kaki ada di prasasti ini.

Kelima, prasasti Cidanghiyang yang ditemukan di tepi sungai Cidanghiang, Kabupaten Lebak, pada 1947. Tulisan berhuruf Pallawa di prasasti itu: “Vicranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah” (Inilah (tanda) keperwiraan keagungan dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia yang mulia purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja).

Keenam, prasasti Jambu yang ditemukan di area perkebunan jambu di Bukit Koleangkak, Bogor bagian barat. Tulisan yang terdapat di prasasti ini: “shirman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnawarman pracuraripucara fedyavikyatavarmrno tasyedam-padavimbadvayam arna garotsadane nitya- dakshambhaktanamyandripanan-bhavati sukhakakaramshalyabhutam ripunam” (yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang pernah memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya). Ukiran telapak kaki juga ada di prasasti ini.

Ketujuh, prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Cilincing, Jakarta Utara pada tahun 1878. Dibandingkan prasasti lainnya, tulisan dalam prasasti ini paling panjang: ”Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino” (Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnwarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut.

Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi).

Kerajaan Sunda Galuh yang Kembar

Kerajaan Sunda Galuh adalah dua kerajaan yang berbeda. Galuh didirikan oleh Wretikandayun, asalnya adalah bawahan dari Kerajaan Tarumanegara. Sunda adalah perubahan dari Tarumanegara. Oleh karena pendeklarasian menjadi negara sendiri yang dilakukan oleh Kerajaan Galuh, maka kedua kerajaan ini menjadi kerajaan kembar yang terpisah oleh Sungai Citarum. Dalam perjalanan bertetangganya, Sunda dan Galuh sempat pisah sambung selama beberapa periode hingga akhirnya benar-benar bersatu di bawah Prabu Siliwangi. Kerajaan Sunda Galuh kemudian menjelma menjadi Kerajaan Pajajaran.

Berdirinya kerajaan Galuh bermula dari eksodus seorang brahmana India bernama Manikmaya, yang oleh raja ke 7 Tarumanagara, Suryawarman, difasilitasi untuk membangun Kerajaan Kendan. Karena watak rata-rata dari kerajaan tatar Sunda yang memperlakukan kerajaan-kerajaan bawahannya sebagai kerajaan otonom, maka Kerajaan Kendan pun diwariskan secara turun-temurun. Dari Manikmaya diteruskan oleh Rajaputra Suraliman Sakti, diteruskan oleh Kandiawan, yang kebetulan sudah mempunyai kerajaan sendiri, yaitu Medang Jati. Setelah Kandiawan lebih memilih untuk jadi petapa, kekuasaan diserahkan kepada anak bungsunya, yaitu Wretikandayun (612-702). Wretikandayun lebih tertarik mendirikan kerajaan baru, yang dinamakan Galuh, yang artinya adalah permata.

Di bawah kepemimpinan Wretikandayun, Galuh berkembang pesat, dari segi perdagangan dan terutama pasukan kerajaan. Keistimewaan lain adalah sang raja dikaruniai umur panjang hingga 110 tahun. Setara dengan pergantian enam kali Raja Tarumanagara, mulai dari Kertawarman sampai raja terakhir Linggawarman, sehingga ia paham betul lika-liku Tarumanagara.
Sementara itu Tarumanagara sebagai kerajaan induk mulai mengalami masa-masa redup pada era Linggawarman. Sehingga ketika wafat Linggawarman, Tarus Bawa (669-723) menantu raja yang ditunjuk sebagai penerus tahta mengambil inisiatif untuk mengubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda. Tindakan tersebut disambut baik oleh Wretikandayun dengan mendeklarasikan pemisahan Kerajaan Galuh dari Sunda, yang dulunya Tarumanagara. Kedudukan Sunda dan Galuh menjadi sejajar, hanya dipisahkan oleh Sungai Citarum.

Proses Pergantian Kekuasaan di Kerajaan Sunda Galuh

Pergantian Kekuasaan di Kerajaan Sunda relatif lebih tenang. Tarus Bawa mempunyai seorang putera yang wafat sebelum beliau, sehingga namanya tidak tercatat dalam sejarah. Namun beliau memiliki dua orang puteri yaitu Sekar Kencana dan Mayangsari.
Sementara di Galuh, Wretikandayun mempunyai tiga orang putera yaitu Sempak Jaya, Jantaka, dan Amara. Dua orang putera Wretikandayun, yaitu Sempak Jaya dan Jantaka mempunyai cacat fisik, sehingga Amara yang dipersiapkan menjadi putera mahkota. Sempak Jaya menjadi raja di Kerajaan Galunggung, dan Jantaka menjadi raja di Kerajaan Denuh.

Rencana Wretikandayun tidak berjalan sebagaimana yang ia inginkan. Amara kemudian mempunyai putera dengan kakak iparnya, istri dari Sempak Jaya. Amara menamai puteranya Bratasenawa atau Sena (Sang Salah). Kemudian Amara meninggalkan Galuh dengan perintah dari ayahnya. Amara meninggalkan Galuh menuju Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. Di Kalingga ia dijodohkan dengan Dewi Parwati, puteri dari Raja Kartikeyasinga dengan Maharani Shima. Dari hasil perkawinan ini, lahirlah anak perempuan yang diberi nama Sanaha.

Saat Raja dan Ratu Kalingga wafat, kerajaan di bagi dua; wilayah utara, Bumi Mataram, dan wilayah selatan, Sembara. Bumi Utara diserahkan kepada pasangan Amara-Dewi Parwati. Saat Wretikandayun wafat pada usia 111 tahun, Amara dipanggil pulang, dan dinobatkan sebagai raja dengan gelar Mandiminyak. Sementara sang istri, Dewi Parwati tetap di Kerajaan Bumi Mataram, dan menjadi penguasa di sana.

Putera dan puteri kandung Amara dari ibu yang berlainan, Sena dan Sanaha dijodohkan. Dari pasangan itu lahir Sanjaya, pada tahun 683 M. Pada 703 M, Sanjaya dinikahkan dengan dengan Sekar Kencana, cucu Tarus Bawa. Pada tahun 709, Amara wafat.
Setelah Amara wafat dan Bratasenawa naik tahta, timbul kontroversi tentang siapa yang berhak menduduki tahta Galuh.

Bratasenawa dianggap tidak berhak menduduki tahta kerajaan, sebab lahir dari hubungan yang tidak sah. Anak Sempak Waja yaitu Purbasora dan Demunawan merasa lebih berhak atas tahta Galuh. Pada 716 Masehi, Purbasora berhasil menyingkirkan Sena (Sang Salah) dengan didukung Kerajaan Indraprahasta (mertua Purbasora), Kerajaan Kuningan (mertua Demunawan), dan Bimaraksa (putera Jantaka dari Kerajaan Denuh). Perang saudara dahsyat terjadi. Sena melarikan diri ke Bumi Mataram, berlindung ke mertua sekaligus ibu tirinya, Dewi Parwati dan bertemu kembali dengan anaknya, Sanjaya.

Hampir terjadi perang antara Galuh dan Sunda. Namun karena kudeta sudah terjadi, dan Sena dinyatakan selamat, pasukan Sunda urung bertempur. Legitimasi pasukan Sunda mengerahkan pasukan karena Bratasenawa adalah besan Tarus Bawa. Kekisruhan di Galuh bukan karena anak-anak Wretikandayun, tetapi diakibatkan oleh cucu-cucunya Purbasora, Demunawan, Bimaraksa, dan Bratasenawa. Berlanjut hingga cicitnya Sanjaya, Wijayakusuma, bahkan hingga penerus selanjutnya, Premana Dikusuma, Tamperan Bramawijaya, bahkan setelah itu, Manarah dan Banga.

Purbasora berhasil memduduki tahta Galuh (716-726) dan Kerajaan Sunda dipimpin Tarus Bawa yang sudah uzur. Pada tahun itu Tarus Bawa wafat. Sanjaya kemudian naik tahta menggantikan Tarus Bawa. Sanjaya yang lama memendam dendam terhadap Purbasora, Raja Galuh yang telah menggulingkan ayahnya, Bratasena, langsung mengerahkan pasukan untuk menggempur Galuh. Di bantu Kerajaan Bumi Sembara, dan Bumi Mataram (pecahan Kerajaan Kalingga, Jawa tengah sekarang) Galuh porak-poranda, dan Purbasora tewas di tangan Sanjaya. Peristiwa ini terjadi tahun726 M.

Dengan demikian penyatuan pertama Galuh Sunda terjadi pada zaman Sanjaya. Mahkota Galuh diserahkan kepada Premana Dikusuma (726-732), Cucu Purbasora sendiri. Namun pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Tamperan Bramawijaya, buah perkawinan Sanjaya dengan cucu Tarus Bawa, Sekar Kencana.

Sebagaimana kakeknya, Sanjaya memiliki rencana untuk menjamin stabilitas Kerajaan Galuh. Sanjaya kemudian menjodohkan Premana Dikusumab dengan Dewi Pangreyep, keponakannya yang juga cicit Tarus Bawa. Namun suasana istana negeri jajahan, membuat Premana lebih banyak meluangkan waktu untuk bertapa di tepi timur Sungai Citarum. Kondisi ini membuat Dewi Pangreyep dan Tamperan Brawijaya lebih akrab daripada dengan suaminya sendiri.

Tamperan kemudian menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Premana yang sedang bertapa. Lalu disusun skenario bahwa Tamperan berhasil menewaskan pembunuhnya. Kemudian mengambil tindakan ‘heroik’ dengan mengawini sekaligus dua janda Premana. Dia kemudian dinobatkan menjadi Raja Galuh, sekaligus Raja Sunda. Suatu tindakan yang dianggap cerdik pada mulanya.
Manarah, adalah putera dari perkawinan Premana Dikusuma dengan Naganingrum, cucu Bimaraksa. Ayahnya terbunuh, tetapi kemudian Manarah mempunyai bapak tiri karena ibunya dinikahi Tamperan Bramawijaya yang naik tahta menjadi Raja Galuh sekaligus Sunda. Namun Bimaraksa mengabarkan padanya bahwa ayahnya sesungguhnya telah dibunuh Tamperan Brawijaya dengan cara cara licik. Maka rencana balas dendam pun disusun.

Di bawah bimbingan Bimaraksa, ditentukan bahwa kudeta akan dilakukan saat acara sabung ayam. Kudeta berhasil, Tamperan Bramawijaya dan Dewi Pangreyep tewas, sementara Banga, putera mahkota ditawan. Kabar tewasnya Tamperan Brawijaya membuat Sanjaya yang bertahta di Bumi Mataram mengerahkan pasukan menyerang Galuh. Kerajaan Galuh yang telah bersiap diri dan didukung Kerajaan Kuningan dapat menahan laju pasukan Sanjaya. Pertempuran berlangsung berhari-hari, tak ada yang menang, tak ada yang kalah.

Melihat situasi yang membahayakan kedua belah pihak, Demunawan (anak Sempak Waja, cucu Wretikandayun, pendiri Galuh), turun gunung dari Saung Galah. Dalam perundingan damai yang diadakan di Galuh, disepakati beberapa hal sebagai berikut:

• Manarah menguasai Kerajaan Galuh
• Banga mengusai Kerajaan Sunda
• Sanjaya tetap menjadi Raja Bumi Mataram
• Demunawan Menguasai Kerajaan Kuningan

Demikianlah perang kembali memecah Kerajaan Sunda dan Galuh, hal tersebut terjadi pada tahun 739. Manarah kemudian dikenal sebagai Ciung Wanara dalam legenda Ciamis.
Kerajaan Sunda Galuh Bersatu

Setelah mengalami masa peperangan selama empat generasi, Kerajaan Sunda Galuh memasuki era damai sejak Galuh dipimpin Manarah alias Ciung Wanara ( 739-783) dan Sunda dipimpin Rakeyan Banga (739-766). Berikut ini adalah berturut turut nama raja-raja Sunda dan Galuh:
Raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati

No Raja Masa pemerintahan

1 Maharaja Tarusbawa 669-723
2 Sanjaya Harisdarma 723-732
3 Tamperan Barmawijaya 732-739
4 Rakeyan Banga 739-766
5 Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766-783
6 Prabu Gilingwesi 783-795
7 Pucukbumi Darmeswara 795-819
8 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819-891
9 Prabu Darmaraksa 891-895
10 Windusakti Prabu Dewageng 895-913
11 Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi 913-916
12 Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa 916-942
13 Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa 942-954
14 Limbur Kancana 954-964
15 Prabu Munding Ganawirya 964-973
16 Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung 973-989
17 Prabu Brajawisesa 989-1012
18 Prabu Dewa Sanghyang 1012-1019
19 Prabu Sanghyang Ageng 1019-1030
20 Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati 1030-1042

Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon

No Raja Masa pemerintahan

1 Wretikandayun 670-702
2 Rahyang Mandiminyak 702-709
3 Rahyang Bratasenawa 709-716
4 Rahyang Purbasora 716-723
5 Sanjaya Harisdarma 723-724
6 Adimulya Premana Dikusuma 724-725
7 Tamperan Barmawijaya 725-739
8 Manarah 739-783
9 Guruminda Sang Minisri 783-799
10 Prabhu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan 799-806
11 Sang Walengan 806-813
12 Prabu Linggabumi 813-852
13 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819-891

Pada masa Rakeyan Wuwus, Kerajaan Sunda dan Galuh bersatu, karena Raja Galuh Linggabumi tidak punya keturunan. Akhirnya tahta diserahkan kepada suami adiknya, yang adalah Raja Sunda, Rakeyan Wuwus (819-891). Dengan demikian ini adalah penyatuan kedua sejak Sanjaya. Rakyat Sunda Galuh mengalami masa penyatuan yang damai sejak Manarah hingga Banga dalam rentang waktu 150 tahun. Penyatuan kerajaan kemudian menimbulkan perebutan kekuasaan dalam Kerajaan Sunda Galuh.

Akibat perbuatan ilegal Arya Kedaton ( 891-895) merebut tahta Sunda, selama hampir 100 tahun Kerajaan Sunda didera prahara saling membunuh dan menjatuhkan. Kudeta yang satu dibalas dengan kudeta yang lebih dahsyat. Bahkan kudeta di Kerajaan Sunda sempat menyeret peperangan dengan kerajaan kembarnya, Galuh. Bagi Kerajaan Galuh sendiri, masa seratus tahun juga tidak dilalui dengan mudah.Walaupun relatif tidak terjadi kudeta berdarah darah, beberapa kali Galuh mengalami kekosongan kekuasaan karena ketiadaan putera mahkota.Sehingga beberapa kali terpaksa mengambil raja raja dari Sunda.

Adalah Arya Kedaton yang mengambil alih kekuasaan saat Rakeyan Wuwus wafat. Sangat tidak lazim karena Arya bukan putera mahkota, dia adalah ayahanda putera mahkota sendiri, Rakeyan Windu Sakti. Seorang bapak mengudeta tahta anaknya sendiri. Akibat tindakannya itu, Arya harus menebus dengan nyawanya sendiri. Ia dibunuh oleh salah satu menterinya. Maka naiklah Rakeyan Windusakti (895-913), menggantikan ayahnya. Masa pemerintahan sampai wafatnya dilalui dengan aman. Tahta diteruskan oleh anaknya, Kemuning Gading. Kemunig Gading hanya berkuasa selama tiga tahun, dijatuhkan oleh Rakeyan Jayagiri, adiknya sendiri. Tampaknya perilaku sang kakek, Arya Kedaton, ditiru sang cucu, Jayagiri.

Kudeta ini memicu perang dengan Kerajaan Galuh, karena Raja Galuh, Jayadatra adalah anak Kemuning Gading. Perang mengakibatkan Sunda dan Galuh kembali berpisah. Dengan demikian penyatuan Sunda Galuh oleh Rakean Wuwus dihapuskan oleh cucu cicitnya. Akhirnya kekuasaan Jayagiri benar-benar terhenti setelah dibunuh oleh Lembur Kencana, adik Jayadatra, putera kedua Kemuning Gading. Kerajaan Sunda kembali berdamai dengan Kerajaan Galuh.

Limbur Kencana naik tahta dengan membunuh raja sebelumnya, Jayagiri. Ini merupakan rangkaian panjang pembunuhan yang dimulai ketika Arya Kedaton melakukan kudeta, dan kemudian dibunuh salah satu menterinya. Arya Kedaton digantikan anaknya Windu Sakti, dan Windu Sakti diteruskan oleh anaknya, Kemuning Gading. Tragedi terjadi lagi, Kemuning disingkirkan Jaya Giri, adiknya sendiri. Jaya Giri kemudian dibunuh Limbur Kencana, anak Kemuning Gading.

Limbur Kencana yang kemudian naik tahta dibunuh Dewi Ambawati, anak Jaya Giri. Suami Dewi Ambawati, Watu Ageung kemudian menjadi Raja. Watu Ageung tidak lama memimpin karena kemudian dibunuh Sunda Sembawa, putera Lembur Kencana. Sampai di sini, bunuh membunuh berhenti. Total terdapat 5 raja yang dibunuh dalam era rebutan kekuasaan ini. 100 tahun yang sia-sia dilewatkan hanya untuk memenuhi nafsu berkuasa. Setelah itu suksesi relatif berjalan normal.

Selanjutnya dengan pengalaman buruk suksesi kekuasaan berdarah, Sunda Galuh melakukan disiplin pergantian kekuasaan. Tampaknya mereka telah belajar banyak dari era 100 tahun penuh makar dan peperangan yang tidak perlu, mulai dari era Sunda Sembawa (964-973) Kerajaan Sunda Galuh benar-benar berada dalam perdamaian dan masa keemasan.
Kerajaan Sunda Galuh Mengalami Kejayaan

Meskipun tidak tercatat melakukan ekspansi memperluas wilayah, kala itu kerajaan mempunyai angkatan perang yang kuat baik angkatan darat maupun angkatan laut. Sebagaimana diketahui, beberapa pelabuhan penting saat itu di bawah otoritas Sunda Galuh, terutama Banten, Cirebon, dan tentu saja Kalapa ( Sunda Kalapa, Jayakarta, dan akhirnya Batavia, Jakarta ).

Peperangan antara negara-negara sekitarnya (Sriwijaya, Kediri, Samudra Pasai) tidak memengaruhi perdamaian di Kerajaan Sunda Galuh. Bahkan pada masa Raja Darmasiksa (1175 – 1297), Kerajaan Sunda Galuh -tepatnya di bekas ibukota Sundapura – menjadi tempat perundingan damai segitiga antara Kekaisaran China, Sriwijaya, dan Kediri. Perlu dicatat, Darmasiksa mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya, setengah Sunda, setengah Jawa, kemudian mendirikan Majapahit yang terkenal itu. Darmasiksa memang raja visioner. Dia mendirikan banyak kabuyutan, di antaranya Ciburuy (Garut), Sanghyang Tapak (Sukabumi), dan Kanekes (Banten). 800 tahun kemudian, kini, kita masih dapat menyaksikan miniatur Kerajaan Sunda di Kanekes.

Pada era Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kerajaan Sunda Galuh mempunyai ibukota baru, yaitu Kawali (=kuali, belangga). Selama ini ibukota kerajaan berada bolak-balik antara Pakuan, Galuh, atau Saung Galah (sekitar Gunung Galunggung). Mulai saat itu orang mengenal era Kawali dalam perjalanan sejarah Sunda Galuh. Pada saat yang sama, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa dihadapan Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana di Majapahit. Hampir 400 tahun berlalu sudah sejak Raja Sunda Sembawa memerintah. Masa keemasan terus berlanjut hingga Prabu Maharaja Lingga Buana (1350-1357) naik tahta.

Tragedi Bubat

Tragedi Bubat terjadi pada Selasa Wage, tanggal 4 September 1357 yaitu penyerbuan terhadap iring-iringan pengantin. Kala itu adalah masa keemasan Kerajaan Sunda Galuh, namun juga masa keemasan kerajaan tetangganya yang sangat ekspansif, Majapahit.

Dua kerajaan besar, dua kerajaan yang sejajar, dua raja dengan satu nenek moyang. Seorang raja, Lingga Buana, seorang puteri, Dyah Pitaloka, dan iring-iringan pengantin harus gugur karena nafsu penaklukan. Seorang raja berkuasa, Hayam Wuruk, harus terpukul hingga menderita sakit. Dan karir sang Mahapatih harus berakhir tidak jelas. Dari generasi ke generasi, peristiwa kelam ini selalu dikenang dan beban sejarah yang berat harus dipikul seorang Bunisora.

Bunisora, adik Lingga Buana, harus memimpin rakyat Pasundan Galuh melewati semua ini. Dialah seorang pendeta tingkat satmata, tingkat lima, yang karena kecelakaan sejarah dinobatkan menjadi raja. Saat itu putera mahkota baru berusia 9 tahun. Dialah yang harus membimbing calon penerus, Anggalarang, terutama bersikap bijak terhadap tragedi Bubat.

Berkat bimbingan sang paman, Anggalarang tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana. Pada waktu dinobatkan ia berusi 23 tahun, dan bergelar Mahaprabu Niskala Wastukencana, dikenal juga dengan nama Wangisutah, seorang raja besar telah dilahirkan. Pada waktu itu untuk pertama kalinya Keluarga Kerajaan Sunda Galuh mempunyai anggota keluarga beragama Islam yang baru saja pulang Haji. Dia adalah kakak ipar raja sendiri, putera dari Bunisora, pamannya. Tidak terjadi intrik atas perbedaan agama ini. Bratalegawa atau Haji Purwa Galuh setelah masuk Islam, justru diberi tanah di Cirebon untuk mengembangkan agamanya.

Pada saat itu juga sebuah tim ekspedisi dari Negeri China dipimpin Laksamana Cheng Ho mengunjungi Pelabuhan Muara Jati di Cirebon, dan menghadiahkan sebuah mercusuar di sana. Sementara itu, untuk pertama kalinya berdiri pesantren di tatar Sunda yang digagas oleh Syekh Hasanudin bin Yusuf di daerah Karawang, tentunya atas izin Mahaprabu. Sementara sebuah padepokan agama Budha didirikan di Kerajaan Talaga, Majalengka sekarang.

Mahaprabu Wastukencana yang berkuasa atas Kerajaan Sunda dan Galuh menjelang akhir hayatnya membagi kerajaan menjadi dua bagian, sebelah barat Citarum, Kerajaan Sunda diberikan kepada Haliwungan atau Prabu Susuktunggal, anak dari istri Ratna Sarkati. Sebelah timur Citarum, Kerajaan Galuh kepada Dewa Niskala, anak dari istri Mayangsari. Kedua Kerajaan berdiri sejajar. Kerajaan Sunda Galuh kembali ke masa pemecahan, kali ini karena amanat Wastukencana.
Akhir Masa Kerajaan Sunda Galuh

Perang Bubat ternyata masih menyisakan soal. Diawali dengan pelarian pembesar Majapahit ke Galuh. Waktu itu memang sedang terjadi huru-hara akibat perebutan kekuasaan di Majapahit. Pelarian di sambut baik di Galuh. Yang jadi soal adalah Dewa Niskala mengawini salah seorang pembesar Majapahit tersebut, sesuatu yang diharamkan sejak Bubat. Lebih-lebih lagi wanita itu telah bertunangan.

Akibat pelanggaran kode etik itu, Prabu Susuktunggal menjadi murka dan berniat menyerbu Galuh. Namun perang dapat dicegah, dan pihak-pihak bersengketa duduk di meja perundingan. Hasil kesepakatan adalah baik Susuktunggal ataupun Dewa Niskala harus mengundurkan diri sebagai raja di kerajaan masing masing. Sebagai gantinya mereka menunjuk Jayadewata yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus mantu Susuktunggal. Akhirnya Kerajaan Sunda Galuh kembali dilebur dengan Raja Jayadewata, Sribaduga Maharaja, Prabu Siliwangi, dengan ibukota Pakuan. Maka lahirlah Kerajaan Pajajaran.

Raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati
No Raja Masa pemerintahan
1 Darmaraja 1042-1065
2 Langlangbumi 1065-1155
3 Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155-1157
4 Darmakusuma 1157-1175
5 Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175-1297
6 Ragasuci 1297-1303
7 Citraganda 1303-1311
8 Prabu Linggadéwata 1311-1333
9 Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340
10 Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350
11 Prabu Maharaja Linggabuanawisésa 1350-1357
12 Prabu Bunisora 1357-1371
13 Prabu Niskala Wastu Kancana 1371-1475
14 Prabu Susuktunggal 1475-1482
15. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja) 1482-1521
16. Prabu Surawisésa 1521-1535
17. Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543
18. Prabu Sakti 1543-1551
19. Prabu Nilakéndra 1551-1567
20. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

One Response to Tarumanegara

  1. Pingback: Babad Tanah Jawi dan Wangsakerta | Megapolitan Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s