Pesona Indonesia : Epigonen Kesatuan

Ar-Ra’du [13] ayat 11; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi (objektif) suatu bangsa, hingga bangsa tersebut mau mengubah kondisi (subjektif) yang ada pada mereka sendiri

 

Ayat di awal ini menggambarkan bahwa manusia memainkan peran penting dalam gerak sejarah. Gerak sejarah merupakan kesadaran umat manusia. Pikiran dan kesadaran manusia berkembang dari tingkat yang bersahaja ke tingkat yang tinggi.

Ibn Khaldun, Vico, Spengler dan Toynbee adalah penganut Filsafat kontemplatif yang menyatakan gerak sejarah daur kultural yang menyatakan bahwa sejarah mempunyai daur kultural yang mengulang kembali dirinya sendiri dalam satu bentuk atau lainnya.

Bung Karno seorang Insinyur ahli teknik peminat sejarah dan Muhammad Yamin sang sastrawan, dengan sadar memunculkan kembali kebesaran sejarah lama untuk merajut kembali ke-Indonesia-an setelah setelah terkoyak-koyak oleh kolonialisme.

Sepertinya Bung Karno dan Muhammad Yamin menggunakan metoda daur kultural sejarah ini dengan baik.

Alhasil kilasan sejarah Indonesia sesungguhnya menegakkan benang merah ke-Indonesiaa-an yang berujung pangkal pada muara akarnya. Yaitu Jawa Barat.

Jawa bagian Barat dengan ujung tombak Jakarta, sebagai tempat lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 adalah pengulangan kebesaran-kebesaran lama Indonesia

Sebagaimana penggunaan istilah Guru yang melekat pada gelar Maharesi Jayasinghawarman-guru Dharmapurusa, kemudian bergelar Rajadhirajaguru. Pendiri kerajaan Tarumanagara yang memerintah tahun 358 hingga 382 Masehi.

Jayasinghawarman jelas tertulis dalam Prasasti Tugu bersama dua raja Tarumanagara setelahnya, yakni Rajarsi dan Purnawarman.

Dan juga gelar Prabu ‘Guru’ Darmasiksa (11751297 Masehi) Raja Sunda yang bertahta di Pakuan. Tarumanagera dan Kerajaan Sunda berlokasi di Jawa Barat.

Gerak sejarah ini diantaranya terbaca pada Naskah Wangsakerta dari Keraton Cirebon, Solo, Mataram, Tiongkok, India serta keraton besar lainnya yang didukung oleh babad, prasasti dan artefak yang banyak tersebar di berbagai lokasi.

Ditambah lagi dengan metoda Pancakaki dalam tradisi Sunda, yaitu menelusuri dan menuliskan silsilah/galur keturunan dan kekerabatan. Hal yang lazim ini digunakan pula bangsa-bangsa di dunia.

 

Majapahit dan Pakuan – Pajajaran

Majapahit sebagai kerajaan termasyhur di Jawa Timur yang berdiri pada tahun 1293 Masehi, bagian tak terpisahkan dari untaian Kerajaan Jawa Barat.

Sebagaimana tertulis dalam Babad Tanah Jawi dari Keraton Solo, Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit adalah Jaka Susuruh dari Pajajaran.

Sementara dari naskah kuno Keraton Cirebon, Raden Wijaya bernama lengkap Sang Nararya Sanggramawijaya, atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya yang terlahir di Pakuan.

Orang tuanya adalah Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal.

Rakeyan Jayadarma adalah putra mahkota Raja Sunda yang bernama Prabu Guru Darmasiksa (11751297 Masehi) dan berkedudukan di Pakuan.

Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Rakeyan Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur, karena ia berjodoh dengan putrinya bernama Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal.

Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singhasari.

Jayadharma meninggal muda saat ayahnya masih berkuasa.

Sehingga setelah Jayadharma wafat, Raden Wijaya dibawa oleh ibunya, Dewi Singhamurti, pulang ke Singasari.

Di negeri asal ibunya ini, Wijaya belajar berbagai ilmu pemerintahan dan peperangan. Dan sebagai kepercayaan Kertanegara, yang juga masih pamannya, Wijaya kemudian diangkat menjadi panglima angkatan perang Singasari.

Setelah menjadi raja Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

 

Tarumanegara dengan Sriwijaya

Sobakancana dari Tarumanegara adalah isteri Dapunta hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Berkuasa pada tahun 671 masehi hingga 702 masehi

Sobakancana adalah putri Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi, raja Tarumanegara dari Jawa barat.

Linggawarman sang raja terakhir mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih telah menjadi istri Tarusbawa, raja yang berkeraton di Cipakancilan – Bogor.

Pada masanya, kekuasaan Tarumanagara mencakup wilayah Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah bagian barat. Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara dari Keraton Cirebon menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada, Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah.

Secara tradisional, Cipamali (Kali Brebes sekarang) dianggap batasnya.

Daerah-daerah kekuasaan Tarumanagara pada masa Purnawarman di antaranya: Salakanagara, Cupunagara, Nusa Sabay, Purwanagara, Hujungkulwan (Ujung Kulon), Gunung Kidul, Purwalingga, Agrabinta, Mandalasabara, Bhumisagandu, Paladu, Kosala, Legon, Indraprahasta, Manukrawa, Malabar, Sindangrejo, Wanagiri, Purwagaluh, Cangkwang, Gunung Gubang, Gunung Cupu, Alengka, Gunung Manik, Salakagading, Pasirbatang, Karangsidulang, Gunung Bitung, Tanjungkalapa, Pakwan Sumurwangi, Kalapagirang, Tanjungcamara, Sagarapasir, Rangkas, Puradalem, Linggadewa, Wanadatar, Jatiagong, Satyaraja, Rajatapura, Sundapura, Dwakalapa, Pasirmuhara, dan Purwasanggarung.

Purnawarman membangun ibukota (Purasaba) kerajaan baru pada tahun 397 Masehi yang terletak lebih dekat ke pantai yang dinamainya Sundapura. Inilah pertama kali nama Sunda secara resmi dipakai sebagai nama administratif.

Prasasti yang memberitakan Purnawarman, salah satunya Prasasti Cidanghyang atau disebut juga Prasasti Lebak karena ditemukan di Kampung Lebak di tepi Sungai Cidanghyang, Kec. Munjul, Pandeglang, Banten.

Hal ini membuktikan bahwa daerah Banten dan pantai Selat Sunda juga termasuk wilayah kekuasaan Tarumanagara.

Sementara nama Dapunta Hyang terdapat pada Prasasti Kedukan Bukit yang bertahun 605 Saka (683 M), yang terletak di tepi anak Sungai Musi, di kaki Bukit Siguntang sebelah barat Palembang.

 

Kaitan dengan Mataram Kuno

Dalam Carita Parahiyangan, Tarusbawa ini disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia memerintah sampai tahun 723 M.

Tarusbawa yang asalnya dari Kerajaan Sunda Sembawa mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan – Bogor.

Tarusbawa mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Raja Cina dalam tahun 669 M. Sumber berita Dinasti Tang memang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara mengunjungi negeri itu terjadi pada tahun 669 M.

Tarusbawa dalam tahun 723 digantikan Rakeyan Jamri, sang menantu menjadi Raja Sunda. Rakeyan Jamri ini sebagai penguasa Kerajaan Sunda dikenal dengan nama Prabu Harisdarma, dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.

Sanjaya ternyata juga sebagai ahli waris Kalingga di Jawa Tengah, sehingga kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bhumi Mataram (Mataram Kuno) dalam tahun 732 M.

Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok.

Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja ke 2 dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sannaha yang menikah dengan raja ke 3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa.

Sannaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Sannaha memiliki saudara laki-laki bernama Sanna sebagai raja berkuasa, yang kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, Tertulis dalam Prasasti Canggal (732 M) di Magelang.

Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkala berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih Kecamatan Salam, Magelang – Jawa Tengah.

Prasasti ini dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya.

Sanjaya menjadi Raja Kalingga Utara yang kemudian disebut Bhumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Wilayah kekuasaan pada masa pemerintahan Sanjaya dapat dipastikan meliputi wilayah gabungan Kerajaan Sunda dan Galuh. Bahkan diperkirakan, pada masa Sanjaya, wilayah itu melebihi wilayah Jawa Barat.

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan, diberitakan yang mengakui Sanjaya di antaranya Mananggul, Kahuripan, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina.

 

Salakanagara dan Kutai

Bhimadigwijaya (Dewawarman VII) adalah raja yang memindahkan ibukota Salakanagara ke daerah JayaSINGHAPURA yang ketika itu telah berkembang menjadi kota besar. Nama Jasinga di Banten rupanya berasal dari nama kota itu.

Bhimadigwijaya Satyaganapati memiliki anak perempuan bernama Spatikarnawa, yang kemudian menggantikannya sebagai ratu setelah ayahnya meninggal.

Ratu Spatikarnawa memerintah pada tahun 340 s/d 348 Masehi.

Prabu Dharmawirya Salakabhuwana lalu menggantikannya sebagai raja dan memerintah tahun 348-363 Masehi. Sang Prabu Dharmawirya Salakabhuwana (Dewawarman VIII) yang berasal dari India, adalah suami Ratu Spatikarnawa yang berlokasi di Jawa Barat itu.

Prabu Dharmawirya beristrikan 2 orang, yaitu Spatikarnawa dan Dewi Ratri Candralocana. Dari perkawinan ini, Dharmawirya memiliki putra yang tinggal di Swarnabhumi yang kelak menurunkan raja-raja di Sumatera.

Dari Spatikarnawa, Dewawarman VIII memiliki beberapa anak. Di antara anaknya itu, seorang putri bernama Parameswari Iswari Tunggalprethiwi (Dewi Minawati) menjadi istri Maharesi Jayasinghawarman-guru Dharmapurusa (kemudian bergelar Rajadhirajaguru, raja pertama Tarumanagara).

Seorang putra Dharmawirya lainnya bernama Aswawarman. Aswawarman menikah dengan putri raja Bakulapura, Kundungga (Kudungga). Nama Bakulapura merupakan nama asli dari Kutai –berlokasi di Muara Kaman.

Pemberian nama Kutai Martadipura atau Kutai Martapura untuk kerajaan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur ini didasarkan pada nama tempat dimana ditemukan sejumlah yupa mengenai kerajaan tersebut. Kudungga sendiri merupakan seorang pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja).

Kekerabatan Tarumanegara dengan Kutai berikutnya adalah ketika Wisnuwarman berkuasa selama 21 tahun dari 434-455 di Tarumanegara. Dengan permaisurinya bernama Suklawarmandewi, adik raja Bakulapura.

Berikutnya, Raja Kendan di wilayah Bandung – Garut yang bernama Suraliman (memerintah tahun 568-597 Masehi) menikah dengan putri Raja Bakulapura (Kutai) bernama Dewi Mutyasari.

Aswawarman disebut raja pertama yang resmi berkuasa di Kerajaan Kutai dan diberi gelar “Wangsakarta”, yang artinya pembentuk keluarga/dinasti.

Aswawarman mempunyai 3 orang putra, salah satunya bernama Mulawarman. Ketika Maharaja Mulawarman berkuasa, Kerajaan Kutai Martadipura mengalami zaman kejayaan dan menjadi kerajaan yang besar.

Kerajaan Kutai Martadipura berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa.

Jadi Kutai ada 2, yang pertama Kutai Martadipura. Dan yang kedua Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325 M).

 Pada abad ke-14 berdiri Kesultanan Berau dengan raja pertama yang memerintah dengan gelar Aji Raden Suryanata Kesuma.

 

Salakanagara

Salakanagara merupakan kerajaan yang berlokasi di Jawa Barat bagian barat atau daerah Banten. Pendirinya adalah Dewawarman, bergelar Prabu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapura-sagara, atau dalam bahasa rakyat sebagai Aji Saka.

Lokasi pertamanya di Ujungkulon dengan Pwahaci Larasati sebagai permaisuri dengan gelar Dewi Dhwanirahayu.

Disebutkan dalam Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara dari Keraton Cirebon, Dewawarman (disebut juga Dewawarman I) memerintah tahun 130-168 Masehi.

Keterangan ini tak bertentangan dengan kronik (berita) Cina yang menyebutkan bahwa pada tahun 132 M di wilayah Jawa bagian barat ada raja bernama Pien dari Kerajaan Ye-tiao. Pien merupakan nama Cina untuk Dewawarman, sedangkan Ye-tiao lafal Cina untuk Jawadwipa.

Keterangan tertulis lain tentang keberadaan Salakanagara (Salak yang berarti “Kota Perak” atau disebut juga Rajatapura) adalah catatan ahli geografi Yunani Kuno bertahun 150 M, Ptolemeus. Ia menulisnya dengan nama Argyre.

Salakanagara menurut pustaka kuno Cirebon tercatat berdiri dari 130 M hingga 363 M.

Raja ketiga Tarumanegara bernama Rakeyan Taruma Hyang (“Si Tumang” dalam ceritera legenda, suami Dayang Sumbi) atau Pangeran Wisnu Gopa, Dewawarman III. Pernikahan dengan Dayang Sumbi yang bergelar Dewi Mayang Sunda atau nama aslinya Galuh Kaniawati menghasilkan lima orang anak yang kelak disebut sebagai Lima Putra Sunda atau Panca Putra Dewa.

Pendahulu Salakanagara adalah Kebudayaan Buni berupa budaya tembikar yang berkembang di pantai utara Jawa Barat dan Banten sekitar 400 SM hingga 100 M.

Kebudayaan Buni mungkin merupakan pendahulu kerajaan-kerajaan tertua di Jawa Barat yang kemudian menghasilkan banyak prasasti yang menandai awal berlangsungnya periode sejarah di pulau Jawa.

Peninggalan Buni diantaranya : perhiasan emas dalam periuk, Tempayan, Beliung, Logam perunggu, Logam besi, Gelang kaca, Manik-manik batu dan kaca, Tulang belulang manusia dan Sejumlah besar gerabah bentuk wadah.

Situs prasejarah lainnya di Jawa Barat :

 

Shri Jayabupati, kaitan antara Sriwijaya dan Airlangga

Prasasti Sanghyang Tapak yang berhuruf Jawa Kawi dan bertahun 952 Saka (1030 M) ditemukan di Cibadak Sukabumi. Yang menyebutkan bahwa raja yang memerintah di Kerajaan Sunda ketika itu adalah Jayabupati.

Raja ini memiliki nama gelar Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamandala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa. Disebutkan pada prasasti itu, Jayabhupati berkuasa di kawasan “Praharyan Sunda” tahun 1030 -1042 M.

Sri Jayabupati adalah putra Sanghiyang Ageng atau Prabu Dewa Sanghyang (1019 – 1030 M) yang bertahta di Pakuan. Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja Wurawuri di Jawa Timur.

Permaisuri Sri Jayabupati adalah putri dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur. Dengan demikian, Jayabupati merupakan saudara ipar Raja Airlangga dari Kediri, karena anak gadis Dharmawangsa yang lain bernama Dewi Laksmi merupakan istri Airlangga.

Dan Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari Darmawangsa, mertuanya. Gelar itulah yang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak.

Dari pernikahannya dengan putri Jawa Timur tersebut, Jayabupati memiliki anak lelaki bernama Dharmaraja.

 

Galuh

Babad Galuh menyebutkan Bojong Galuh yang disebut juga Desa Karangkamuliaan – Ciamis, dianggap sebagai bekas pusat Kerajaan Galuh. Tempat itu sangat strategis dijadikan pusat pemerintahan karena letaknya berada di muara, tempat pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur.

Pendirinya adalah Wretikandayun, memerintah Galuh selama 90 tahun dari tahun 612 hingga 702. Ia menikah dengan putri Resi Makandria, Nay Manawati atau disebut juga Dewi Candrarasmi.

Dari pernikahan ini, Wretikandayun memiliki tiga orang anak, yakni Sempakwaja, Wanayasa (Jantaka), dan Mandiminyak (Amara).

Wretikandayun adalah cicit Manikmaya. Manikmaya pada tahun 526 M telah mendirikan kerajaan baru bernama Kendan yang berlokasi di Nagreg (antara Bandung dengan Limbangan, Garut).

Manikmaya sendiri adalah sebagai menantu Suryawarman, karena menikah dengan Tirtakancana putrinya. Suryawarman adalah Raja Tarumanegara pada tahun 535-561 Masehi, berdasarkan naskah Pustaka Jawadwipa.

Manikmaya berputra Rajaputera Suralimansakti. Suraliman naik tahta pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji 490 Saka (5 Oktober 568 M). Suraliman menikah dengan putri Raja Bakulapura (Kutai) bernama Dewi Mutyasari.

Dari Mutyasari, Suraliman memiliki seorang anak lelaki bernama Kandiawan dan seorang anak perempuan bernama Kandiawati.

Kandiawan menggantikan Suraliman menjadi raja Kendan pada 597 M. Langkah pertama yang diambil oleh Kandiawan setelah menjadi raja adalah memindahkan ibu kota dari Kendan ke Medang Jati. Lokasi Medang Jati diperkirakan berada di sekitar daerah Cangkuang, Garut.

Kandiawan memerintah dalam kurun waktu 15 tahun (597-612 M). Wretikandayun, anak bungsunya kemudian ditunjuknya untuk menjadi raja Kendan. Ia dinobatkan menjadi penguasa Kendan pada usia 21 tahun (612 M). Wretikandayun pun memindahkan ibukota Kerajaan ke kawasan baru di Galuh.

Galuh sendiri berarti “permata” atau “batu mulia”.

Penggunaan nama Galuh akhirnya banyak digunakan para penduduk Jawa Tengah sampai timur, seperti Galuh Timur (Bumiayu), Galuh (Purbolinggo), Sirah Galuh (Cilacap), Sagaluh dan Sungai Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), dan Sagaluh (Purwodadi).

Daerah sekitar Sidoarjo disebut sebagai Hujung Galuh., sekarang masuk wilayah Surabaya – Jawa Timur.

Di dalam Babad Banyumas, dijelaskan sebagai berikut :

“Keturunan-keturunan Kerajaan Galuh Purba kiye nerusna pemerentahan Kerajaan nang Garut – Kawali (Ciamis) sing wis duwe budaya Sunda, terus sebagian campur darah karo keturunan Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah).

Campur darah (perkawinan) kuwe juga berlanjut dong masa Kerajaan Galuh Kawali dadi Kerajaan Galuh Pajajaran sebab akeh perkawinan antara kerabat Keraton Galuh Pajajaran karo kerabat Keraton Majapahit (Jawa), lha keturunan campurane kuwe sing mbentuk Banyumas.

Babad Banyumas juga ora bisa dipisah karo sejarah Kerajaan Galuh Kawali sing wilayah kekuasaane ngeliputi lewih separo wilayah Jawa Tengah siki (kemungkinan tekan Kedu lan Purwodadi), dadi termasuk juga wilayah Banyumasan.

Babad Banyumas juga ora bisa dipisah sekang pribadi Raden Joko Kahiman (putra Raden Banyak Cotro, putu Raden Baribin)”.

Dalam laporan yang disusun Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat sejumlah nama sebagai berikut :

  1. Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok
    dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
    2.  Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
    3.  Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
    4.  Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
    5.  Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
    6.  Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
    7.  Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
    8.  Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
    9.  Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
    10. Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian
    Gunungtanjung;
    11. Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara
    12. Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis sejak tahun 1812.

 

Pusat Kekuasaan Galuh – Pakuan

Pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur ke barat dan sebaliknya (antara 895 hingga 1482 M). Sebagai contoh: ayah Sri Jayabhupati berkedudukan di Galuh, namun Jayabhupati sendiri memilih tinggal di Pakuan; tetapi putra Jayabhupati berkedudukan di Galuh lagi.

Begitu pula dengan Prabu Guru Dharmasiksa (1175-1187) yang menurut Kropak 406, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Putranya, Prabu Ragasuci, berkedudukan di Saunggalah.

Tatkala naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Guru Darmasiksa), Prabu Ragasuci tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan karena sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja daerah di wilayah timur (Galuh).

Namun pada masa pemerintahan putranya, Prabu Citraganda atau Sang Mokteng Tanjung (1303-1311 Masehi), Pakuan untuk kesekian kalinya menjadi ibukota dan pusat pemerintahan Sunda.

Memang dalam naskah yang dikumpulkan Pangeran Wangsakerta sendiri, pusat kekuasaan Sunda Galuh beberapa kali mengalami perpindahan. Yaitu dari Pakuan (Bogor) ke Kawali (Ciamis) dan di Saunggalah (Kuningan).

(bersambung)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Prasasti Kabantenan di Bekasi : Pendidikan, Kenegarawanan dan Leadership

Janganlah kita lupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat. [Bung Karno dalam Penyambung Lidah Rakyat, hlm. 69]

Melanjutkan tulisan ‘Gemah Ripah loh Jinawi’ : Kemakmuran Negara diukur dari jumlah penduduknya yang banyak.

Merupakan tantangan berat Tata Kelola perkotaan yang harus sudah sangat mumpuni, agar kota tersebut tidak berujung menjadi Kota ‘Tryanopolis’, yaitu kota yang banyak gejolak dan serba kekurangan sandang dan pangan.

Atau bahkan ‘Nekropolis’, kota yang menuju kehancuran karena terjadi peperangan.

Ternyata orang-orang tua Sunda seribuan tahun silam telah mengantisipasi itu dengan mengeluarkan perundang-undangan dan hukum ketat yang mengatur manusia dengan lingkungannya.

Diantaranya saja begitu ketatnya aturan RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah), dengan tujuan melestarikan sumber daya alam terkhusus mata air/hulu cai sebagai hutan larangan sekaligus mencegah bencana.

Juga banyak membangun Kabuyutan-kabuyutan dan Mandala sebagai makmal flora fauna sebagai tempat yang disucikan .

Sementara “Lurah Kawikuan”, adalah desa perdikan atau daerah yang dibebaspajakkan karena tempatnya para ulama, tempat peribadahan atau lokasi lembaga pendidikan agama, sehingga harus diistimewakan dan dijaga sebaik-baiknya. Tidak boleh terganggu dan dikurangi wilayahnya.

Dalam Carita Parahyangan, tercapainya kemakmuran negara, keamanan masyarakat, kejayaan Pemimpin selalu dikaitkan dengan sikap Pemimpin yang sangat memperhatikan kehidupan beragama, menjalankan kehidupan yang didasarkan pada aturan agama, dan menjalin hubungan baik dengan para tokoh agama.

Dalam lingkup pembinaan keluarga, Naskah Siskandang Karesian yang tahun penulisannya Nora Catur Sagara Wulan (tahun 1440 Saka atau 1518 M), berisi pendidikan keluarga berencana pada agar orang tua tidak mengawinkan anak-anaknya yang masih di bawah umur.

“Hanteu yogya mijodohkeun bocah, bisi kabawa salah, bisi kaparisedek nu ngajadikeun” (Tidak layak mengawinkan anak kecil, agar tidak terbawa salah, agar tidak merepotkan yang menjodohkan).

Pada masa Niskala Wastukancana, pendidikan sosial pun menjadi perhatian. Ia memperingatkan kepada rakyatnya yang gemar berjudi agar meninggalkan kebiasaan buruknya. Ini sesuai dengan bunyi Prasasti Kawali VI, yaitu:

“Ini peninggalan dari (yang) kokoh (dari) rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi (karena) bisa sengsara.”
 

Nilai Luhur Bangsa Indonesia

Warga Bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia mewarisi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam genetika morfologi kesejarahan dan biologisnya.

Terkhusus dalam dunia pendidikan agama dan ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia bukan sekedar pengekor (epigon) dunia barat serta timur dalam pengelolaan pendidikan warga bangsanya.

Di Bekasi – Jawa Barat, sebelah timur dari Jakarta dengan gamblang telah ditemukan sebuah prasasti Kabantenan yang menggambarkan konsepsi pentingnya melindungi lokasi pendidikan agama di wilayah Tatar Sunda masa lalu.

Prinsip-prinsip kependidikan agama, kenegarawanan dan leadership ciri khas Indonesia yang kental muatan spiritualnya, tetapi sangat jelas juga mengandung teorema universalitas demokrasi masyarakat dunia hari ini.

 

Belajar dari Negara Lain

Sunda adalah budaya dinamis yang terbuka beriringan dengan waktu, ngigelan zaman’ tanpa harus kehilangan jejak jati diri.

Oleh karena itu, belajar dari bangsa negara lain adalah keniscayaan dan keharusan.

Sumber berita kronik dari negara Tiongkok mencatat kedatangan utusan Tarusbawa, Raja Sunda yang berkeraton di Cipakancilan – Bogor yang memberitahukan penobatannya kepada Raja Cina dalam tahun 669 M.

Sebelumnya, Dinasti Sui menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo (“Taruma”) yang terletak di sebelah selatan.

Juga berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 telah datang utusan dari To-lo-mo juga.

“Tuntutlah ilmu walau harus ke negeri Cina”, sebuah hadist yang popular. Sementara Hadist shahih menuliskan pentingnya belajar dengan kalimat “Carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”.

 

Peradaban Ilmu Pengetahuan

Generasi warga bangsa Indonesia hari ini mengemban amanah, agar warga bangsa Indonesia selalu menjadi motor utama mengajak bangsa-bangsa dunia lainnya untuk mewujudkan perdamaian dunia, kemerdekaan abadi dan keadilan.

Simpul kekuatan itu berpusat pada dunia pendidikan yang setara dan sederajat.

Sementara pendidikan model kolonial yang berpola ‘Trichotomy’ maupun ‘dichotomy’, nyatanya telah menyurutkan langkah Indonesia menjadi warga bangsa yang berperadaban ilmu pengetahuan. Hanya segelintir orang dari kalangan tertentu yang bisa mengecap pendidikan tinggi.

Padahal pengakuan dunia terhadap keberadaan sebuah bangsa, selalu diuji dalam laboratorium gerak bandul sejarah bumi. Ujung-ujungnya akan berada pada ketajaman goresan Pena dan pisau bedah ilmu pengetahuan.

 

Belajar dari Sejarah Dunia

Bagi umat Islam tentu sangat paham, zaman keemasan Islam dibangun ketika ilmuwan berperan sekaligus sebagai ulama, atau sebaliknya ulama juga adalah sekaligus ilmuwan.

Sementara kesetaraan Islam sangat kentara ketika dalam ritual peribadatan dalam posisi shalat, yang menunjukkan derajat manusia yang sama di mata sang Khalik Allah swt.

 

Prasasti Kabantenan di Bekasi

Sunda sebagai daerah-daerah padat dan atau diperkirakan akan padat penduduknya, membutuhkan kepemimpinan yang memiliki keahlian manajerial. Oleh karena dalam beberapa catatan kuno menuliskan sistem pemerintahan dan profesi-profesi masa itu.

Salah satunya Prasasti Kabantenan.

Prasasti yang ditemukan oleh Raden Saleh di Kabantenan – Bekasi tahun 1867. Sekarang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Terdiri dari lima lempengan tembaga tipis dengan aksara dan bahasa Sunda Kuna.

Ditulis atas titah Sri Baduga sendiri dalam rangka mengenang kakek dan ayahnya, Niskala Wastukancana dan Ningratkancana.

Sri Baduga dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhunan di Pakuan Pajajaran (1482-1521). Sedangkan dalam Prasasti Batutulis, sebagai penguasa Pakuan ia bergelar Ratu Haji.

 “Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastukancana. Turun kepada Rahyang Ningratkancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran, harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa. Semoga ada yang mengurusnya. Jangan ada yang menghapuskan atau mengganggunya.”
Penduduk kedua dayeuh (kota) tersebut, Jayagiri dan Sunda Sembawa juga dibebaskan dari empat macam pajak

Dalam Kropak 630, Sri Baduga menetapkan batas-batas kabuyutan di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai “lurah kwikuan”, yakni sebagai desa perdikan atau desa yang dibebaspajakkan.

Dayeuh Jayagiri dan Sunda Sembawa berlokasi di Bekasi sekarang, merupakan salah satu lingkungan panti/lembaga pendidikan (agama) yang banyak didirikan di wilayah Tatar Sunda.

Berdasarkan Prasasti Tugu, bahwa pada abad ke-4 Masehi, penghargaan terhadap tokoh-tokoh agama di Bhagasasi (Bekasi = Sunda sembawa) sungguh termasyhur dalam sejarah buku-buku sejarah.

Di Bhagasasi tercatat Purnawarman raja Tarumanegara (Tolomo) menghadiahkan1000 ekor sapi kepada kaum agama saat itu.

Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km).

Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

 Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah daerah aliran Cisadane dan Ciliwung pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Menurut Carita Parahyangan, Prabu Dharmasiksa (11751297 Masehi) juga telah mendirikan panti pendidikan (agama) dan sejumlah kabuyutan.

Sebagai tempat pendidikan religius diberikan keistimewaan luar biasa, diantaranya perlindungan negara, dijadikan tempat suci yang tidak boleh diganggu, sangat dihormati dan dibebaskan dari pajak.

Selain Sunda Sembawa dan Jayagiri, terdapat Mandala/Kabuyutan di Galunggung (naskah kropak 632), Gunung Kumbang (naskah kropak 408), Kanekes, dan Denuh (Carita Parahyangan).

Selanjutnya Kabuyutan Sanghiyang Tapak di Sukabumi berdasar Prasasti Cicatih atau Prasasti Jayabupati. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat (4) buah batu untuk menuliskannya.

Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Cicatih di daerah Cibadak. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, dan sebuah lagi ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Nasional .

Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati Raja Sunda ke-20 bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah pada tahun 1030 -1042 M.

Kabuyutan Ciburuy – Bayongbong Garut, diketahui keberadaannya karena menyimpan tulisan pada abad ke-13 atau ke-14 yang memberitakan bahwa Rakeyan Banga telah membangun parit pertahanan di Pakuan.


Antara Trias Politica dan Tri Tangtu : Kenegerawanan dan Leadership Sunda Tradisional

Pada umumnya banyak entitas kekuasaan di berbagai kerajaan dunia berpusat pada tokoh utama, yaitu raja atau kaisar.

Setelah Revolusi Perancis terjadi tahun 1789–1799, maka munculah juga ide mendasar melakukan perubahan pada sistem kekuasaan yang tadinya hanya dimiliki seorang raja atau kaisar tadi, dibagi-bagi menjadi Trias Politica.

Trias Politica itulah yang kemudian menjadi panduan dalam membentuk negara demokratis modern seperti yang kita pahami sekarang ini.

 

Tri Tangtu : Leadership Sunda

Sesungguhnya bangsa Indonesia diwarisi sebuah naskah kuno manajemen kepemimpinan yang disebut Siskanda ng Karesian dan Kundangeun Urang Reya (untuk pegangan hidup orang banyak).

Naskah yang memuat model kenegarawanan dan kepempinan/leadeship kontemporer. Naskah ini ditulis 200 tahun sebelum Trias Politica dicetuskan.

Dalam naskah Siskandang Karesian, model kepemimpinan disebut menggunakan nama Tri Tangtu. Ada persamaan yang dekat antara istilah Trias dan Tri yang sama-sama berarti 3 (tiga).

 

Tritangtu di bumi (tiga posisi di dunia)

Dalam kehidupan masyarakat Sunda tradisional, ada tiga posisi yang menjadi tonggak kekuasaan, yaitu :

Rama (pendiri kampung yang menjadi pemimpin masyarakat dan keturunannya yang mewarisi jabatan itu / DPD atau DPR / ”Legislatif” ),
Resi (Ulama atau pemegang kekuasaan agama / hukum / ”Yudikatif” )
Prabu (raja, pemegang kekuasaan / ”Eksekutif” )

Dalam naskah itu dianjurkan agar setiap pemimpin atau orang per orang berusaha memiliki:
Bayu pinaka Prabu (Wibawa seorang Raja)
Sabda pinaka Rama (Ucapan seorang Rama)
Hedap pinaka Resi (Tekad seorang Ulama)

Tugas ketiga tokoh itu dalam kropak 632 ditegaskan:

Jagat daranan di sang rama, Jagat kreta di sang resi, Jagat palangka di sang prabu”
(urusan bimbingan rakyat menjadi tanggung jawab sang rama/pemuka masyarakat, urusan kesejahteraan hidup menjadi tanggung jawab sang ulama, dan urusan pemerintahan menjadi tanggung jawab raja/ pemegang kekuasaan).

Ketiga pemegang posisi itu sederajat karena “pada pawitannya, pada muliyana” (sama asal-usulnya, sama mulianya).

Oleh karena itu diantara ketiganya :

“haywa paala-ala palungguhan, haywa paala-ala pameunang, haywa paala-ala demakan.
Maka pada mulia ku ulah,
ku sabda ku hedap si niti, si nityagata, si aum, si heueuh, si karungrungan,
ngalap kaswar, semu guyu,
tejah ambek guru basa dina urang sakabeh, tuha kalawan anwam”

(jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah.

Maka berbuat mulialah dengan perbuatan, dengan ucapan dan dengan tekad yang bijaksana, yang masuk akal,

Yang benar, yang sungguh-sungguh, yang menarik simpati orang, suka mengalah, murah senyum,

Berseri di hati dan mantap bicara kepada semua orang, tua maupun muda).

Tritangtu sebagai sistem kepemimpinan tradisional itu masih dilaksanakan di Kanekes. Sementara dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dilestarikan pada perangkat Tripida (Tiga Pimpinan Daerah) di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga kelurahan.

 

Pemimpin yang Pandai Menerima Kritik

Dalam naskah kuno tersebut juga disebutkan tentang seorang pemimpin yang harus pandai menerima kritik.

Artinya, saat naskah ini dibuat sudah ada keberanian untuk melakukan kritik, protes rakyat Sunda kepada pemimpinnya yang menyimpang.

Sehingga dituliskan bab khusus menghadapi kritik ini, yang disebut : “Panca parisuda

Panca parisuda mengandung arti Lima Obat Penawar. Ini kaitannya dengan sikap menerima Celaan atau Kritik. “Lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih” (bila ada yang mengkritik kepada kita, terimalah kritik orang lain itu)

Dengan sikap seperti itu dikatakannya : Kadyangga ning galah cedek tinugalan teka” (sama halnya dengan galah sodok dipapas runcing). Galah cedek / bambu runcing makin pendek makin baik, karena kemungkinan patah makin berkurang. Dengan kritik akal budi kita akan menjadi makin kukuh dan tajam.

Lamun makasuka urang kangken pare beurat sangga” (kalau senang menerima kritik orang, kita akan seperti padi yang runduk karena berat berisi)

 

Negarawan dan Pemimpin yang Cerdas

Berabad-abad silam, bujangga dan pemimpin Sunda telah melahirkan naskah Motivasi Kenegarawanan beserta teknik manajemen. Sekaligus menegaskan karakter pemimpin ideal dalam memimpin.

Misalnya Parigeuing, yaitu “bisa nitah bisa miwarang, ja sabda arum wawanginya mana hanteu surah nu dipiwarang” (bisa memberi perintah, bisa menyuruh karena tutur bahasa yang manis, sehingga orang yang disuruh tidak merasa jengkel hatinya)

Untuk mampu ‘Parigeuing’ harus terlebih dahulu menguasai ketrampilan 10 Teknik Persuasi, disebut ‘Dasa Pasanta’, yaitu

  1. bijaksana (Guna)
    2. ramah (Rama)
    3. sayang (Hook)
    4. memikat (Pesok)
    5. kasih (Asih)
    6. iba hati (Karunya)
    7. membujuk (Mupreruk)
    8. memuji (Ngulas)
    9. membesarkan hati (Nyecep)
    10. mengambil hati (Ngala angen)

Tujuan dari hal di atas adalah :

Nya mana suka bungah padang – caang nu dipiwarang” (agar senang dan penuh kegairahan orang yang disuruh). Motif utamanya adalah mengakui martabat dan harga diri seseorang.

 

Kepribadian Calon Negarawan / Pemimpin

Naskah kuno ini juga menuliskan karakter yang diharapkan dari orang per orang atau secara khusus bagi seorang calon pemimpin utama / negarawan. Kepribadian calon pemimpin utama itu adalah :

– cermat (Emet)
– teliti (Imeut)
– rajin (Rajeun)
– tekun (Leukeun)
– cukup sandang (Paka predana)
– bersemangat (Morogol-rogol)
– berpribadi pahlawan (Purusa ningsa)
– bijaksana (Widagda)
– berani berkurban (Hapitan)
– dermawan (Waleya)
– gesit (Cangcingan)
– cekatan (Langsitan)
 

Kesimpulan

Ketika mengikuti titah agama secara kaffah, waktu 24 jam rasanya kurang cukup untuk belajar, membaca dan menuliskan kembali ayat-ayat sang Maha Pencipta Allah swt. Menebarkan segala kebajikan dari orang tua dan guru-guru.Tentunya disela-sela mencari nafkah untuk keluarga.

“belajar dari buaian sampai ke liang lahat’

Itulah kepentingan Sunda dalam melindungi para ulama, pemikir/ilmuwan cerdik cendekia, lembaga pendidikan agama dan kelestarian lingkungan sekitarnya.

Begitu pentingnya, maka dengan bahasa Sunda yang tajam, Kropak 632 yang menyatakan bahwa “masih lebih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa Negara) yang tidak mampu mempertahankan Kabuyutan atau Mandala” (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 29, 35).

Kalimat perlindungan terhadap lembaga pendidikan agama sekaligus ‘konservasi alam untuk pembangunan berkelanjutan’.

Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila Dasar Negara Kesatuan, adalah pilihan jelas keberpihakan kenegarawanan Republik Indonesia berbasis karakter keagamaan.

“Hyang tunggal katua kana jali nganawi-nawi jalan kabeh alam sakabeh alam dia disanes kara hung kadia ahung “(bahasa Sunda wiwitan).

Cekap sakieu heula, teraskeun kunu sanes.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pesona Indonesia : Sampurasun, Ikon Wisata Kota Bogor

Kembali kepada jiwa Proklamasi …. kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional … kedua jiwa ichlas…ketiga jiwa persatuan… keempat jiwa pembangunan.
[Bung Karno dalam Pidato Peringatan Proklamasi 17 Agustus 1952]
 

Bogor adalah wilayah administratif sejarak 1 jam perjalanan darat dari pusat kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Struktural berada dalam lingkup Provinsi Jawa Barat.

Di Bogor ini terdapat 2 (dua) istana Presiden Republik Indonesia. Yaitu Istana Kebun Raya yang ada di pusat kota, sementara Istana Cipanas berada di wilayah Puncak.

Karena dekat dari Jakarta, maka Istana Bogor kerap kali digunakan secara aktif oleh para Presiden Indonesia dalam tugas-tugas kenegaraannya.

Bogor adalah wilayah pertama di Indonesia yang memiliki jaringan jalan tol dan kereta rel listrik (KRL) menuju ke Jakarta. Bisa disebut Bogor adalah pionir dalam kedua jenis infrastruktur transportasi modern ini.

Tempat wisata dan sentra perdagangan tumbuh pesat, termasuk pemukiman dalam mendukung perannya sebagai kota yang terus berkembang sesuai zaman.

Adanya sumber daya manusia terampil dan pekerja keras, kampus IPB, lembaga penelitian dan institusi pendidikan berkelas nasional lainya, berkontribusi mempertahankan Bogor sebagai kota tua di Asia yang tetap eksis.

Bogor sebagai kota-kota Jabodetabek melanjutkan tradisi Gemuh Pakuan, Gemah-Ripah Loh Jinawi yaitu padat terus menerus (banyak sekali penduduknya seperti aliran Sungai Gangga, Jinawi = S. Gangga di India).

 

Ikon Wisata kota Bogor

Hanya sayang, dalam segala keunggulan yang disebutkan di atas ada beberapa tempat yang sepertinya luput dari perhatian kemeriahan pembangunan oleh pemerintah Kota Bogor.

Diantaranya :

  1. Terminal Bis Baranang Siang

Terminal bis utama yang menjadi pintu masuk ke kota Bogor ini tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir atau bahkan lebih (?).

Tidak jelas persoalan yang membelit Pemkot Bogor sehingga tidak segera melakukan renovasi, kemudian membuatnya megah.

Terminal ini terkesan tidak menampakkan layaknya sebuah terminal bis di sebelah Istana Presiden yang memerintah untuk kurang lebih 17.000 (tujuh belas ribu) pulau. Hanya 5 menit dari istana untuk mencapai terminal ini.

Padahal pandangan awal seorang turis, wisatawan atau tamu ke suatu kota adalah dilihat dari kemegahan terminal bisnya.

Terbersit sebuah usul agar Walikota Bogor segera melakukan konsultasi dengan Bapak Presiden Jokowi, yang sering datang ke Bogor.

Sepertinya beliau tidak akan sungkan-sungkan memberikan petunjuk teknis maupun non teknis dalam persoalan ini. Bila Walikota Bogor memang berkeinginan melakukan upaya-upaya kepada beliau.

  1. Jalan Suryakencana

Tidak jauh dari Terminal Baranang Siang dan Istana Presiden terdapat Jalan Suryakencana yang mengarah lurus ke arah Pasar Gembrong.

Suasananya mulai kelihatan meredup pamornya, bila melihat deretan ruko, rumah yang, dan toko-toko yang sudah mulai tidak terurus dan coret moret.

  1. Pedagang Tradisional

Pedagang tradisional adalah pahlawan ekonomi bagi keluarga dan perekomian kota. Mereka adalah rakyat mandiri yang bekerja keras, kebanyakan tanpa bantuan pemerintah.

Karena merekalah perkonomian kota berdenyut, masyarakat segala lapisan terpenuhi segala kebutuhan dasarnya.

Penataan dan bantuan teknis untuk para pedagang tradisional kecil sudah saatnya diintensifkan mengingat kawasan yang melingkar dari Empang, pasar di depan Herbarium Bogoriensis, samping pintu gerbang Kebun Raya hingga mulut Jalan Suryakencana, bertebaran pedagang tradisional.

 

 

 

Pemkot Bogor bisa melakukan melakukan studi banding ke kota-kota lainnya yang telah berhasil menata pedagang tradisional supaya lebih tertib, bersih dan modern.

 

 

 

Motivasi dasarnya adalah penataan yang mensejahterakan serta memfasilitasi sesuai tuntutan kota modern. Bukan lagi sekedar menggusur atau bahkan mematikan lapangan kerja dan semangat wirausaha pedagang tradisional.

 

 

 

Makanan tradisional khas Bogor seperti Laksa, asinan, Soto Mie, talas, sayur mayur dan lainnya masih dijajakan dalam warung ala kadarnya.

 

 

 

Butuh kreatifitas Pemkot Bogor untuk mengupayakan desain lapak-lapak yang artistik, sehingga menjadikannya ikon wisata kuliner dan jajanan khas Kota Bogor agar jadi buruan para wisatawan.

 

 

 

Bila sumber daya lokal tidak ingin mendesainnya, tidak usah sungkan bermitra dengan art designer dari ‘Australia’ untuk membantu ciptakan model khas Bogor yang up to dateJ) (?)

 

 

 

 

Ikon Wisata Sejarah Bogor Tempoe Doeloe

 

 

 

Jauh sebelum kedatangan Kompeni Belanda, Kerajaan Sunda telah melakukan pembangunan fasilitas-fasilitas kota Bogor yang sekarang masih berfungsi dan digunakan.

 

 

Tetapi sebagian lagi tinggal petilasan. Karena rusak akibat perang terbuka maupun perang gerilya/teror “tambuh sangkane” yang berkepanjangan hingga puluhan tahun, untuk merebut kota Bogor.

 

 

 

Diantaranya :

 

 

 

 

  1. Misalnya saja pada catatan dalam maupun luar negeri, sebenarnya ada satu lagi Istana/Keraton tempoe doeloe di Kota Bogor yang bernama Sri Kedatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati.

 

 

 

Berdasarkan laporan Tome Pires yang dirinya pernah diperkenankan masuk istana Pakuan, ada sebuah paseban (halaman) di area istana yang memiliki beberapa bangunan yang letaknya berjajar/berjejer dengan rapi.

 

 

 

 

Dalam Kropak 406 (Tulisan pada rontal atau daun nipah) di Museum Nasional tertulis kalimat berikut.
 

Di sanalah bekas keraton, oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Selesailah sudah, kemudian diwastu oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemuilah Bagawat Sunda Mayayajati oleh Bujangga Sedamanah, terus dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa.

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa keraton di Pakuan berjumlah lima, yakni Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Suradipati tentulah keraton utama tempat singgasana raja.

 

 

Jumlah keraton pada masa Kerajaan Sunda berjumlah lima (panca prasada = lima keraton). Nama-nama istana tersebut memiliki fungsi berbeda-beda dalam sistem pemerintahan waktu itu.

 

 

Keraton ini tinggal petilasan.

 

 

Sementara itu, Poerbatjaraka mengartikan Pakuan Pajajaran (nama Bogor tempoe doeloe) sebagai “istana yang berjajar”.

 

 

Seorang sejarawan Belanda, Holle, setuju bahwa Pakuan Pajajaran berarti “pohon paku yang berjajar”.

 

 

 

  1. Prasasti Batutulis pada 1455 Saka atau 1533 M dan memakai bahasa Sunda Kuno terletak di Kelurahan Batutulis, Kec. Bogor Selatan dibuat oleh Surawisesa. Menuliskan tentang hutan Samida yang sekarang dikenal Kebun Raya Bogor. Prasati ini berbunyi :

Terjemahan bebasnya adalah:
“Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu Purana. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit pertahanan Pakuan.

 

 

Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastukancana yang dipusarakan ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat punden undakan untuk hutan Samida, membuat Sanghiyang (Telaga) Rena Mahawijaya (yang dibuat) dalam (tahun) Saka Panca Pandawa Emban Bumi.”

 

 

Gunung-gunungan (gunung kecil atau bukit buatan) dan sebuah telaga yang diduga keduanya berlokasi di Rancamaya. Saleh Danasasmita menganggap bahwa gugunungan tersebut kini adalah Bukit Badigul, yang hingga kini oleh penduduk Rancamaya dianggap bukit “keramat” karena di puncaknya terdapat sebuah makam.

 

 

Ada pun Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya oleh Nagarakretabhumi disebut ‘Situ Ageung Sena Mahawijaya’. Pantun-pantun di Bogor menyebutkan adanya Telaga Rena Wijaya yang terletak di Rancamaya juga.

 

  1. Kompetisi Pencak Silat di Kebun Raya Bogor

 

 

Seni bela dir Pencak Silat begitu marak di Jawa barat, karena saat Pemerintah Kolonial Belanda pun menyelenggarakan kompetisi Pencak Silat yang diikuti para pendekar silat dari berbagai pelosok.

 

 

Walau dalam catatan lain disebut berkategori termasuk kejam, karena saat itu diharuskan bertarung sampai mati, dengan perjanjian tidak ada tuntutan apapun dari pihak keluarga korban.

 

 

Dibawah panggung sudah disediakan keranda mayat. Konon Belanda sengaja mengadakan hal tersebut dengan maksud agar para pendekar silat tersebut tumpas dengan sendirinya, hingga tidak ada yang ditakuti lagi oleh pihak Belanda.

 

 

Perlu verfikasi lebih lanjut dengan menelusuri arsip-arsip Hindia Belanda tentang hal tersebut.

 

 

Acara tersebut diadakan setiap tahun bertempat di dalam Istana Kebun Raya Bogor, dalam memperingati Ulang Tahun Ratu Belanda, Ratu Wilhemina.

 

 

  1. Parit dan Benteng Pertahanan

 

 

 

Prasasti Batutulis menerangkan, pada masa Sri Baduga dilakukan langkah penting guna memperkokoh pertahanan istana/kerajaan, yakni dibuatnya parit-parit di sekeliling tembok istana Pakuan (ya nu nyusuk na Pakwan).

 

 

Parit di sekeliling Pakuan ini telah dirintis oleh Rakeyan Banga, leluhur Sri Baduga raja Sunda ke-4, dan bahkan telah diperluas (dibeukah) oleh Prabu Dharmasiksa pada abad ke-12. Yang dilakukan Sri Baduga tak lain memperkokoh dan mungkin juga memperluas/memperpanjang lagi parit-parit di Pakuan. Selain di Pakuan, di ibukota Sunda-Galuh yang lain, yakni Kawali, pun pernah dibuat parit (marigi) oleh Prabu Niskala Wastukancana pada abad ke-14.
 

  1. Old Dutch map showing the location of Pakuan, the ancient capital of the Sundanese kingdom of Pajajaran, near Bogor city in West Java

 

 

Laporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC (“Verenigde Oost Indische Compagnie”).

 

 

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi “bekas istana” Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi yang masing-masing dipimpin oleh :

 

 

  1. Scipio (1687)
  2. Adolf Winkler (1690)
  3. Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709)

 

 

 

  1. Laporan Scipio

Dua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah :

 

 

  1. Catatan perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik “Unitex” sekarang. Catatannya adalah sbb.: “Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni”.

 

 

  1. Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat “Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit”. Dari anggota pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran.

 

Dari perjalanannya disimpulkan bahwa jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan “kesan wajah” kerajaan hanyalah “Situs Batutulis”.

 

 

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort” (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau).

 

 

Rupanya laporan penduduk Parung Angsana ada hubungannya dengan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau dan ini telah menumbuhkan adanya hubungan antara Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau.

 

 

 

  1. Laporan Adolf Winkler (1690)

 

 

 

Laporan Scipio menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian dibentuk kembali team ekspedisi dipimpin oleh Kapiten Winkler. Pasukan Winkler terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur.

Perjalanan ringkas ekspedisi Winkler adalah sebagai berikut:

Seperti Scipio, Winkler bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan. Ia melewati jalan besar yang oleh Scipio disebut “twee lanen”. Hal ini tidak bertentangan. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku.

 

 

Karena itu ia hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.

Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi “parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (“de diepe dwarsgragt van Pakowang”) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada).

 

 

Satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks “Unitex” itu pada jaman Pajajaran merupakan “Kebun Kerajaan”.

 

 

Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti “tanam, tanaman atau kebun”. Tajur Agung sama artinya dengan “Kebon Gede atau Kebun Raya”. Sebagai kebun kerajaan Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya.

 

Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak (1709) dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku “Tulus Rejo”, sekarang).

 

 

Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke “Sekip” dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung.

 

Di Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan (“het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben”).

 

 

Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7 batang pohon beringin.

Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum Winkler tiba di situs Batutulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (“Purwa Galih”), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti).

 

 

Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh “Gang Amil”. Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung). Bale Kambang ini adalah untuk bercengkrama raja.

 

 

Contoh Bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi Jl. Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan “benteng batu” yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasast (sisi utara).

 

 

Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang.

 

Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa “Istana Pakuan” itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 81/2 baris (Ia menyebut demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup).

 

 

Yang penting adalah untuk kedua batu itu Winkler menggunakan kata “stond” (berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 th (sejak Pajajaran burak <bubar/hancur> oleh pasukan Banten th 1579), batu-batu itu masih berdiri (masih tetap pada posisi semula).

Dari tempat prasasti, Winkler menuju ke tempat arca (umum disebut Purwakalih, 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih). Di sana terdapat 3 buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung.

 

 

Nama trio ini terdapat dalam “Babad Pajajaran” yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh 1862. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara “Kabuyutan” Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi.

 

 

Menurut babad ini, “Pohon Campaka Warna” (sekarang tinggal tunggulnya) terletak tidak jauh dari alun-alun

 

 

 

  1. Berita dari Naskah Tua

Dalam kropak yang diberi nomor 406 di Museum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama “Carita Parahiyangan”. Sementara bagian yang belum diterbitkan biasa disebut fragmen K 406.

“Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata.”

 

 

(Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

 

 

Sriman Sriwacana, adalah batu yang digunakan untuk penobatan raja. Sekarang batu tersebut terletak di depan bekas Keraton Banten. Panembahan Yusuf menitahkan batu tersebut dipindahkan ke Banten karena ibunda beliau juga merupakan cucu dari Prabu Siliwangi.

 

Dari sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari “hulu Cipakancilan”. Hulu Cipakancilan terletak dekat lokasi kampung Lawang Gintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi.

 

 

Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Cipakancilan. Hanyalah juru pantun kemudian menterjemahkannya menjadi Cipeucang. Dalam bahasa Sunda kuno dan Jawa kuno kata “kancil” memang berarti “peucang”.

 

  1. Hasil Penelitian

 

Prasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan “cetakan tangan” untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada 4 orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.

 

Hasil penelitian Pleyte dipublikasikan tahun 1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun 1903). Dalam tulisan “Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg” (Angka tahun pada Batutulis di dekat Bogor), Pleyte menjelaskan “Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran’s koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten”.

(Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih dipercayai menunjuk kampung Batutulis yang sekarang sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran, masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang tepat).

Sedikit kotradiksi dari Pleyte adalah pertama ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton, akan tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang.

 

 

Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.

 

Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas “Dalem Kitha” (Jero kuta) dan “Jawi Kitha” (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah “kota dalam” dan “kota luar”. Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jl. Siliwangi dengan Jl. Batutulis.

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang Gintung (bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang oleh data kepurbakalaan dan sumber sejarah.

 

 

Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa “Leuwi Sipatahunan” yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, “leuwi” (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi oleh puteri-puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari “Leuwi Sipatahunan” itu.

Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen “Cakrabirawa” (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama “Mila Kencana”. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan.

 

 

Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.

 

Sebenarnya hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler (kunjungan ke Batutulis 14 Juni 1690). Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah “hoff” (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata “paseban” dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas “balay” yang lama.

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti “porte brisee, bewaakte in-en uitgang” (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop “Rangga Gading”. Setelah menyilang Jl. Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut.

 

 

Deretan pertokoan antara Jl. Suryakencana dengan Jl. Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, sebenarnya didirikan pada bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung.

 

 

Deretan kios dekat simpangan Jl. Siliwangi – Jl. Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded.

 

 

Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang Jl. Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jl. Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

 

 

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan “benteng alam” yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan “ujung benteng” dengan “benteng” pada tebing Kampung Cincaw.

 

 

 

Asal kata Pakuan Pajajaran menurut para ilmuwan

 

 

  1. P. Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian “paku”, akan tetapi harus diartikan “paku jagat” (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. “Pakuan” menurut Fouffaer setara dengan “Maharaja”.

 

 

Kata “Pajajaran” diartikan sebagai “berdiri sejajar” atau “imbangan” (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti “Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit”.

 

 

Dalam pancakaki galur kekerabatan kerajaan-kerajaan Sunda seperti yang tertulis dalam naskah kuno Keraton Cirebon. Memang terdapat silsilah pendiri Majapahit Nararya Sangramawiajaya adalah cucu Prabu Guru Darmasiksa salah seorang raja Sunda.

 

 

 

  1. Ng. Poerbatjaraka (1921). Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata “Pakuan” mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno “pakwwan” yang kemudian dieja “pakwan” (satu “w”, ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan “pakuan”. Kata “pakwan” berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti “istana yang berjajar”(aanrijen staande hoven).

 

 

  1. ten Dam (1957). Sebagai seorang pakar pertanian, Ten Dam meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah.

 

 

Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian “Pakuan” ada hubungannya dengan “lingga” (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian “paku”.

 

 

Ia berpendapat bahwa “pakuan” bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibu kota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata “pajajaran” ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara “Sungai Besar” dan “Sungai Tanggerang” (sekarang dikenal sebagai Ci Liwung dan Ci Sadane).

 

 

Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama “Pajajaran” muncul karena untuk beberapa kilometer Ci Liwung dan Ci Sadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau “Dayeuh Pajajaran”.

 

 

Sebutan “Pakuan”, “Pajajaran”, dan “Pakuan Pajajaran” dapat ditemukan dalam Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan nomor 3 bisa dijumpai pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.

 

 

 

 

Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut “pakuan” itu adalah “kadaton” yang bernama Sri Bima dan seterunya. “Pakuan” adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana.

 

 

Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu “istana yang berjajar”. Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri.

 

 

 

 

 

 

Cag ah.

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

 

(dari berbagai sumber)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kemerdekaan adalah Jembatan Emas

(Kesetaraan dalam keberagaman = Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni)

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ وَّ خَلَقَ مِنۡہَا زَوۡجَہَا وَ بَثَّ مِنۡہُمَا رِجَالًا کَثِیۡرًا وَّ نِسَآءً ۚ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ الَّذِیۡ تَسَآءَلُوۡنَ بِہ وَ الۡاَرۡحَامَ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ عَلَیۡکُمۡ رَقِیۡبًا ﴿﴾

Hai manusia, bertakwalah kepada Allah Tuhan kamu yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya sebagai pasangan serta mengembang-biakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan bertakwalah mengenai hubungan kekerabatan, sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisā [4]:2).

 

Tentu kita percaya bahwa Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah Jembatan Emas menggapai cita-cita berbangsa bernegara.
Pada pidato di sidang BPUPKI Soekarno mengajukan usulan penting bahwa modal utama dari negara yang akan segera lahir itu tak lain adalah kemerdekaan. Karena kermerdekaan itu adalah “jembatan emas”.
Jembatan. Itu kaca kuncinya. Di seberang jembatan itu kelak, kata Bung Karno, semua akan ditata. Bagaimana masyarakat Indonesia yang telah meraih kemerdekaan akan hidup dengan landasan filosofi Pancasila yang menjunjung tinggi kesetaraan dalam keberagaman.

Sementara kolonialisme pada praktiknya membedakan manusia berdasar pada bangsa/suku, agama, ras (SARA) dan privelege jabatan, kekayaan, tingkat pendidikan.
Kasta penduduk dan masyarakat masa kolonial (apartheid) menempatkan manusia pra-Indonesia paling tidak menjadi lima (5) tingkatan kelas. Milone (1975) menuliskan :
Kelas Satu= orang-orang Eropa, termasuk para pejabat VOC.
Kelas Dua = Vrijburger, Eurasian, Mardijker, Papanger, orang Jepang, orang pribumi Kristen, dan beberapa orang Afrika.
Kelas Tiga = orang Tionghoa, Arab, dan India.
Kelas Empat = orang Melayu.
Kelas Lima = orang pribumi non-Kristen.

Posted in Sejarah | Leave a comment

KH. Ahmad Sanusi : Mufassir Pejuang

An-Nisa ayat 9.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”.

 

Memang bukan tradisi Sunda untuk membesar-besarkan kehebatannya. Bahkan sampai-sampai ada anggapan tabu menceritakan sejarah nenek moyangnya sendiri, bisi “agul ku payung butut” cenah. Doktrin “pamali” atau “teu wasa” begitu kuat mengakar.

Padahal sebagaimana Surat An Nisa di awal, kepentingan menuliskan sejarah adalah meneruskan tradisi kecerdasan Emotional Spiritual Question (ESQ), pelestarian Iman-Ilmu-Amal, kepahlawanan serta ketangguhan sebuah bangsa. ‘Dignity, Honour, country and people’.

Ikhtiar dalam usaha menciptakan lebih banyak anak-anak yang tanggon dan trengginas, pemuda/pemudi yang amanah – fathonah – sidiq dan gandrung ber-tabligh.

Memupuk generasi muda bermartabat, yang siap bekerjasama dengan bangsa dunia lainnya dalam mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tapi ada baiknya untuk menghindarkan dari kesan takabur, songong, adigung adiguna’, ‘asa aing uyah kidul, alak-alak cumampaka atau sombong, maka tulisan ini diawali dengan petatah-petitih dalam bahasa Melayu :

“Tak Kenal maka Tak Sayang”

Dalam manajemen kepemimpinan juga, konsep pertama adalah Mengenal Diri. Dengan mengenal diri, mahluk manusia akan pandai bersyukur akan nikmat-nikmat Allah swt yang telah memberikan begitu banyak keistimewaan padanya.

 

3 Jam dari ibukota NKRI

Teknologi Informasi dan Komunikasi telah membuka mata dan telinga kita sedemikian lebar, ternyata begitu banyak manusia-manusia hebat – pintar di seluruh Indonesia. Demikian pula daerah kota/kabupaten yang sangat luas, luar biasa kaya akan kesuburan alam, budaya, masyhur pula kesejarahannyanya.

Tetapi ketika ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan proklamasi 17 Agustus 1945 senyatanya sejarak 180 menit saja, ….atau hanya 3 jam perjalanan darat dari tempat dakwah tokoh pejuang yang satu. Ini jadi bahan tulisan yang sangat menarik.

Semenarik menganalisis pertanyaan-pertanyaan dan jawaban mengapa ibukota NKRI ditasbihkan, justru ada di Jawa bagian barat.

 

KH Ahmad Sanusi

Tulisan riwayat singkat KH. Ahmad Sanusia ini disadur dari beberapa sumber.

Mama Ajengan Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, ulama besar yang memimpin Pesantren Cantayan, salah satu pesantren terkemuka di Sukabumi, Jawa Barat.

Ahmad Sanusi atau dikenal dengan sebutan Kiai Haji Ahmad Sanusi atau Ajengan Genteng lahir 18 September 1889 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi – meninggal tahun 1950 di Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi.

Adalah tokoh Sarekat Islam dan pendiri Al-Ittahadul Islamiyah (AII), sebuah organisasi di bidang pendidikan dan ekonomi.

Sejak kecil Ahmad Sanusi hidup dilingkungan keluarga yang religius sehingga telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak usia belia. Sanusi kecil bahkan tidak segan-segan belajar dari para santri senior di pesantren yang dipimpin ayahnya.

Di lingkungan keluarga inilah Ahmad Sanusi mendapat pendidikan Agama Islam yang begitu ketat sehingga Ahmad Sanusi selain hafal al-Qur’an diusia 12 tahun, juga ia menguasai berbagai disiplin Ilmu Agama Islam, seperti Ilmu Nahu, Sharaf, Tauhid, Fiqh, Tafsir, Mantiq, dll.

Menginjak usia dewasa, Sanusi menunjukkan dirinya sebagai pembelajar sejati. Jiwa dan semangat petualangnya dalam menuntut ilmu ditunjukkannya dengan tak bosan dan tak henti-hentinya bertandang dari satu perguruan ke perguruan lainnya.

Terutama pondok pesantren yang ada di tatar Sunda selama 4,5 tahun. Pesantren yang pernah dikunjungi, diantaranya: 1) Pesatren Selajambe Cisaat Sukabumi, Pimpinan Ajengan Soleh/Ajengan Anwar, 2) Pesantren Sukamantri  Cisaat Sukabumi, Pimpinan Ajengan Muhammad Siddiq, 3) Pesantren Sukaraja Sukabumi, Pimpinan Ajengan Sulaeman/Ajengan Hafidz, 4) Pesantren Cilaku Cianjur untuk belajar ilmu Tasawwuf,

5) Pesantren Ciajag Cianjur, 6) Pesantren Gentur Warung Kondang Cianjur, Pimpinan  Ajengan Ahmad Satibi/Ajengan Qurtubi, 7) Pesantren Buniasih Cianjur, 8) Pesantren Keresek Blubur Limbangan Garut, 9) Pesantren Sumursari Garut, 10) Pesantren Gudang Tasikmalaya, Pimpinan Ajengan R. Suja’i, 11) Pesantren Babakan Selaawi Baros Sukabumi Pimpinan Ajengan Affandi.

Petualangan Ajengan Sanusi bahkan tidak hanya “ngulukutek” di Jawa Barat. Tahun 1904 pada usia 20 tahun ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama.

Di tanah Mekkah itulah ia berkenalan dengan sejumlah ulama besar ahli ilmu agama (Syeikh), baik yang asli Mekkah maupun para Syeikh yang berasal dari Indonesia.

Beberapa Syeikh yang sempat menjadi guru Ajengan Sanusi di tanah suci, antara lain: Syeikh Muhammad Junaidi, Syeikh Said Jawani, Syeikh Saleh Bafadlal, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syeikh Mukhtar Attarid asal Bogor.

Salah satu ulama besar yang banyak mempengaruhi pemikiran Ajengan Sanusi adalah Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, salah satu ulama pembaharu asal Mesir.

Ketekunannya dalam memperdalam ilmu agama telah mengantarkan Ajengan Sanusi menjadi salah seorang ulama yang disegani di Mekkah. Ajengan Sanusi mendapat gelar sebagai salah satu Imam besar Masjidil Haram, Mekkah.

Pada saat menuntut ilmu di Mekah itulah Ajengan Sanusi banyak berinteraksi dengan ide-ide pembaharuan dari sejumlah tokoh muslim dunia, seperti Syeikh Muhammad ‘Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, dan Jamaluddin al-Afghani.

Interaksi dan perjumpaan Ajengan Sanusi dengan tokoh-tokoh itu telah membangun perspektif baru dan menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia.

Namun demikian, Ajengan Sanusi tetap konsisten dan tidak meninggalkan mazhab dan manhaz dasarnya sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid.

Bahkan dalam bidang ilmu fikh yang juga merupakan keahliannya. Ajengan Sanusi terkenal sangat kritis dalam berijtihad menentukan hukum Islam.

 

Ajengen Genteng

Setelah menuntaskan petualangannya memperdalam ilmu agama Islam di tanah suci, pada 1915 Ajengan Sanusi kembali ke Indonesia dengan harapan dapat membantu ayahnya mengajar dan mengembangkan Pesantren Cantayan.

Setelah tiga tahun membantu ayahnya, Ajengan Sanusi kemudian mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng yang berada di sebelah utara Pesantren Cantayan.

Tahun 1922 itulah K.H. Ahmad Sanusi mendirikan pesantren Genteng Babakan Sirna, Cibadak, Sukabumi. Dalam menyampaikan dakwah, K.H. Ahmad Sanusi mempunyai metoda yang keras, tegas, dan teguh pendirian.

Beliau merombak cara belajar santri dengan duduk tengkurap (ngadapang) diganti dengan duduk di bangku dan meja dan diterapkan sistim kurikulum berjenjang (klasikal).

Karena itu, Ajengan Sanusi juga dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng. Pesantren yang ia dirikan di Kampung Genteng itu kemudian diberi nama Pondok Pesantren Syamsul Ulum.

 

Menulis Kitab dan Terbitkan Majalah

Selain keahliannya dalam ilmu agama – dimana KH Ahmad Sanusi semasa hidupnya juga dikenal luas sebagai ulama ahli tafsir. Salah satu karyanya adalah kitab Malja Al Talibin fi Tafsir Kalam Tabb Al Alamin.

Beliau juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan tercatat sebagai satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.

Sebelumnya, Ajengan Sanusi juga dikenal sebagai tokoh Syarikat Islam (SI) dan pendiri al-Ittihadiat al-Islamiyah.

Sebagai tokoh SI, Ajengan Sanusi juga aktif dalam usaha-usaha dan perjuangan  mengusir kolonial Belanda yang saat itu terus melakukan upaya untuk melakukan kolonisasi di seantero Hindia Belanda.

Ajengan Sanusi memang dikenal sebagai salah satu penganut Tarekat Qadiriyah yang banyak dianut oleh masyarakat pra/pasca kemerdekaan. Bahkan, para pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan, kerap meminta ajaran dan kekebalan kepada KH. Ahmad Sanusi berkaitan dengan terjemahan Manâqib Abdulqâdir Jailânî yang kemudian jadi pedoman Tarekat Qadiriyah itu.

Pada bulan Nopember 1926 meletus di Jawa Barat yang dikenal sebagai Gerakan Syarikat Islam (SI) Afdeeling B yang merupakan perlawanan rakyat jelata terhadap pemerintah kolonial Belanda.

K.H. Ahmad Sanusi bersama santri-santri Pesantren Genteng Babakan Sirna dituduh terlibat dalam pemberontakan tersebut, sehingga beliau ditangkap dan masuk penjara di Sukabumi 6 bulan dan di Cianjur 7 bulan.

Kemudian pada tahun 1927 beliau diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Tanah Tinggi – Senen, Batavia Centrum selama 7 tahun (1927-1934). Dalam pengasingannya, K.H. Ahmad Sanusi tetap terus berdakwah menyebarluaskan ilmunya dengan giat dan istiqomah, sehingga seluruh masjid yang ada di Batavia masa itu sempat dikunjungi dan bertabligh.

Beliau terkenal dengan julukan Ajengan Batawi.

Karena perjuangannya menentang pemerintah kolonial Belanda itu, Ajengan Sanusi ditangkap dan menjadi tahanan politik di Batavia. Namun selalu saja ada hikmah terpendam di balik semua kejadian yang dilalui Ajengan Sanusi.

Selama masa penahanan itu, Ajengan Sanusi menulis banyak buku dan membentuk suatu organisasi keagamaan yang sekaligus menjadi wadah perjuangan ummat dalam merebut kemerdekaan, yaitu al-Ittihadiat al-Islamiyah pada tahun 1931.

Pada saat ia kembali ke Sukabumi, ia terus melanjutkan perjuangan organisasinya sambil menangani lembaga pendidikan Syams al-‘Ulum yang lebih dikenal dengan Pesantren Gunung Puyuh yang masih berjalan sampai sekarang.

Selain itu Ahmad Sanusi juga menerbitkan majalah al-Hidayah al-Islamiyah (Petunjuk Islam) dan majalah at-Tabligh al-Islami (Dakwah Islam) sebagai bahan bacaan dalam rangka da’wah bi al-lisan (dakwah yang disampaikan secara lisan).

Sebagai ulama ahli tafsir dan fikih, beliau telah menghasilkan banyak karya. Di antara karya-karyanya di bidang tafsir, fikih, tasawuf dan kalam antara lain:

 

Bidang tafsir :

  • Kanzur ar-Rahmah wa Luth fi Tafsir Surah al-Kahfi
  • Tajrij Qulub al-Mu’minin fi Tafsir Surah Yasin
  • Kasyf as-Sa’adah fi Tafsir Surah Waqi’ah
  • Hidayah Qulub as Shibyan fi Fadlail Surah Tabarak al-Mulk min al-Qur’an
  • Kasyf adz-Dzunnun fi Tafsir Layamassuhu ilaa al-Muthahharun
  • Tafsir Surah al-Falaq
  • Tafsir Surah an-Nas
  • Raudhlatul Irfan fi Ma’rifat Al-Qur’an
  • Maljau at-Thalibin
  • Tamsyiyatul Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-‘Alamin
  • Ushul al-Islam fi Tafsir Kalam al-Muluk al-Alam fi Tafsir Surah al-Fatihah

 

Bidang fikih :

  • Tahdzir al-‘Awam fi Mufiariyat Cahaya Islam
  • Al-Mufhamat fi Daf’I al-Khayalat
  • At-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith
  • Tarjamah Fiqh al-Akbar as-Syafi’i
  • Al-Jauhar al-Mardliyah fi Mukhtar al-Furu as-Syafi’iyah
  • Nurul Yaqin fi Mahwi Madzhab al-Li’ayn wa al-Mutanabbi’in wa al-Mubtadi’in
  • Tasyfif al-Auham fi ar-Radd’an at-Thaqham

 

Bidang tasawuf :

  • Mathla’ul al-Anwar fi Fadhilah al-Istighfar
  • Al-Tamsyiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah
  • Fakh al-Albab fi Manaqib Quthub al-Aqthab
  • Siraj al-Adzkiya fi Tarjamah al-Azkiya
  • Al-Audiyah as-Syafi’iyah fi Bayan Shalat al-Hajah wa al-Istikharah
  • Siraj al-Afkar
  • Dalil as-Sairin
  • Jauhar al-Bahiyah fi Adab al-Mar’ah al-Mutazawwiyah

 

Bidang kalam :

  • Miftah al-Jannah fi Bayan ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah
  • Tauhid al-Muslimin wa ‘Aqaid al-Mu’minin
  • Alu’lu an-Nadhid
  • Al-Mufid fi Bayan ‘ilm al-Tauhid
  • Siraj al-Wahaj fi al-Isra wa al-Mi’raj
  • Al-‘Uhud wa al-Hudud
  • Bahr al-Midad fi Tarjamah Ayyuha al-Walad
  • Haliyat al-‘Aql wa al-Fikr fi Bayan Muqtadiyat as-Syirk wa al-Fikr
  • Thariq as-Sa’adah fi al-Farq al-Islamiyah
  • Maj’ma al-Fawaid fi Qawaid al-‘Aqaid
  • Tanwir ad-Dzalam fi Farq al-Islam

 

Karya yang paling menonjol adalah Raudhatul Irfan, berisi terjemah Al-Quran 30 juz dalam bahsa Sunda, dengan terjemah kata- per- kata dan syarah (tafsir penjelasan) singkat.

Tafsir ini telah dicetak ulang berpuluh kali dan sampai sekarang masih digunakan di Majelis-majelis Ta’lim di Jawa Barat.

Karya monumental lainnya adalah serial Tamsyiyyatul Muslimin, tafsir Al-Quran dalam bahasa Melayu /Indonesia.

Setiap ayat-ayat al-Quran disamping ditulis dalam huruf Arab juga ditulis (transliterasi) dalam huruf Latin.

Melalui pemahaman ummat Islam terhadap Al-Quran, serial tafsir itu sarat dengan pesan-pesan tentang pentingnya harga diri, persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan di kalangan ummat.

 

Ahmad Sanusi sebagai Mufassir

KH. Ahmad Sanusi banyak terlibat dalam dunia pendidikan dan menulis buku sebanyak 126 buah yang meliputi berbagai bidang agama, yang ditulis baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia.

Sosok ulama ini dipenuhi aktifitas sosial keagamaan plus mewariskan karya yang sangat berharga.

Beliau adalah salah satu dari ulama-ulama Jawa Barat yang produktif menelorkan kitab-kitab berbahasa Sunda yang berisi tentang ajaran agama Islam.

Dua yang lainnya, adalah Rd. Ma’mun Nawawi bin Rd. Anwar yang menulis berbagai risalah singkat. Begitu juga ulama sekaligusi penyair terkenal, ‘Abdullah bin Nuh dari Bogor yang menulis karya-karya penting tentang ajaran-ajaran sufi, yang didasarkan atas pandangan al-Ghazâli.

Kitab Raudhatu al-‘Irfân fi ma’rifati al-Qur’ân bisa dikatakan sebagai starting point di tengah tradisi tulis-baca di dunia pesantren saat itu yang belum cekatan dalam menelorkan karya tafsir yang utuh.

 

Model Tafsir Sunda

Kitab ini terdiri dari dua jilid, jilid pertama berisi juz 1-15 dan jilid kedua berisi juz 16-30. Dengan mempergunakan tulisan Arab dan bacaan Sunda, ditambah keterangan di samping kiri dan kanan setiap lembarnya sebagai penjelasan tiap-tiap ayat yang telah diterjemahkan.

Model penyuguhan tersebut, bukan saja membedakannya dari tafsir yang biasa digunakan di pesantren dan atau masyarakat umumnya, melainkan berpengaruh banyak pada daya serap para peserta pengajian.

Tulisan ayat yang langsung dilengkapi terjemahan di bawahnya dengan tulisan miring akan membuat pembaca langsung bisa mengingat arti tiap ayat. Kemudian, bisa melihat kesimpulan yang tertera pada sebelah kiri dan kanan setiap lembarnya.

Keterangan yang ada di bagian kiri-kanan di setiap lembarnya, berisi kesimpulan dari ayat yang tertulis di sebelahnya dan penjelasan tentang waktu turunnya ayat (asbâb an-nuzûl), jumlah ayat, serta huruf-hurufnya.

Kemudian, disisipi dengan masalah tauhid yang cenderung beraliran ‘Asy’ari dan masalah fikih yang mengikuti madzhab Syafi’i. Kedua madzhab dalam Islam itu memang dianut oleh kebanyakan masyarakat muslim di wilayah Jawa Barat.

Dari sini terlihat bagaimana KH. Ahmad Sanusi mempunyai strategi tersendiri dalam menyuguhkan ayat-ayat teologi dan hukum yang erat kaitannya dengan paham masyarakat pada umumnya.

Bacaan atas teks-teks tafsir Arab yang ada di lingkungannya telah menginspirasikan KH. Ahmad Sanusi untuk membuat sebuah karya yang sampai sekarang layak dijadikan contoh oleh para pengkaji tafsir, khususnya yang berbahasa Sunda.

Karena tafsir adalah nalar kita atas kitab suci yang dibentuk oleh lokus budaya dan bahasa yang terus bergerak. Intelektual muslim Sunda sedianya melanjutkan estafet KH. Ahmad Sanusi, sehingga Al-Quran akan sesuai dengan perubahan ruang dan waktu (shâlihun li kulli zamân al makân).

 

PUI (Persatuan Umat Islam)

Karena dianggap merongrong kewibawaan pemerintah kolonial, Al-Ittihadiat al-Islamiyah akhirnya dibubarkan oleh penguasa Jepang. Namun Ajengan Sanusi terus melakukan konsolidasi dan mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).

Organisasi ini kemudian makin berkembang dan cukup disegani oleh Jepang. Ajengan Sanusi kemudian mewakili PUI dalam Masyumi.

Pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1943 beliau diangkat sebagai penasihat pemerintah Keresidenan Daerah Bogor (Giin Bogor Shu Sangi Kai).

 Di Keresidenan Bogor (Bogor Syu), Ahmad Sanusi salah seorang yang membidani lahirnya Tentara PETA (Pembela Tanah Air), BKR (Badan Keamanan Rakyat), KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah), juga ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar AII (POII atau PUII).

Juga organisasi underbouw AII, seperti BII, Zaenabiyyah, IMI, pendiri GUPPI (Gabungan Usaha-usaha Perbaikan Pendidikan Islam), dll.

Tahun 1944 beliau diangkat sebagai Wakil Residen Bogor (Fuku Syucokan). Selanjutnya ditunjuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia.

Sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dibentuk segera setelah Proklamasi 17-8-1945, maka KH. Ahmad Sanusi ikut bersama Republik Indonesia hijrah ke Yogya.

Pada hari Ahad malam senin tanggal 15 Syawal 1369 H bertepatan dengan tanggal 31 Juli 1950 M sekitar pukul 21.00 WIB, Ahmad Sanusi dalam usia 63 tahun berdasarkan hitungan kalender Hijriyyah atau 61 tahun, 10 bulan dan 22 hari menurut hitungan kalender Masehi, dipanggil dengan tenang oleh sang pecipta untuk kembali keharibaannya

Pemerintah Indonesia mengakui jasa-jasanya sebagai salah seorang perintis Kemerdekaan Republik Indonesia. Presiden Soeharto menganugerahi penghargaan Bintang Maha Putera Utama pada tanggal 12 Agustus 1992.

Serta Presiden Susilo Bambang Yudoyono menganugerahi Bintang Maha Putera Adipradana pada tanggal 10 November 2009

 

Anggota BPUPKI

Sampai menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, Ajengan Sanusi tercatat sebagai anggota panitia Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPIPKI).

 

Penutup

Abraham Lincoln, presiden ke 16 AS yang membawa keluar bangsa Amerika dari Perang Saudara, mempertahankan persatuan bangsa, dan menghapuskan perbudakan berkata: “one cannot escape history”, orang tak dapat meninggalkan sejarah.

Bersama TNI , Polri dan organisasi pemerintahan selain selalu melaksanakan pewarisan nilai-nilai di atas, maka membentuk lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak dan generasi muda umumnya adalah mutlak.

Melindungi mereka dari serbuan besar-besaran benda berbahaya Napza, juga berupaya sekeras mungkin membentengi anak-anak gadis dari penjualan wanita (woman traficking).

 

Jazakumullah khairan katsiran.

Wassalam, Cag.

 

Sumber : dikutip dari tulisan Munandi Shaleh dalam Topic berita.blog dan lainnya

Posted in Uncategorized | Leave a comment

101 Jabatan Profesional/Fungsional

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Qs. al-Maidah: 2)

 

Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian/dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.

 

Penetapan Jabatan Fungsional

 

Jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan ditetapkan dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Mempunyai metodologi, teknik analisis, teknik dan prosedur kerja yang didasarkan atas disiplin ilmu pengetahuan dan/atau pelatihan teknis tertentu dengan sertifikasi,
  2. Memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi,
  3. Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan:
  4. Tingkat keahlian, bagi jabatan fungsional keahlian,
  5. Tingkat keterampilan, bagi jabatan fungsional keterampilan.
  6. Pelaksanaan tugas bersifat mandiri.
  7. Jabatan fungsional tersebut diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi.

 

Berikut Tabel Jabatan Fungsional yang diberikan Tunjangan:

No JABATAN FUNGSIONAL INSTANSI PEMBINA RUMPUN JABATAN PERPRES
1 Arsiparis Arsip Nasional Republik Indonesia Arsiparis, Pustakawan dan yang berkaitan 46/2007
2 Agen Badan Intelejen Negara Penyidik dan Detektif 48/2007
3 Analis Kepegawaian Badan Kepegawaian Negara Manajemen 45/2007
4 Pengamat Meteorologi dan Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika Fisika, Kimia dan yang berkaitan 56/2007
5 Pengawas Farmasi dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan Pengawas Kualitas dan Keamanan 52/2007
6 Pengawas Radiasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir Fisika, Kimia dan yang berkaitan 57/2007
7 Perencana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Manajemen 44/2007
8 Pranata Komputer Badan Pusat Statistik Kekomputeran 39/2007
9 Statistisi Badan Pusat Statistik Matematika, Statistika dan yang berkaitan 40/2007
10 Pranata Nuklir Badan Tenaga Atom Nasional Fisika, Kimia dan yang berkaitan 55/2007
11 Surveyor Pemetaan BAKOSURTANAL Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 37/2007
12 Penyuluh Keluarga Berencana BKKBN Ilmu Sosial dan yang berkaitan 64/2007
13 Auditor BPK dan BPKP Akuntan dan Anggaran 66/2007
14 Perekayasa BPPT Peneliti dan Perekayasa 31/2007
15 Teknisi Penelitian dan Perekayasaan BPPT Peneliti dan Perekayasaan 31/2007

 

16 Jaksa Kejaksaan Agung  
17 Penyuluh Agama Kem. Agama Keagamaan 59/2007
18 Penghulu Kem. Agama Keagamaan 73/2007
19 Penyelidik Bumi Kem. Energi dan Sumber Daya Mineral Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 38/2007
20 Pengamat Gunung Api Kem. Energi dan Sumber Daya Mineral Fisika, Kimia dan yang berkaitan 67/2007
21 Inspektur Ketenagalistrikan Kem. Energi dan Sumber Daya Mineral Pengawas Kualitas dan Keamanan  
22 Inspektur Minyak dan Gas Bumi Kem. Energi dan Sumber Daya Mineral Pengawas Kualitas dan Keamanan  
23 Inspektur Tambang Kem. Energi dan Sumber Daya Mineral Pengawas Kualitas dan Keamanan  
24 Pamong Budaya Kem. Kebudayaan dan Pariwisata Penerangan dan Seni Budaya 74/2007
25 Pemeriksa Merk Kem. Kehakiman dan HAM Hak Cipta, Paten dan Merek 41/2007
26 Pemeriksa Paten Kem. Kehakiman dan HAM Hak Cipta, Paten dan Merek 41/2007
27 Perancang Peraturan Perundang-undangan Kem. Kehakiman dan HAM Hukum dan Peradilan 43/2007
28 Penyuluh Kehutanan Kem. Kehutanan Ilmu Hayat 33/2007
29 Pengendali Ekosistem Hutan Kem. Kehutanan Ilmu Hayat 34/2007
30 Polisi Kehutanan Kem. Kehutanan Penyidik dan Detektif 49/2007
31 Pengawas Benih Ikan Kem. Kelautan dan Perikanan Ilmu Hayat 32/2007
32 Pengawas Perikanan Kem. Kelautan dan Perikanan Ilmu Hayat 32/2007
33 Pengendali Hama dan Penyakit Ikan Kem. Kelautan dan Perikanan Ilmu Hayat 32/2007
34 Apoteker Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
35 Asisten Apoteker Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
36 Bidan Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
37 Dokter Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
38 Dokter Gigi Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007

 

9 Epidemiologi Kesehatan Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
40 Entomolog Kesehatan Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
41 Fisioterapis Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
42 Nutrisionis Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
43 Penyuluh Kesehatan Masyarakat Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
44 Perawat Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
45 Perawat Gigi Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
46 Perekam Medis Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
47 Pranata Laboratorium Kesehatan Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
48 Radiografer Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
49 Sanitarian Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
50 Teknik Elektromedis Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
51 Administrator Kesehatan Kem. Kesehatan Kesehatan 54/2007
52 Okupasi Terapis Kem. Kesehatan Kesehatan  
53 Refraksionis Optisien Kem. Kesehatan Kesehatan  
54 Terapis Wicara Kem. Kesehatan Kesehatan  
55 Ortosis Prostesis Kem. Kesehatan Operator alat-alat dan elektronik  
56 Pemeriksa Bea dan Cukai Kem. Keuangan Imigrasi, Pajak dan Ass Prof yang berkaitan 53/2007
57 Pemeriksa Pajak Kem. Keuangan Imigrasi, Pajak dan Ass Prof yang berkaitan 53/2007
58 Penilai Pajak Bumi dan Bangunan Kem. Keuangan Ass Prof yang berhubungan dengan keuangan dan penjualan 73/2007
59 Adikara Siaran Kem. Keuangan  
60 Andalan Siaran (AS) Kem. Keuangan  
61 Penyuluh Pajak Kem. Keuangan Imigrasi, Pajak dan Ass Prof yang berkaitan  
62 Teknisi Siaran Kem. Keuangan  
63 Diplomat Kem. Luar Negeri  
64 Teknik Jalan dan Jembatan Kem. Pekerjaan Umum Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 36/2007
65 Teknik Pengairan Kem. Pekerjaan Umum Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 36/2007
66 Teknik Penyehatan Lingkungan Kem. Pekerjaan Umum Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 36/2007
67 Teknik Tata Bangunan dan Perumahan Kem. Pekerjaan Umum Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan 36/2007
68 Dosen Kem. Pendidikan Nasional Pendidikan tingkat Pendidikan Tinggi 65/2007
69 Pamong Belajar Kem. Pendidikan Nasional Pendidikan Lainnya  
70 Pengawas Sekolah Kem. Pendidikan Nasional Pendidikan lainnya  
71 Penilik Kem. Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan lainnya  
72 Guru Kem. Pendidikan dan Kebudayaan  
73 Penera Kem. Perdagangan Pengawas Kualitas dan Pengawas  
74 Pengawas Keselamatan Pelayaran Kem. Perhubungan Teknisi dan Pengontrol Kapal dan Pesawat  
75 Pengendali Frekuensi Radio Kem. Perhubungan Operator alat-alat optik dan elektronik  
76 Penguji Kendaraan Bermotor Kem. Perhubungan Pengawas Kualitas dan Keamanan  
77 Teknisi penerbangan Kem. Perhubungan Teknisi dna Pengontrol Kapal dan Pesawat  
78 Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan Kem. Perindustrian Ilmu Sosial yang berkaitan 60/2007
79 Penguji Mutu Barang Kem. Perindustrian Pengawas Kualitas dan Keamanan  
80 Medik Veteriner Kem. Pertanian Ilmu Hayat 32/2007
81 Paramedik Veteriner Kem. Pertanian Ilmu Hayat 32/2007
82 Pengawas Benih Tanaman Kem. Pertanian Ilmu Hayat 32/2007
83 Penyuluh Pertanian Kem. Pertanian Ilmu Hayat 32/2007
84 Pengawas Bibit Ternak Kem. Petanian Ilmu Hayat 32/2007
85 Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kem. Petanian Ilmu Hayat 32/2007
86 Pengawas Mutu Pakan Kem. Petanian Ilmu Hayat 75/2007
87 Pengawas Mutu Hasil Pertanian Kem. Petanian Ilmu Hayat  
88 Pekerja Sosial Kem. Sosial Ilmu Sosial dan yang berkaitan 61/2007
89 Perantara Hubungan Industrial Kem. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hukum dan Peradilan 42/2007
90 Pengawas Ketenagakerjaan Kem. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pengawas Kualitas dan Keamanan 51/2007
91 Instruktur Kem. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pendidikan lainnya 58/2007
92 Pengantar Kerja Kem. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Ilmu Sosial dan yang berkaitan 62/2007
93 Penggerak Swadaya Masyarakat Kem. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Ilmu Sosial dan yang berkaitan 63/2007
94 Pengendalian Dampak Lingkungan Kementrian Negara Lingkungan Hidup Ilmu Hayat 35/2007
95 Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara Pendidikan lainnya 59/2007
96 Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Matematika, Statistika dan yang berkaitan 30/2007
97 Pranata Hubungan Masyarakat Lembaga Informasi Nasional Penerangan dan Seni Budaya 29/2007
98 Operator Transmisi Sandi Lembaga Sandi Negara Kesehatan  
99 Sandiman Lembaga Sandi Negara Penyidik dan Detektif  
100 Pustakawan Perpustakaan Nasional Arsiparis, Pustakawan dan yang berkaitan 47/2007
101 Penerjemah SeTneg Manajemen  

Sumber tulisan :

  1. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil,
  2. bkn.go.id

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rd. Atje Wiriadinata

R.A. Wiriadinata” sebuah nama legendaris yang tak asing lagi bagi prajurit TNI terutama warga korps baret jingga karena beliau panglima pertama korps baret jingga yang saat itu bernama Komando Pasukan Gerat Tjepat (Kopasgat).

R.A. Wiriadinata putra kelahiran Sumedang mengawali karir di AURI sejak tahun 1940 setelah lulus dari pendidikan di Vliegtuigmakerschool Militaire Luchtvaart Andir Bandung.

Awal karier dimulai di pangkalan udara Andir Bandung sebagai teknisi pesawat terbang lalu pindah tugas di pangkalan udara Maospati Madiun.

Kemudian Marsekal Muda TNI (Anumerta) Rd. Atje Wiriadinata (lahir di Situreja, Sumedang, Jawa Barat, 15 Agustus 1920) berkarier militer di Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI dengan pangkat OMO (Opsir Muda Oedara) II.

Dankorpaskhas_RHA_WiriadinataDi pangkalan udara Maospati inilah R.A. Wiriadinata dan pasukannya yang terdiri atas anggota pangkalan dan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) berusaha mempertahankan pangkalan udara dari serangan tentara Belanda saat terjadi agresi militer.

Sejarah membuktikan, sejalan dengan bergulirnya perjalanan waktu, sosok R.A. Wiriadinata bak logam mulia tertimpa cahaya terus berkilau memancarkan sinar terang seiring dengan kiprahnya dalam berbagai pengabdian kepada AURI, TNI, bangsa dan negara.

Saat perang kemerdekaan melawan Belanda pasukan ini begitu disegani karena hanya mereka satu-satunya yang memiliki senjata 12,7 mm.

Karena kehebatannya, Wiriadinata kemudian diangkat menjadi Komandan Pertempuran Panembahan Senopati 105 (PPS-105) yang kemudian terkenal dengan nama Pasukan Garuda Mulya yang beroperasi di sekitar daerah Yogyakarta dan Surakarta (Solo).

Pasukan Garuda Mulya terkenal gigih dalam melawan agresi militer yang dilancarkan Belanda tahun 1947 dan 1948.

Pada tahun 1950-an, Wiriadinata yang saat itu berpangkat Kapten (U) mengikuti Sekolah Para Dasar Angkatan II di Lanud Andir, Bandung. Wiriadinata kemudian diangkat menjadi komandan PGT pertama pada tahun1952 sekaligus merangkap sebagai Komandan Lanud Andir.

Ia juga pernah menjadi Panglima Gabungan Pendidikan Paratroops (KOGABDIK PARA) di Lanud Margahayu, Bandung. Wiriadinata terlibat langsung dalam penumpasan berbagai gerakan separatis di Indonesia seperti DI/TII di Jawa Barat dan Sul-Sel, RMS di Maluku dan PRRI/PERMESTA di Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi Utara, pembebasan Irian Barat dan operasi-operasi militer lainnya.

Saat operasi 17 Agustus di Padang tahun 1958, Wiriadinata yang saat itu berpangkat Letkol (U) dipercaya menjadi wakil komandan operasi bersama Letkol (L) John Lie sedangkan pimpinan operasi dipegang oleh Kolonel Inf Ahmad Yani.

Berdasarkan Surat keputusan Men/Pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor (U) RA. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun.

Setelah itu Wiriadinata diberi jabatan sebagai Irjen Mabes AURI dengan pangkat Marsekal Muda (U) hingga tahun 1967. Pada tahun 1967, Presiden Soekarno menunjuk Wiriadinata sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Letjen (KKO) Ali Sadikin.

Duet ini kemudian memimpin Jakarta selama dua periode hingga 1977 yang dikenal sebagai “periode emas” DKI Jakarta. Setelah itu Presiden RI kedua Soeharto mengangkat Wiriadinata sebagai Wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1978-1983.

KORPASKHASAU

Sejak tahun 1950, Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dan mendapat sebutan Air Base Defence Troop (ABDT). Pasukan membawahi 8 kompi dan dipimpin oleh Kapten (U) RHA Wiriadinata dengan wakilnya Letnan I (U) R Soeprantijo.

Pada tahun 1950 juga diadakan Sekolah Terjun Payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit, dalam rangka pembentukan Pasukan Para AURI. Sekolah Para ini dibuka di Pangkalan Udara Andir Bandung

Komodor (U) RHA Wiriadinata adalah komandan PGT pertama (1952) yang banyak membawa perkembangan terhadap pasukan payung di Indonesia, terutama dalam tubuh AURI. Konsep PGT sejak awal mulanya memang tertuju pada kemampuan para dan komando.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor (U) RHA Wiriadinata.

KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung.

Ketika terjadi beberapa pemberontakan di bumi Pertiwi ini, PPP ditugaskan pula untuk menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Jawa Barat. Personil PPP melakukan pengejaran di wilayah Tangkuban Perahu, Pegunungan Galunggung, Pegunungan Guntur dan Pegunungan Tampomas.

Selain itu PPP juga ikut melaksanakan penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan dengan melakukan operasi yang dipimpin langsung oleh Letkol (U) RHA Wiriadinata. Saat penumpasan RMS tahun 1952, PPP mengerahkan 1 kompi pasukannya di Kendari dan Pulau Buru, Maluku.

Pada peristiwa PRRI di Sumatera, dua kompi PGT pimpinan LU I Sugiri Sukani dan LU I Rachman bersama 1 kompi RPKAD melakukan penerjunan untuk pertama kali pada 12 Maret 1958 saat Operasi Tegas di Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru.

Empat hari berselang pada operasi Sapta Marga 16 Maret 1958, pasukan yang sama dari PGT bersama RPKAD kembali melakukan penerjunan di Medan.

Ketika operasi 17 Agustus di Sumatera Barat, PGT mendapat tugas untuk merebut Lanud Tabing di Padang. Untuk mengawali operasi ini, delapan personel PGT dipimpin Letkol (U) RHA Wiriadinata ditugaskan melakukan operasi khusus. Tim kecil PGT ini mendapat tugas menentukan titik penerjunan yang paling aman bagi pasukan TNI.

Pendaratan open sea ini, terbilang berbahaya. Ombak besar menyulitkan pendaratan. Akibatnya, saat regu PGT mendarat dengan motor-tempel kecil di pantai, perahunya pecah. Sampai di pantai, mereka bergerak cepat, menyusup, menentukan koordinat, dan membuat kode-kode rahasia pada DZ. Tentu tidak gampang menentukan lokasi DZ, mengingat pasukan PRRI tersebar di mana-mana.

Pada 17 April 1958 tepat pukul 06.40 satu batalyon PGT dan satu kompi RPKAD diterjunkan dan langsung mendapat perlawanan dari pasukan PRRI, akibatnya satu personel PGT gugur. Selain itu Lanud Tabing juga sudah dipenuhi oleh ranjau paku dan bambu-bambu runcing yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Diabadikan menjadi nama Lanud

Sebagai penghormatan kepada Marsda TNI RHA Wiriadinata, pada tahun 2001 TNI Angkatan Udara melakukan penggantian nama atas Lanud Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi Lanud Wiriadinata.

Garuda Mulya

Pada 19 Desember 1948, ketika Belanda melancarkan agresinya yang ke-2, dengan menyerang Pangkalan Udara Maguwo  dan diikuti  dengan  pendaratan  tentara  payungnya, Pangkalan Udara Panasan juga didatangi oleh empat pesawat P-51 Mustang Belanda pada kira-kira pukul 06.30.

Mengetahui hal ini, anggota Pangkalan Udara Panasan pimpinan Bapak R.A. Wiriadinata menyerang lebih dahulu dengan senapan-senapan mesin yang jumlahnya 8 pucuk kaliber 12,7 mm.   Melihat peluru api berhamburan di udara, pesawat Belanda tidak membalas.

Hal ini mungkin karena tidak nampak adanya pesawat- pesawat AURI yang parkir di landasan, karena 3 buah pesawat AURI yang ada telah dihancurkan pada waktu Agresi Militer Belanda I.

Pada kenyataannya landasan Pangkalan Udara Panasan hanya dipenuhi dengan batu-batu dan bambu runcing yang telah dipasang oleh pasukan kita.

Pesawat-pesawat  P-51 Mustang Belanda hanya melaksanakan pengintaian dan penyebaran pamflet yang berisikan pengumuman bahwa pembesar-pembesar  RI telah ditawan, pemerintahan negara dipegang oleh Belanda dan seluruh rakyat diminta tenang.

Namun setelah itu pesawat terbang ke arah Delanggu, disana  mereka menyerang pabrik gula Delanggu dengan senapan mesin dan bom.

Mendengar keadaan yang demikian Komandan Pangkalan Udara Panasan Opsir Muda Udara I Wiriadinata mengeluarkan perintah agar:

  1. Markas AURI dipindahkan ke Bekonang.
  2. Pangkalan dan bangunan-bangunan AURI dihancurkan.

Dengan adanya perintah tersebut anggota Pangkalan Udara Panasan mengadakan aksi bumi hangus atas obyek-obyek vital yang ada di dalam pangkalan termasuk pengrusakan landasan.

Dengan menggunakan bom-bom pesawat terbang yang beratnya antara 25-100 kg yang sudah diubah detonatornya, Pangkalan Udara Panasan pada tanggal 21 Desember 1948, terpaksa dibumihanguskan.

Dalam waktu singkat, rumah-rumah sudah rata dengan tanah.   Dalam pelaksanaan pembumihangusan Pangkalan Udara Panasan jatuh korban atas nama Kopral Udara Semi dan Kopral Udara Sarsono, karena ingin memperbaiki detonator bom yang macet.   Tetapi malang nasibnya ketika ia menyentuh detonator, bom itu meledak sehingga menghancurkan tubuhnya.

Sore hari anggota Pangkalan Udara Panasan dan keluarga mengungsi dengan tujuan Madiun untuk menggabungkan diri dengan pasukan dari Maospati yang dipimpin oleh Bapak Soeprantijo.

Tetapi sesampainya di Polokerto (Bekonang) ditahan oleh Gubernur Militer II Rayon I Polokarto dibawah pimpinan Suhendro dan diberikan daerah pertahanan di Kecamatan Jumantoro.

Belanda mengetahui dari mata-mata bahwa Kampung Bekonang dan telah menjadi merupakan konsentrasi dari pasukan gerilya. Maka pada pukul 18.30  diserang oleh 2 pesawat P-51 Mustang sehingga banyak korban yang meninggal.

Dengan segera anggota Pangkalan Udara Panasan berpindah tempat ke Desa Tugu kurang lebih 4 km dari Kampung Bekonang. Kemudian mereka memberi nama pasukannya dengan nama Garuda Mulya.

Setelah mendapatkan kekuasaan atas suatu daerah, maka mereka segera mengatur siasat perang gerilya yang mana pasukan dibagi atas beberapa regu dengan ditempatkan di kampung-kampung sepanjang jalan raya antara Solo – Tawangmangu dengan tugas untuk mengadakan penghadangan-penghadangan terhadap setiap gerakan tentara Belanda.

Disamping pasukan yang menetap, dibentuk pula pasukan mobile dengan tugas mengadakan serangan-serangan terhadap pos-pos musuh yang ditempatkan antara Solo – Tawangmangu.

Operasi yang gemilang yang dicapai oleh pak Wiriadinata dalam memimpin pasukannya. Berkenaan dengan peristiwa gugurnya yang dipimpin oleh Pak Soenardjo karena suatu pertempuran di daerah Karangpandan, maka Pak Wiriadinata diangkat menjadi Komandan Rayon yang daerahnya semakin meluas termasuk Kecamatan Matesih.

Kegiatan pasukan Garuda Mulya ini lebih diintensifkan.    Pasukan mobile ditugaskan untuk mengadakan kontak dengan semua pasukan-pasukan tetangga serta mengadakan serangan-serangan terhadap pos-pos musuh dan markas-markas musuh sampai ke Jatisrono dan sekitarnya.

Disamping pasukan Mobile hampir setiap satu minggu satu kali semua regu yang menetap pada Sektor Pertahanannya masing-masing dikerahkan untuk mengadakan serangan ke Karang Pandan dan Tawangmangu.

Dengan makin gemilangnya hasil-hasil yang telah dicapai, maka kemudian Pak Wiriadinata diangkat menjadi Komandan Pasukan Panembahan Senopati 105, yang disingkat PPS 105.

Berbekal pengalaman di medan operasi gerilya, pada tahun 1952 Pak Wiriadinata menjadi tokoh utama dalam pembentukan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang kemudian dikenal Pasukan Gerak Tjepat (PGT).  Atas jasanya membentuk  Pasukan Payung TNI AU tersebut, Pak Wiriadinata dikukuhkan sebagai “Bapak Pasukan TNI AU”.

(dari tni-au.mil.id dan berbagai sumber lainnya)

Posted in Uncategorized | Leave a comment