Bandung tiada hari tanpa pertempuran

Masa revolusi fisik yang berlangsung dalam kurun waktu tahun 1945 hingga tahun 1949 merupakan sebuah masa dalam perjalanan sejarah Indonesia yang sarat dengan warna–warni perjuangan untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidaklah serta merta segera mengubah situasi dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa merdeka.

61Menjelang berakhir perang Dunia ke-II mulai Juli 1945 wilayah Indonesia masuk kedalam Komando South East Asia Command (SEAC) dibawah pimpinan Panglima sekutu LORD L. MOUNTBATTEN yang berkedudukan di Colombo Srilangka. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu Inggris diberi tugas RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interneers) yaitu pengurusan dan pemulangan tawanan perang dan interniran Sekutu di Indonesia.

Tentara sekutu disamping tugas pokok untuk menyelesaikan tugas RAPWI mengemban pula tugas sampingan yang diutamakan yaitu melaksanakan persetujuan Civil Affair Agreement tanggal 24 Agustus 1945 dengan Belanda, dimana Inggris berjanji untuk mempergunakan badan-badan Netherland Indies Civil Administration (NICA) dalam urusan pemerintahan dan untuk selekasnya memulihkan kekuasaan Belanda di Indonesia. Kemudian setelah Inggris menyerahkan kekuasaan atas Indonesia dengan kelicikan Belanda untuk mengadudombakan antar penduduk asing (Cina, Arab, India) dengan penduduk Cina (Kuomintang).

Pada tanggal 12 Oktober 1945 pemerintah Indonesia mengizinkan pasukan Sekutu untuk memasuki kota Bandung. Mereka menumpang kereta api untuk sampai di Bandung. Izin dari pemerintah ini diberikan karena Sekutu menyatakan maksudnya hanya untuk mengurus para tawanan perang (tentara Jepang). Tetapi ternyata Sekutu mempunyai maksud lain, yaitu ingin menguasai kota Bandung.

Sejak Tentara Sekutu menduduki kota Bandung, maka pergerakan lalulintas, baik personil maupun perlengkapan logistik antara Jakarta-Bandung, mereka upayakan dengan segala cara. Mula-mula untuk memenuhi kebutuhan akan perbekalan dan perlengkapan 60.000 anggota APWI di Bandung. Mereka mencoba mengirimkan barang-barang tersebut dengan mempergunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung sebanyak 20 gerbong, yang dikawal oleh serdadu-serdadu Ghurka, melalui jalur utara.

Akan tetapi karena tidak ada koordinasi dengan Pasukan-pasukan TKR yang bertugas di daerah Dawuan, ialah Batayon Priatna dari Resimen – 5 TKR. Pengawal-pengawal perjalanan kereta api yang hanya dilakukan oleh 10 orang serdadu Ghurka dalam tempo sekejap sudah bisa dilumpuhkan, 4 orang tertembak mati, sedangkan 6 orang menyerahkan diri sebagai tawanan.
Isi ke 20 gerbong tersebut disita, yang terdiri dari makanan kalengan, seperti nasi goreng, kornet, sardencis, susu, keju, coklat dan sebagainya.

Juga terdapat sejumlah besar pakaian dan selimut. Dengan demikian pada saat itu Resimen-5 TKR memperoleh rezeki nomplok, bahkan rakyat penduduk setempatpun ikut menikmatinya.
Namun ternyata insiden ini menjadi berkepanjangan pula. Tentara Sekutu mengajukan “protes keras” kepada Menteri Amir Sjarifoeddin. Minta agar perbekalan dan perlengkapan yang disita tersebut dikembalikan. Selanjutnya juga Menteri Amir Sjrifoeddin memberikan tegoran kepada Komandan Resimen – 5 TKR, ialah Mayor Moefreni untuk mengembalikan barang rampasan tersebut. Namun Mayor Moefreni menolak. Hanya para tawanan serdadu Ghurka yang bisa dikembalikan, itupun harus ditukar dengan para pejuang yang menjadi tawanan Tentara Sekutu di Jakarta.

Akhirnya Mayor Kawilarang diperintahkan Panglima Komandemen 1 TKR, Mayjen Didi Kartasasmita di Purwakarta, untuk melakukan tukar-menukar, 6 orang tawanan serdadu Ghurka, dengan pembebasan 8 orang para pejuang Republik Indonesia yang ditawan oleh Tentara Sekutu di Rumah Penjara Cipinang. Diantaranya ialah Mr. Soepangat dan Chairil Anwar.

Setelah insiden tersebut maka diperoleh kesepakatan antara Pemerintah RI dengan pihak Tentara Sekutu. Bahwasanya setiap pengiriman perlengkapan dan perbekalan bagi Tentara Sekutu di Bandung harus dikawal oleh TKR-RI. Dengan demikian maka sejak tanggal 11 Desember 1945, pengawalan kereta api yang membawa perbekalan dan perlengkapan Tentara Sekutu dari Jakarta ke Bandung dilaksanakan oleh para Taruna dari Akademi Militer Tanggerang.

Selama kurang lebih satu bulan pada waktu itu, telah dilakukan tiga kali pengiriman perbekalan dan perlengkapan Tentara Sekutu dari Jakarta ke Bandung. Perjalanan pertama dikawal oleh 20 orang Taruna Akademi Militer Tanggerang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot. Perjalanan kedua dipimpin oleh Mayor Kemal Idris, Sedangkan perjalanan yang ketiga dipimpin oleh Kapten Islam Salim. Semua pengiriman perbekalan ini berjalan mulus tanpa hambatan apapun.

Akan tetapi kebutuhan Tentara Sekutu untuk melakukan operasinya di kota Bandung rupanya tidak hanya sebatas perbekalan dan perlengkapan saja. Namun memerlukan juga dukungan peralatan dan persenjataan berat lainnya, dari Pasukan-pasukan Kavaleri, Artileri, Zeni dan sebagainya, yang mungkin dapat diangkut dengan kereta api.

Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut pihak Tentara Sekutu juga menyelenggarakan konvoy kendaraan-kendaraan di jalan raya secara periodik, yang dikawal ketat oleh mobil-mobil lapis baja dan tank-tank tempur. Dengan demikian sejak saat itu, maka setiap 1 atau 2 minggu sekali, akan terlihat iring-iringan kendaraan-kendaraan Tentara Sekutu di jalan raya antara Bandung-Jakarta pp.

Nampaknya Panglima Komandemen TKR Jawa Barat Mayjen Didi Kartasasmita memahami betul, bahwa pada saat itu situasi kondisi di seluruh Jawa Barat meningkat semakin genting. Pertempuran-pertempuran telah berkecamuk didalam kota Bandung, yang pernah menyandang gelar “kota diplomasi”, karena telah berhasil memisahkan antara dua kubu yang berseteru, ialah kubu Sekutu dengan antek-anteknya, disebelah utara rel kereta api dan kubu para pejuang disebelah selatan. Namun sebenarnya, setiap hari pertempuran terus berkecamuk disetiap penjuru kota. Sampai-sampai muncul kata pemeo : “di Bandung tiada hari tanpa pertempuran”.

Pada saat itu juga Panglima Komandemen TKR Jawa Barat Mayjen Didi Kartasasmita mengeluarkan perintah, untuk menyerang konvoy-konvoy di jalan-jalan raya dalam wilayah Divisi III. Hubungan lalu-lintas personil dan logistik mereka, harus diputuskan selama mungkin. Namun demikian serangan harus dilakukan di tempat-tempat yang jauh dari perkampungan rakyat. Yaitu di daerah-daerah pegunungan dan hutan-hutan.

Pertempuran-pertempuran antara Tentara Sekutu dengan TKR dan Barisan Pejuang di Bandung, semakin meningkat. Melalui pertempuran-pertempuran tersebut semakin banyak pula senjata-senjata dan perlengkapan lainnya dari Tentara Sekutu yang jatuh ke Tangan para pejuang kita, juga jumlah pelarian-pelarian pribadi serdadu-serdadu India Muslim ke Pihak Republik Indonesia semakin meningkat.

Nampaknya Brigadier Mc. Donald selaku Komandan Brigade ke 37 Tentara Sekutu di Bandung, memerlukan bantuan dari Jakarta, tidak hanya perbekalan dan Pasukan Infanteri saja yang bisa diangkut melalui jalur udara, tetapi juga memerlukan, Pasukan Kendaraan Lapis Baja dan Meriam, serta perbekalan dan alat-peralatan lainnya yang harus didatangkan melaluli jalur darat.
Kemungkinan bantuan-bantuan Tentara Sekutu melalui jalur darat ini, rupanya juga sudah menjadi perkiraan para pejuang di Bandung, oleh karena secara pribadi, mereka menyarankan agar para pejuang, yang berada disekitar jalur antara Bandung-Jakarta untuk mengganggu lalu-lintas kendaraan-kendaraan musuh tersebut.

Saran pejuang Bandung itupun disambut pejuang/TRI sepanjang rute perjalanan menuju Bandung hingga pertempuran terus berkecamuk mulai dari Cibadak, Sukabumi, Ciranjang, Cianjur, Padalarang, di sekitar Cisokan, Citarum dan Purabaya. Akibatnya asrama-asrama pasukan ditembaki dengan meriam. Di daerah Padalarang sekutu mengadakan pembersihan sampai jauh sekelilingnya. Beberapa perwira TRI tertawan antara lain Mayor Sidik Brotoatmojo. Kepala Staf Resimen 9.

Brigade ke-37 Tentara Sekutu yang berada di Bandung melakukan aksi besar-besaran, mulai dari Cimahi sampai Padalarang, menyerang kedudukan-kedudukan TRI.
Keadaan menjadi kacau-balau, hubungan antara pasukan menjadi terputus, yang diketahui hanyalah telah terjadi pertempuran yang terus menerus antara daerah Ciranjang dan Padalarang. Kerugian di pihak musuh tidak jelas, namun kabarnya mereka menderita kerugian sampai ratusan serdadunya telah tewas.

Pada tanggal 23 November 1945, pemimpin Sekutu yang berkedudukan di Bandung mengeluarkan ultimatum yang ditujukan kepada para pejuang dan pemuda yang memiliki senjata agar menyerahkan senjatanya dan meninggalkan wilayah Bandung Utara. Para pemuda dan pejuang menolak ultimatum itu. Akhirnya pada tanggal 1 Desember 1945 pertempuran pun tidak bisa dielakkan. Kota Bandung menjadi ajang baku tembak yang sengit antara para pejuang dan pasukan Sekutu.

Mendapatkan perlawanan yang sengit dan dengan kenyataan bahwa Walikota Bandung, Syamsurizal, tidak bisa diajak kompromi, maka tentara Sekutu melakukan diplomasi langsung ke pemerintah pusat. Upaya ini membuahkan hasil, yaitu pada tanggal 22 Maret 1946 Perdana Menteri RI Sutan Syahrir mengirim dua utusan, Mayjen. Didi Kartasasmita dan wakil menteri Mr. Syafrudin Prawiranegara, untuk menyampaikan pesan bahwa para pejuang yang ada di kota Bandung harus meninggalkan Bandung Utara dengan tidak melakukan perusakkan apapun.

Para pejuang menolak hal ini karena belum yakin. Akhirnya, tanggal 23 Maret 1946, Mayjen. Didi Kartasasmita sebagai Komandan Komandemen I Jawa Barat didampingi oleh Komandan TRI Divisi III Kolonel A.H. Nasution kembali ke Jakarta untuk mengklarifikasi perintah itu serta menyampaikan keinginan seluruh rakyat Bandung.

Tanggal 24 Maret 1946, Komandan TRI Divisi III menyelenggarakanlah rapat kilat di Regentweg dengan komandan-komandan, Staf, MPPP (Musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan), Pemerintah Sipil dan tokoh-tokoh KNI, langsung memberikan penjelasan kepada seluruh unsur perjuangan di kota Bandung bahwa pemerintah pusat tetap pada pendiriannya, demi tujuan diplomasi. Isi instruksi pemerintah pusat itu adalah: “Semua orang dan pasukan bersenjata selambat-lambatnya tanggal 24 Maret 1946 harus meninggalkan kota Bandung keluar hingga jarak 11 kilometer dan tidak diperbolehkan melakukan pembakaran-pembakaran atau pengrusakan-pengrusakan”.

Pihak sipil meminta penundaan batas waktu dengan alasan untuk mententramkan perampokan. Akan tetapi permintaan itu ditolak oleh pihak sekutu. Panglima Inggris tidak bersedia memperanjang waktu. Dalam rapat itu Mayor Rukana, Komandan Polisi Tentara mengusulkan untuk membumihanguskan dan kemudian menutup terowongan kali Citarum diperbatasan barat dengan ledakan dinamit, katanya sudah diramalkan Bandung akan menjadi “Lautan Api dan Lautan Air”.

Komandan Resimen dan lain-lain Perwira ingin bertempur terus, namun kemudian Wakil Persatuan Perjuangan Kamran dan Sutoko mempertimbangkan agar bersama rakyat keluar saja, akan tetapi Bandung harus dibakar. Komandan Divisi sangat sulit untuk menentukan sikap karena dihadapkan pada :

1. Three conflict order (dari pusat, Penasehat Militer dan MBT).
2. Dihadapkan pada pertimbangan kekuatan yang tidak seimbang yaitu sekutu dengan kekuatan Divisi India 12.000 orang dengan persenjataan lengkap, ditunjang dengan kendaraan tempur (tank) dan meriam-meriam yang berbanjar serta truk di Jl. Sumatra dengan garis demarkasi yang sudah siap apabila TRI menyerang. Sedangkan kekuatan TRI hanya 4 batalyon dengan 100 pucuk senjata senapan seluruhnya takan mampu menangkis kekuatan musuh, andai kata TRI melawan itu bunuh diri namanya.
3. Pemerintah Sipil Menyatakan ketaatannya kepada Perdana Menteri St. Syahrir.

Dari situasi yang mencekam pukul 14.00 dikeluarkan perintah :
1. Semua pegawai dan rakyat harus keluar kota sebelum pukul 24.00
2. Tentara melakukan bumi hangus terhadap semua bangunan yang ada.
3. Sesudah matahari terbenam, supaya Bandung Utara diserang dari pihak utara dan dilakukan pula sedapat bisa. Begitu dari selatan harus ada penyusupan ke Utara.
4. Pos Komando dipindahkan ke Kulalet (Dayeuh Kolot).

Para pejuang merasa kecewa, karena sebagai bagian dari NKRI maka mereka harus patuh pada pemerintah pusat, tetapi di lain pihak mereka tidak rela menyerahkan kota Bandung begitu saja. Tetapi kekecewaan mereka terobati ketika datang instruksi dari Markas Tertinggi Tentara Republik Indonesia (TRI) di Yogyakarta. Instruksi itu pada intinya meminta pada para pejuang di Bandung agar jangan menyerahkan Bandung begitu saja ke tangan Sekutu. Maka kedua perintah itu sepakat untuk ditaati.

Pukul 20.00 berangsur-angsur kedengaran dentuman-dentuman dan kelihatan kebakaran semakin hebat mulai dari Cimahi sampai Ujungberung. Serangan-serangan dilakukan sekitar bekas KMA, Ciumbuleuit, Sukajadi dan lain-lainnya. Gedung-gedung yang besar hancur oleh dinamit. Tembakan-tembakan tersembunyi dilakukan di bagian Utara. Lebih kurang 100.000 rakyat keluar kota dengan berjalan kaki, memikul dan menggendong anak-anak serta barang sekedarnya. Banyak yang menangis. Hujan rintik-rintik

Tanggal 24 Maret 1946 pukul 22.00 segenap rakyat dan para pejuang serentak mundur menuju Bandung Selatan Sambil melakukan pembakaran pada gedung-gedung dan fasilitas-fasilitas lainnya agar tidak dapat digunakan oleh Sekutu. Puncaknya adalah pembakaran yang mengakibatkan ledakan besar di gudang amunisi milik tentara Sekutu yang dilakukan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua anggota milisi barisan Rakyat Indonesia (BRI). Tugas yang berhasil dieksekusi dengan baik oleh Mohammad Toha sekaligus menyebabkan dirinya dan Mohammad Ramdan meninggal dalam ledakan dan kebakaran gudang tersebut. Walikota Bandung yang awalnya akan bertahan di Bandung Utara bersama rakyat akhirnya ikut menyingkir ke Bandung Selatan.

Dalam waktu singkat, kota Bandung dibakar habis. Bandung pun menjadi lautan api. Mundurnya para pejuang dan rakyat dari kota Bandung bukan berarti menyerah, tetapi untuk menyusun kekuatan baru. Mereka mundur ke arah Selatan, membangun markas di daerah Kulalet seberang sungai Citarum serta di Ciparay. Sebagian lain mundur ke arah barat sejauh 11 Km hingga mencapai Cililin, dan ada pula yang menuju ke Bandung Timur.

About Jayakarta

the big city post modern
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s