Jakarta

Sebelum tahun 1959, Jakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Jakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I/Provinsi) yang dipimpin oleh gubernur. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Jakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI).

Ada pertanyaan besar, mengapa Jakarta berhasil menjadi sebuah kota terbesar di Nusantara dan menjadi ibukota sebuah negara bangsa Indonesia yang besar ini. Tentu ada alasan logis, historis serta berkah rahmat Allah Subhanahu wata ‘ala-lah yang melatarbelakangi fakta tersebut. Untuk itu berikut ini dituliskan sekelumit perkembangan Jakarta dari masa ke masa.

Sunda Kalapa (397–1527)

Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kalapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang berarti ibu kota ) dalam tempo dua hari.

1312480932406550445Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sundapura.

Kerajaan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. Wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran dipantai utara meliputi daerah Cirebon, Sangiang dan Banten. Kalapa termasuk wilayah Sangiang yang disebut oleh orang-orang Portugis sebagai Samian. Nama pelabuhan tersebut ditemukan dalam dua naskah lontar baraksara Sunda kuno, yaitu Bujangga Manik dan Carita Parahiyangan.

Entah bagaimana ceritanya, naskah Bujangga Manik itu kini tersimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford.Isinya tentang kisah perjalanan Bujangga Manik, seorang rahib yang berasal dari keraton pakuan,menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Waktu itu Majapahit masih menguasai Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali secara utuh, serta Kesultanan Demak belum berdiri. Ketika pulang dari perjalanan pertama dia menumpang sebuah kapal layar dari Pamalang sampai Kalapa. Antara Kalapa dan Pakuan ditulis 11 nama tempat yang dilaluinya. Namun, hanya tiga nama tempat yang masih dapat diidentifikasi yaitu, Kalapa, Pabean dan Ancol. Disamping itu disebut-sebut pula orang Angke yang menjadi salah seorang anak buah kapal.

Naskah Carita Parahiyangan tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode naskah koropak nomor 406.Naskah tersebut telah diterjemahkan oleh Aca dan Saleh Danasasmita. Dalam Carita Parahiyangan disebut-sebut nama tempat Kalapa,Ancol (Tiji), Tanjung dan Wahanten (Banten).

Kalapa pada zamannya tergolong pelabuhan internasional. Tidak hanya perahu-perahu dari berbagai penjuru Nusantara, tetapi juga yang biasa berlabuh di situ kapal-kapal dari Negara lain seperti Tiongkok, Arab dan India. Pada paruh kedua abad ke-15, kalapa disinggahi kapal orang-orang portugis. Mereka membuat peta navigasi dari pantai utara Pulau Jawa. Dalam peta itu, Kalapa tercantum dengan nama Cunda Calapa.

Orang-orang Portugis melengkapi nama Kalapa dengan kata Sunda untuk menyatakan bahwa pelabuhan itu milik Kerajaan Sunda atau lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. Nama Kalapa mulai mucul antara lain ketika Tome Pires menyebut dalam bukunya, Suma Oriental, bahwa pelabuhan yang letaknya di sisi sebelah timur muara sungai Ci Liwung itu adalah pelabuhan yang sudah tertata rapi, ada Syahbandar, hakim juga bendahara (mangkubumi). Hal tersebut juga tercatat oleh Jan Huygen van Linsihoten dalam Itinerario yang dibuat pada tanggal 1556.

Jayakarta

Raja Sunda Pajajaran pada masa itu, Sri Baduga Maharaja, tidak resah mengetahui agama Islam merembes masuk ke wilayah kerajaanya karena tampak berlangsung secara damai tanpa kekerasan senjata. Bahkan menurut cerita, ada beberapa keluarga istana yang memeluk agama islam seperti Kian Santang yang berguru kepada Syekh Quro di dataran Karawang sekarang. Daerah Cirebon pun sampai dikuasai oleh kaum muslimin dibawah pimpinan Syarif Hidayat yang bergelar Susuhunan (Sunan) Jati.

Sri Baduga Maharaja Memerintah selama 39 tahun dan kemudian digantikan oleh Surawisesa. Baik sumber Portugis maupun Nagara Kretabhumi, mengisahkan bahwa dia pernah diutus ayahnya untuk menghubungi Alfonso d’Albuquerque di Malaka saat masih sebagai putra mahkota. Putra mahkota, Surawisesa, mengupayakan hubungan diplomatik dengan orang-orang Portugis di Malaka yang telah menguasi Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali,yaitu tahun 1512 dan 1521. Hasil kunjungan pertama ialah kunjugan penjajakan pihak portugis dan hasil kunjungan kedua ialah kedatangan utusan Portugis ke Pakuan. Perutusan ini dipimpin oleh Hendrik de Leme, ipar Alfonso. Pada tahun 1522 Gubernur Portugis d’Albuquerque yang berkuasa di Malakka mengirim utusannya, Enrique Leme yang didampingi oleh Tome Pires untuk menemui Raja Pakuan Pajajaran, Sangiang Surawisesa. Pada 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian persahabatan antara Pajajaran dan Portugal. Hal ini ditulis oleh Tome Pires dalam catatan hariannya. Dalam kunjungan tersebut telah tercapai persetujuan antara Pajajaran dengan Portugis mengenai perdagangan serta keamanan.

Padrao_sunda_kelapa_1522_museum_nasionalSelain itu, dalam perjanjian tersebut di sepakti bahwa portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Pajajaran. Kemudian saat benteng muai dibangun, pihak Pajajaran akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua costumodus (kira-kira seberat 351 kuintal).

Perjanjian Pajajaran dengan Portugis sangat mencemaskan Trenggana yang waktu itu menjadi Sultan Demak III. Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara sebelah selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam terputus (W. Fruin Mees, Geschiedenis van Java).

Trenggana segera mengirim armadanya dibawah pimpinan Fatahilah, sasaran utamanya adalah Banten pintu masuk Selat Sunda. Dalam Carita Parahiyangan, pasukan kesultanan Demak berhasil menguasai Sunda Kalapa yang didukung oleh penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah yang setelah wafat lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati, Setelah mengalahkan penguasa Kalapa, Ratu Sangiang (adik Surawisesa).

Menurut Prof. Slamet Muljana, nama lengkap Fatahillah adalah Maulana Fadillah Khan Ibnu Maulana Makhdar Ibrahim al-Gujarat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dia berasal dari Gujarat, India. Kemudian dia menjadi pemimpin pasukan dari Kesultanan Demak, yang mengalahkan Kerajaan Banten dan setelah itu menduduki Sunda Kalapa. Naskah Purwaka Caruban Nagari yang diteliti oleh Prof. Slamet Mulyana menulis, bahwa Panglima Demak yang berasal dari Pasai, yang berhasil menguasai Banten dan kemudian Sunda Kalapa tahun 1526 dan 1527 bernama Fadillah Khan.

jaccatraPada 1527 datanglah pasukan portugis dibawah pimpinan Francisco de Sa. Bantuan portugis ini datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Orang Portugis itu tidak mengetahui jika Sunda Kalapa sudah dikuasai oleh Fatahilah. Pasukan Portugis turun dengan sekoci-sekocinya untuk merapat kepelabuhan Sunda Kalapa dengan sekoci-sekocinya.

Setelah merapat, mereka disergap oleh Fatahilah dan pasukanya. Namun, Francisco de Sa berhasil melarikan diri karena dia tidak ikut turun bersama pasukanya. Setelah dikuasai sepenuhnya oleh Fatahilah, nama Sunda Kalapa diganti menjadi Jayakarta yang mengandung arti kemenangan atau kesejahteraan mutlak. Ada juga yang menulis menggunakan Jayakerta atau Jakerta, kemudian umum disebut Jakarta.

Mengenai penggantian Sunda Kalapa menjadi Jayakarta hingga kini terdapat dua pendapat yang berbeda, yaitu menurut Prof. Mr. Dr. Soekanto dan Prof. Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat. Menurut Dr. Soekanto Fatahilah merebut Sunda Kalapa pada akhir februari 1527. Beberapa hari kemudian datanglah armada Portugis dibawah pimpinan Francisco de Sa yang bermaksud membangun benteng di Sunda Kalapa.Armada ini digempur oleh Fatahilah kira-kira pada pertengahan maret 1527.

Dengan tercapainya kemenangan itu, maka setelah mempertimbangkan masak-masak dan berdasaran penanggalan pranatamangsa ( penanggalan yang hidup dikalangan rakyat dan berhubungan dengan pertanian), Fatahilah mungkin sekali memilih tanggal 1 pranatamangsa sebagai hari untuk mengganti nama Sunda Kalapa dengan nama Jayakarta. Tanggal 1 pranatamangsa tersebut menurut penanggalan Masehi jatuh pada 22 Juni 1527. Seperti yang dikemukakan di atas, arti Jayakarta adalah kemenangan penuh Fatahilah terhadap orang-orang Portugis, Musuh yang sangat dibenci orang Islam pada masa itu.

Sanggahan terhadap pendapat Dr. Soekanto dikemukakan oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat. Menurutnya, berdasarkan sumber dari penulis sejarah bangsa Eropa, armada Francisco de Sa berangkat dari Malaka menuju Sunda Kalapa pada 23 Oktober 1526. Pada Desember 1526 ketika perayaan Natal di Cochij (India), diperoleh kabar bahwa rombongan itu telah kembali dan pada akhir Desember 1526, Francisco de Sa bertolak ke India.

Berdasarkan hal tersebut, Prof.Hoesein Djajadiningrat berpendapat jatuhya Sunda kalapa terjadi pada Desember 1526. Jika jatuhnya Sunda Kalapa ke tangan Fatahilah bertepatan dengan hari raya atau hari peringatan Islam , maka diduga bahwa pada hari raya Islam yang paling dekat di akhir Desember 1526 adalah Hari Maulud 12 Rabiulawal 933 Hijriah yang jatuh pada senin, 17 Desember 1526.

Besar kemungkinan Fatahilah merenungkan kemenanganya, ia teringat pada kemenangan Muhammad yang terpenting yaitu merebut Kota Mekah dan teringat pula kepada ayat pertama dari surat Al-fath yang berbunyi “Inna fatahna laka fathan mubinan” (sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan kepadamu kemenangan yang tegas).

Oleh karena itu, Fatahilah mendapat ilham untuk menamai dirinya Fathan ( nama ini kemudian karena salah dengar dan salah tulis, dijadikan Falatehan oleh orang Portugis), sedangkan nama Sunda Kalapa lalu diganti dengan terjemahan kata Fathan Mubinan yaitu, Jayakarta. Demikian dua pendapat mengenai penamaan dan penanggalan digantinya nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.

Batavia

kalibesar1937Nama Jayakarta yang mengandung arti kejayaan dan kesejahteraan itu rupanya tidak begitu memberi kenyataan seperti ketika Sunda Kalapa terkenal sebagai Kota Pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal niaga, baik antrarpulau maupun internasional. Setelah dinamai Jayakarta justru pamornya semakin lama semakin kalah dengan pelabuhan Banten.
Selama puluhan tahun Pelabuhan Jayakarta lebih banyak dikenal sebagai pelabuhan nelayan dan jarang sekali disinggahi kapal niaga. Padahal beberapa komoditinya seperti beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak melimpah, harga murah, sebagaimana diberitakan oleh Jan Huygen van Lincehoten ( Jan huygen van Lincehoten adalah pelaut Belanda pertama yang mengetahui rahasia rute pelayaran orang-orang Portugis ke Asia Timur) dalam Itinerario.

Jayakarta adalah bagian wilayah Kesultanan Banten.Sultan Maulana Hasanuddin mengangkat menantunya, Tubagus angke, sebagai penguasa Jayakarta. Pada 1601 Tubagus angke wafat. Jabatanya sebagai penguasa Jayakarta diteruskan oleh putranya, Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang lebih dikenal sebagai Pangeran jayakarta. Sebagai kepala daerah yang berjiwa muda Pangeran Jayakarta Wijayakrama jauh lebih berani mengambil keputusan dan tidakan dibandingkan dengan ayahnya untuk kemajuan Jayakarta. Dia berani membuat persetujuan dengan persukuan dagang asing. Mula-mula dengan orang-orang Inggris, kemudian dengan orang-orang Belanda.

VOC

Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Pieter Both yang menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, lebih memilih Jayakarta sebagai basis administrasi dan perdagangan VOC daripada pelabuhan Banten.
Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda. Bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis atau rumah Nassau.

Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618 – 1623), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis. Dia kemudian membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam. Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh.

Dari basis benteng ini pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang tuan rumah, dan membumihanguskan keraton serta seluruh pemukiman penduduk diratakan dengan tanah. Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Horn, namun de Heeren Seventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang bangsa Batavir, yaitu bangsa Germania yang bermukim di tepi Sungai Rhein yang kini dihuni oleh orang Belanda.

Pada 4 Maret 1621 penguasa VOC resmi mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia, yang digunakan oleh Belanda selama lebih dari 300 tahun Tanggal 30 Mei 1619 dapat ditetapkan sebagai awal penjajahan Belanda di Batavia, yang resmi berakhir tanggal 9 Maret 1942, yaitu dengan menyerahnya Pemerintah Nederlands Indië (India Belanda) kepada Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Panglima Tertinggi Tentara Belanda di India Belanda, Letnan Jenderal Hein ter Poorten menandatangani dokumen menyerah tanpa syarat (unconditional surrender) kepada balatentara Dai Nippon, dan menyerahkan jajahan Belanda kepada Jepang.

Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Walaupun sebelum mereka datang, sudah ada penduduk yang tinggal di wilayah Jayakarta (suku Sunda) dan pada umumnya menyingkir dari batas wilayah kekuasaan Belanda. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolonialisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

Nama-nama tempat dan jalan yang diberikan atau ditetapkan pada zaman kolonial, dari masa pemerintahan VOC sampai masa awal pemerintahan kolonial Hindia Belanda, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, nama-nama tempat dan jalan yang berasal dari Bahasa Belanda, seperti Batavia seperti nama kota dan Oranje Boelevaard ( sekarang jalan Diponegoro ) sebagai nama jalan. Kedua, nama-nama tempat yang berasal dari Bahasa pribumi contohnya Cililitan, Marunda, Condet dan Menteng.

Ja(ya)karta pada Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan tentara Jepang, nama Ja(ya)karta dihidupkan kembali dengan pelafalan Jakarta bukan Jayakarta. Hal itu diumumkan dalam Kang Po ( berita pemerintahan balatentara Jepang) No. 9 thn. I bulan 12 tanggal 8 Desember 1942 untuk waktu yang tidak terbatas.

Pertempuran Jakarta melawan Sekutu

Kramat Raya merupakan daerah di Jakarta yang mempunyai tingkat frekuensi dan kualitas pertempuran paling tinggi dalam kurun waktu 1945-1949. Di sekitar daerah ini banyak mengalami korban terutama orang-orang tua, wanita, dan anak-anak akibat peluru nyasar atau pertempuran yang secara sporadis terjadi. Pemberontakan dan perlawanan biasanya dilakukan gerakan bawah tanah, badan perjuangan, dan organisasi rakyat. Konflik internal dalam diri komponen RI telah menimbulkan persoalan tersendiri pasca kemerdekaan, yang memerlukan waktu cukup lama untuk meredam berbagai gejolak antar-kelompok yang tak sejalan.

Pada tanggal 12 Oktober 1945 terjadi pertempuran di Jl. Kramat Raya, terutama di daerah Kemolong (Kramat IV), Gg. Listrik (Kramat III) dan sepanjang Jl. Kramat Raya. Dalam pertempuran ini pihak musuh mengalami kerugian besar akibat tewasnya pasukan sekutu dan terampasnya senjata-senjata oleh pasukan pemuda pejuang yang dipimpin Bang Pi’ie. Pertempuran sehari terjadi 17 November 1945 di sekitarnya. Kramat Raya, antara pasukan pejuang bersenjata dengan pasukan NICA di daerah Kramat, Tanah Tinggi, Senen, Jakarta dan sekitarnya. Pasukan NICA dengan membabi buta menembaki rakyat. Mereka melakukan pula di daerah Tanah Tinggi, Kramat Pulo, dan Gg. Sentiong dengan mortir. Banyak rumah-rumah rakyat yang dibakar sampai habis sehingga menimbulkan 3 orang korban yaitu: M. Tabri, Ibrahim (A’im) dan Harun.

Pertempuran sengit berkobar pula di daerah Medan Senen (sekarang muka Proyek Senen). Pasukan pemuda pejuang di bawah pimpinan Bang Pi-ie, Hermanus, M. Sidik Kardi dan Ma’mun, pasukan pemuda pejuang Tanah Tinggi yang bermarkas di Gedung Pabrik Limun Landre dan Zoom Jl. Kramat Raya 43 (sekarang PT Astra Graphia) pimpinan M. Supardi Shimbad, pemuda pejuang Gg. Sentiong pimpinan K.A. Rasyid, Kami, Rameni Kid, pasukan pemuda pejuang Kampung Rawa dan Pulo Gundul pimpinan Harun Rasyid, pasukan pemuda pejuang Bungur, Kepu, Kemayoran pimpinan Kaicang, Mashud dan Mohd. Saleh, pasukan pemuda pejuang KRIS pimpinan Sumilat dan Palar, kesemuanya mengadakan serangan dan perlawanan sengit, sehingga sebuah tank NICA lumpuh. Keadaan ini terjadi persis di samping Bioskop Grand (Pasar Burung Lama).

Pasukan di bawah pimpinan Bang Pi-ie dan Dogol dalam pertempuran tersebut berhasil merampas puluhan senjata diantaranya 3 Karabyn, Stengun, Pistol dan beberapa puluh pasang sepatu batao Beberapa senjata dan jeep juga berhasil dirampas di Jl. Kramat Raya, Gg Acong (Kramat I) muka Kantor Pos pembantu, selain sebuah jeep merk Ford yang kemudian disembunyikan di Jl. Gandasuli Tanah Tinggi. Pada peristiwa 8 November 1945, Rachman Zakir dan Daan Anwar tertembak, saat keduanya keluar dari Markas pemuda Trem di Jl. Kramat Raya (depan Gg. Kramat Lontar) menuju kantor KOWANI di Kramat VIII.

Tentara NICA tiba-tiba menangkapnya dan dibawa ke markas. Namun dua orang pembantunya (NICA Ambon) memerintahkan tembak di tempat saja. Daan Anwar dan Rachman Zakir diperintahkan sembahyang tapi sebelum selesai mengucap kalimat sahadat, NICA menembaknya. Zakir terkena lima peluru di kaki, pundak tangan dan perutnya, sedang Anwar kena di matanya. Beberapa anggota pejuang mengetahui kejadian tersebut dan membantu membawanya ke RS. Tanggal 11 Januari 1946, Daan Anwar yang mengganti namanya Alwi, dapat pulang dari RS. Setelah kejadian itu datanglah Bang Pi-ie berikut pasukan khususnya dari Markas OPI Gedung REX Senen, dengan bersenjata lengkap, juga pasukan pemuda pejuang Batak pimpinan Hermanus Panggabean, Kristop Sitompul, pasukan pemuda KRIS pimpinan Sumilat, Lapar, Solang dan Palar. Akhirnya terjadi pertempuran sengit dan dahsyat selama dua hari dua malam.

Terjadi satu peristiwa pembakaran rumah rakyat sampai habis di daerah Pejambon oleh Tentara NICA pada 21 November 1945. Bahkan penduduk yang akan menyelamatkan diri dari kobaran api ditembak secara membabi buta, sehingga korban semakin banyak. Peristiwa ini sebenarnya rangkaian pertempuran antara pejuang bersenjata dengan pasukan NICA di daerah Kramat, Prapatan Menteng, Tanah Abang dan daerah lainnya. Ketika itu pasukan BKR/TKR dalam keadaan konsinyir, karena 19 November 1945 harus meninggalkan Kota Jakarta, yang dijadikan tempat perundingan. Pasukan BKR/TKR harus dipindahkan ke sebelah timur kali Cakung, sedangkan Markas Resimen VI berkedudukan di Cikampek dan Opsir sebagai penghubung bermarkas di Jl. Cilacap No. 5 Jakarta.

Kali Cakung

Merupakan rangkaian pertempuran di Warung Djengkol pada masa pasca kemerdekaan, khususnya pada Agresi Militer Belanda. Pertempuran berlangsung sengit dan melebar ke sekitar Kali Tjakung, Jakarta. Pertempuran yang terus berlangsung sengit, menjatuhkan sebuah kapal terbang Inggris di Rawa Gatel (sekarang dekat By Pass) yang berisikan 21 orang penumpang, serta terjadi pula pertempuran dengan bom. Ketika itu kapal terbang Inggris menggunakan peluru dum-dum, dengan senjata Conform. Ke 21 orang penumpang dibunuh dengan disembelih dan dikubur di dalam satu kuburan, oleh para pejuang yang tergabung dalam Kesatuan Polisi Tangsi. Peristiwa ini terjadi karena masing-masing pihak terbakar oleh revolusi dan pertempuran yang dahsyat.

Karena para pejuang tidak mengindahkan perintah dari batalyon 5 Tambun untuk mengembalikan pasukan yang ditawan (telah dibunuh tersebut), akhirnya Inggris menyerbu dan Warung Djengkol dan Belanda dari arah Pekajan. Belanda pun dapat menduduki alun-alun dan para pejuang mundur, sedangkan pasukan Inggris berkesempatan untuk maju. Sementara pasukan Kapten Sumantri terus menuju ke arah utara. Canon-canon yang dibuang ke Kali Sokan diambil oleh Belanda dan tangsi polisi pun diduduki oleh pihak musuh. Seorang tawanan berkebangsaan Jerman tertangkap oleh pasukan Inggris. Orang inilah yang menunjukkan tempat dikuburkannya ke 21 orang penumpang yang dibunuh ketika pesawat terbang Inggris jatuh tertembak. Setelah Inggris memeriksa keadaan tempat tersebut dan mengetahui bahwa ke 21 orang pasukannya dibunuh tidak dengan cara ditembak melainkan disembelih, pasukan Inggris menjadi marah sekali dan melakukan penyerangan kembali serta membakar desa-desa. Belanda pun ikut melakukan penyerangan kembali dan menduduki daerah Bekasi. Sementara daerah Tjakung dan Krandji telah diduduki oleh sekutu.

Bagian Timur Front Kalibata yang membentuk pula BKR bermarkas di Pabrik Bata di bawah pimpinan Sjofjan Sjafei dan Mohammad Junus sebagai wakilnya. Front ini terdiri dari para pemuda dan orang-orang tua yang berjiwa revolusioner, yang bersenjatakan bambu runcing, karaben (hasil rampasan Jepang di Tjawang), slepit, bandring dan samurai.

Salakanagara : Kisah seorang Jawara

Seorang kepala kampung (pangulu) yang ditunjuk sebagai pengaman priuk yang diperdagangkan di tepi Kali Tirem. Ia tinggal di Kampung Warakas bersama isteri dan anak perempuannya yang bernama Larasati. Area Kali Tirem di Tanjung Priok pada abad ke-2 banyak terdapat bajak laut yang merampok priuk di tempat penyimpanannya. Seorang diri Aki Tirem melakukan perlawanan, namun kadang-kadang juga dibantu penduduk setempat. Karena merasa kewalahan ia berpikir bahwa perdagangan priuk tersebut harus dilindungi oleh sebuah kerajaan.

Aki Tirem memiliki nama lain Aki Luhur Mulya, seorang penghulu yang mengepalai kawasan pesisir barat pulau Jawa pada permulaan abad ke-2 masehi Sejak dahulu sudah menjadi tradisi pemberian julukan di Nusantara bahwa nama julukan itu mengacu pada lokasi tempat tinggal orang yang bersangkutan. Aki kemungkinan besar berdiam di tepi Kali Tirem (Kampung Warakas sekarang). Jabatan kepenghuluan Aki Tirem perlu disimak dengan kritis karena mengingat belum ada dalam struktur kerajaan pada masa itu, sangat mungkin kepenghuluan itu bersifat independen. Ia tampaknya menerima jabatan itu dari rakyat yang menghargai atau menghormati ia sebagai seorang yang jago berani berkelahi menghadapi perampok maupun bajak laut.

Dalam riwayat diceritakan bahwa Aki Tirem pernah mengalahkan dan menghalau sekitar 70 bajak laut dibantu beberapa anak buahnya dengan tangan kosong. Ia adalah cikal-bakal sosok jago atau Jawara yang kemudian lahir pada abad-abad selanjutnya. Kemudian pada tahun 130M, Aki Tirem mendirikan sebuah kerajaan bernama Salakanagara, kerajaan pertama di Jawa. Karena dirinya merasa tidak pantas menjadi raja, kedudukan itu dia percayakan kepada Dewawarman seorang menantunya.

Kerajaan pertama di tanah Jawa yang didirikan oleh Aki Tirem pada tahun 130 M. Sebagai raja yang pertama adalah Dewawarman, seorang berilmu dari India, menantu Aki Tirem yang menikah dengan Larasati. Kerajaan tersebut pada awalnya dimaksudkan untuk melindungi perdagangan priuk di Kali Tirem yang sering dirampok oleh kawanan bajak laut yang jumlahnya mencapai 100 orang.

Kerajaan itu dinamakan Salakanagara dimungkinkan berkaitan dengan sistem kepercayaan penduduk waktu itu yang menganggap gunung menyimpan kekuatan spiritual yang amat dahsyat. Sebuah gunung di dekat Leuwiliang, dimana priuk dibuat, sering terlihat berwarna keperak-perakan (bila sinar matahari sedang memancar terang), sehingga gunung itu diberi nama Gunung Salak. Keberadaan Kerajaan Salakanagara juga disebut oleh sumber Tiongkok. Disebutkan bahwa pada tahun 123 M raja Ye Tiau bernama Tiao Pien mengirim utusan ke Cina pada zaman Dinasti Han. Dalam hal ini Ye Tiau ditafsirkan Jawa dan Tiau Pien adalah Dewawarman. Meskipun raja-raja Salakanagara beragama Hindu, namun masyarakat tetap berpegang pada kepercayaan nenek moyang bawahan Tarumanagara saat diperintah oleh Dewawarman IX. Kerajaan Salakanagara saat ini kemungkinan terletak di Condet (Ci-ondet).

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s