Rd. Atje Wiriadinata

R.A. Wiriadinata” sebuah nama legendaris yang tak asing lagi bagi prajurit TNI terutama warga korps baret jingga karena beliau panglima pertama korps baret jingga yang saat itu bernama Komando Pasukan Gerat Tjepat (Kopasgat).

R.A. Wiriadinata putra kelahiran Sumedang mengawali karir di AURI sejak tahun 1940 setelah lulus dari pendidikan di Vliegtuigmakerschool Militaire Luchtvaart Andir Bandung.

Awal karier dimulai di pangkalan udara Andir Bandung sebagai teknisi pesawat terbang lalu pindah tugas di pangkalan udara Maospati Madiun.

Kemudian Marsekal Muda TNI (Anumerta) Rd. Atje Wiriadinata (lahir di Situreja, Sumedang, Jawa Barat, 15 Agustus 1920) berkarier militer di Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI dengan pangkat OMO (Opsir Muda Oedara) II.

Dankorpaskhas_RHA_WiriadinataDi pangkalan udara Maospati inilah R.A. Wiriadinata dan pasukannya yang terdiri atas anggota pangkalan dan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) berusaha mempertahankan pangkalan udara dari serangan tentara Belanda saat terjadi agresi militer.

Sejarah membuktikan, sejalan dengan bergulirnya perjalanan waktu, sosok R.A. Wiriadinata bak logam mulia tertimpa cahaya terus berkilau memancarkan sinar terang seiring dengan kiprahnya dalam berbagai pengabdian kepada AURI, TNI, bangsa dan negara.

Saat perang kemerdekaan melawan Belanda pasukan ini begitu disegani karena hanya mereka satu-satunya yang memiliki senjata 12,7 mm.

Karena kehebatannya, Wiriadinata kemudian diangkat menjadi Komandan Pertempuran Panembahan Senopati 105 (PPS-105) yang kemudian terkenal dengan nama Pasukan Garuda Mulya yang beroperasi di sekitar daerah Yogyakarta dan Surakarta (Solo).

Pasukan Garuda Mulya terkenal gigih dalam melawan agresi militer yang dilancarkan Belanda tahun 1947 dan 1948.

Pada tahun 1950-an, Wiriadinata yang saat itu berpangkat Kapten (U) mengikuti Sekolah Para Dasar Angkatan II di Lanud Andir, Bandung. Wiriadinata kemudian diangkat menjadi komandan PGT pertama pada tahun1952 sekaligus merangkap sebagai Komandan Lanud Andir.

Ia juga pernah menjadi Panglima Gabungan Pendidikan Paratroops (KOGABDIK PARA) di Lanud Margahayu, Bandung. Wiriadinata terlibat langsung dalam penumpasan berbagai gerakan separatis di Indonesia seperti DI/TII di Jawa Barat dan Sul-Sel, RMS di Maluku dan PRRI/PERMESTA di Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi Utara, pembebasan Irian Barat dan operasi-operasi militer lainnya.

Saat operasi 17 Agustus di Padang tahun 1958, Wiriadinata yang saat itu berpangkat Letkol (U) dipercaya menjadi wakil komandan operasi bersama Letkol (L) John Lie sedangkan pimpinan operasi dipegang oleh Kolonel Inf Ahmad Yani.

Berdasarkan Surat keputusan Men/Pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor (U) RA. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun.

Setelah itu Wiriadinata diberi jabatan sebagai Irjen Mabes AURI dengan pangkat Marsekal Muda (U) hingga tahun 1967. Pada tahun 1967, Presiden Soekarno menunjuk Wiriadinata sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Letjen (KKO) Ali Sadikin.

Duet ini kemudian memimpin Jakarta selama dua periode hingga 1977 yang dikenal sebagai “periode emas” DKI Jakarta. Setelah itu Presiden RI kedua Soeharto mengangkat Wiriadinata sebagai Wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1978-1983.

KORPASKHASAU

Sejak tahun 1950, Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dan mendapat sebutan Air Base Defence Troop (ABDT). Pasukan membawahi 8 kompi dan dipimpin oleh Kapten (U) RHA Wiriadinata dengan wakilnya Letnan I (U) R Soeprantijo.

Pada tahun 1950 juga diadakan Sekolah Terjun Payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit, dalam rangka pembentukan Pasukan Para AURI. Sekolah Para ini dibuka di Pangkalan Udara Andir Bandung

Komodor (U) RHA Wiriadinata adalah komandan PGT pertama (1952) yang banyak membawa perkembangan terhadap pasukan payung di Indonesia, terutama dalam tubuh AURI. Konsep PGT sejak awal mulanya memang tertuju pada kemampuan para dan komando.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor (U) RHA Wiriadinata.

KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung.

Ketika terjadi beberapa pemberontakan di bumi Pertiwi ini, PPP ditugaskan pula untuk menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Jawa Barat. Personil PPP melakukan pengejaran di wilayah Tangkuban Perahu, Pegunungan Galunggung, Pegunungan Guntur dan Pegunungan Tampomas.

Selain itu PPP juga ikut melaksanakan penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan dengan melakukan operasi yang dipimpin langsung oleh Letkol (U) RHA Wiriadinata. Saat penumpasan RMS tahun 1952, PPP mengerahkan 1 kompi pasukannya di Kendari dan Pulau Buru, Maluku.

Pada peristiwa PRRI di Sumatera, dua kompi PGT pimpinan LU I Sugiri Sukani dan LU I Rachman bersama 1 kompi RPKAD melakukan penerjunan untuk pertama kali pada 12 Maret 1958 saat Operasi Tegas di Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru.

Empat hari berselang pada operasi Sapta Marga 16 Maret 1958, pasukan yang sama dari PGT bersama RPKAD kembali melakukan penerjunan di Medan.

Ketika operasi 17 Agustus di Sumatera Barat, PGT mendapat tugas untuk merebut Lanud Tabing di Padang. Untuk mengawali operasi ini, delapan personel PGT dipimpin Letkol (U) RHA Wiriadinata ditugaskan melakukan operasi khusus. Tim kecil PGT ini mendapat tugas menentukan titik penerjunan yang paling aman bagi pasukan TNI.

Pendaratan open sea ini, terbilang berbahaya. Ombak besar menyulitkan pendaratan. Akibatnya, saat regu PGT mendarat dengan motor-tempel kecil di pantai, perahunya pecah. Sampai di pantai, mereka bergerak cepat, menyusup, menentukan koordinat, dan membuat kode-kode rahasia pada DZ. Tentu tidak gampang menentukan lokasi DZ, mengingat pasukan PRRI tersebar di mana-mana.

Pada 17 April 1958 tepat pukul 06.40 satu batalyon PGT dan satu kompi RPKAD diterjunkan dan langsung mendapat perlawanan dari pasukan PRRI, akibatnya satu personel PGT gugur. Selain itu Lanud Tabing juga sudah dipenuhi oleh ranjau paku dan bambu-bambu runcing yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Diabadikan menjadi nama Lanud

Sebagai penghormatan kepada Marsda TNI RHA Wiriadinata, pada tahun 2001 TNI Angkatan Udara melakukan penggantian nama atas Lanud Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi Lanud Wiriadinata.

Garuda Mulya

Pada 19 Desember 1948, ketika Belanda melancarkan agresinya yang ke-2, dengan menyerang Pangkalan Udara Maguwo  dan diikuti  dengan  pendaratan  tentara  payungnya, Pangkalan Udara Panasan juga didatangi oleh empat pesawat P-51 Mustang Belanda pada kira-kira pukul 06.30.

Mengetahui hal ini, anggota Pangkalan Udara Panasan pimpinan Bapak R.A. Wiriadinata menyerang lebih dahulu dengan senapan-senapan mesin yang jumlahnya 8 pucuk kaliber 12,7 mm.   Melihat peluru api berhamburan di udara, pesawat Belanda tidak membalas.

Hal ini mungkin karena tidak nampak adanya pesawat- pesawat AURI yang parkir di landasan, karena 3 buah pesawat AURI yang ada telah dihancurkan pada waktu Agresi Militer Belanda I.

Pada kenyataannya landasan Pangkalan Udara Panasan hanya dipenuhi dengan batu-batu dan bambu runcing yang telah dipasang oleh pasukan kita.

Pesawat-pesawat  P-51 Mustang Belanda hanya melaksanakan pengintaian dan penyebaran pamflet yang berisikan pengumuman bahwa pembesar-pembesar  RI telah ditawan, pemerintahan negara dipegang oleh Belanda dan seluruh rakyat diminta tenang.

Namun setelah itu pesawat terbang ke arah Delanggu, disana  mereka menyerang pabrik gula Delanggu dengan senapan mesin dan bom.

Mendengar keadaan yang demikian Komandan Pangkalan Udara Panasan Opsir Muda Udara I Wiriadinata mengeluarkan perintah agar:

  1. Markas AURI dipindahkan ke Bekonang.
  2. Pangkalan dan bangunan-bangunan AURI dihancurkan.

Dengan adanya perintah tersebut anggota Pangkalan Udara Panasan mengadakan aksi bumi hangus atas obyek-obyek vital yang ada di dalam pangkalan termasuk pengrusakan landasan.

Dengan menggunakan bom-bom pesawat terbang yang beratnya antara 25-100 kg yang sudah diubah detonatornya, Pangkalan Udara Panasan pada tanggal 21 Desember 1948, terpaksa dibumihanguskan.

Dalam waktu singkat, rumah-rumah sudah rata dengan tanah.   Dalam pelaksanaan pembumihangusan Pangkalan Udara Panasan jatuh korban atas nama Kopral Udara Semi dan Kopral Udara Sarsono, karena ingin memperbaiki detonator bom yang macet.   Tetapi malang nasibnya ketika ia menyentuh detonator, bom itu meledak sehingga menghancurkan tubuhnya.

Sore hari anggota Pangkalan Udara Panasan dan keluarga mengungsi dengan tujuan Madiun untuk menggabungkan diri dengan pasukan dari Maospati yang dipimpin oleh Bapak Soeprantijo.

Tetapi sesampainya di Polokerto (Bekonang) ditahan oleh Gubernur Militer II Rayon I Polokarto dibawah pimpinan Suhendro dan diberikan daerah pertahanan di Kecamatan Jumantoro.

Belanda mengetahui dari mata-mata bahwa Kampung Bekonang dan telah menjadi merupakan konsentrasi dari pasukan gerilya. Maka pada pukul 18.30  diserang oleh 2 pesawat P-51 Mustang sehingga banyak korban yang meninggal.

Dengan segera anggota Pangkalan Udara Panasan berpindah tempat ke Desa Tugu kurang lebih 4 km dari Kampung Bekonang. Kemudian mereka memberi nama pasukannya dengan nama Garuda Mulya.

Setelah mendapatkan kekuasaan atas suatu daerah, maka mereka segera mengatur siasat perang gerilya yang mana pasukan dibagi atas beberapa regu dengan ditempatkan di kampung-kampung sepanjang jalan raya antara Solo – Tawangmangu dengan tugas untuk mengadakan penghadangan-penghadangan terhadap setiap gerakan tentara Belanda.

Disamping pasukan yang menetap, dibentuk pula pasukan mobile dengan tugas mengadakan serangan-serangan terhadap pos-pos musuh yang ditempatkan antara Solo – Tawangmangu.

Operasi yang gemilang yang dicapai oleh pak Wiriadinata dalam memimpin pasukannya. Berkenaan dengan peristiwa gugurnya yang dipimpin oleh Pak Soenardjo karena suatu pertempuran di daerah Karangpandan, maka Pak Wiriadinata diangkat menjadi Komandan Rayon yang daerahnya semakin meluas termasuk Kecamatan Matesih.

Kegiatan pasukan Garuda Mulya ini lebih diintensifkan.    Pasukan mobile ditugaskan untuk mengadakan kontak dengan semua pasukan-pasukan tetangga serta mengadakan serangan-serangan terhadap pos-pos musuh dan markas-markas musuh sampai ke Jatisrono dan sekitarnya.

Disamping pasukan Mobile hampir setiap satu minggu satu kali semua regu yang menetap pada Sektor Pertahanannya masing-masing dikerahkan untuk mengadakan serangan ke Karang Pandan dan Tawangmangu.

Dengan makin gemilangnya hasil-hasil yang telah dicapai, maka kemudian Pak Wiriadinata diangkat menjadi Komandan Pasukan Panembahan Senopati 105, yang disingkat PPS 105.

Berbekal pengalaman di medan operasi gerilya, pada tahun 1952 Pak Wiriadinata menjadi tokoh utama dalam pembentukan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang kemudian dikenal Pasukan Gerak Tjepat (PGT).  Atas jasanya membentuk  Pasukan Payung TNI AU tersebut, Pak Wiriadinata dikukuhkan sebagai “Bapak Pasukan TNI AU”.

(dari tni-au.mil.id dan berbagai sumber lainnya)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kapten Kapal Pelni Wanita Pertama Di Indonesia Capt. Entin Kartini

Tak mudah mengubah pandangan orang terhadap perempuan yang meniti karier di bidang yang biasanya sangat “lelaki”. Anggapan miring pun bisa muncul, mulai dari melabrak kodrat, mengancam kelanggengan keluarga, dan berbulan-bulan bergelut dengan awak kapal yang hampir bahkan semuanya adalah kaum Adam. Kalau meminjam istilah pelayaran, lelaki selalu di haluan, perempuan cenderung di buritan.

Namun Entin Kartini memecah mitos itu. Perempuan juga bisa di haluan: maju meninggalkan buritan. Kendati tak menampik anggapan umum masyarakat, ibu tiga orang anak yang sudah menjadi nakhoda puluhan tahun itu tak terlalu mempersoalkannya.

Suaminya bilang, sayang kalau pendidikan tidak dituntaskan. Yang paling mengerti niatnya meneruskan cita-cita hanya keluarga. Toh kini Entin bisa berbahagia bersama keluarga, tapi juga bisa mewujudkan impiannya. Jejaknya berawal ketika lulus Akademi Ilmu Pelayaran (AIP)—yang kini dikenal sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran(STIP) — pada 1970.

Kerja sebagai nakhoda pun dimulai. Meski sempat terhambat, karena menikah dan kemudian mengandung, itu tak membuatnya berhenti berharap. Pekerjaan yang ditekuninya tak hanya harus menguasai teori tetapi juga mahir berpraktek, tak lain di lautan. Selesai pendidikan tidak langsung diakui sebagai nakhoda. Itu baru fase lulus tahap MPB (Mualim Pelayaran Besar) IV. Supaya afdol, ditambah dua tahun berlayar untuk mendapatkan sertifikat MPB II. Nah, baru dibilang seorang nakhoda jika sudah melewati dua tahun pelayaran untuk memperoleh MPB I atau setingkat strata 2.

Dia bersyukur. Selain dia, ada seorang perempuan lagi yang berhasil lulus seangkatan. Tapi yang meneruskan karier sebagai pelaut hanya Entin. Rekannya kemudian beralih profesi di sebuah perusahaan minyak nasional.

kapal Pelni

Setelah angkatan Entin, Akademi Maritim Indonesia (AMI) Jakarta yang kini beralih nama menjadi Sekolah Tinggi Maritim Indonesia (STMI) itu sempat tak menerima taruna perempuan untuk jurusan nautika yang diarahkan sebagai nakhoda. Akhirnya, hanya Entin seorang alumni wanita tangguh yang menjalani pengalaman di dunia pelayaran.

Bukan kebanggaan besar jika setiap pelayar pernah Mandi Khatulistiwa, kala menyeberangi wilayah garis khatulistiwa lintang nol derajat yang diambil dari tradisi Yunani itu, seraya menumbuhkan semangat bahari. Bukan pula karena ibu Entin harus menyadari betapa sulitnya rintangan dan risiko yang mesti dihadapi di laut.

Keunggulan Entin ada pada niatnya. Setelah lulus AIP, di kapal Tampomas, dia menjadi mualim tiga termuda. Lebih khusus lagi: mualim perempuan termuda. Mulai dari kapal barang kecil, beralih ke kapal barang besar, hingga akhirnya diperkenankan membawa kapal besar. “Nggak ujuk-ujuk bisa…” katanya dengan logat Sunda yang kental.

Tak hanya mampu membuang sauh di kepulauan Nusantara, Entin juga pernah dipercayakan membawa kapal penumpang kesepuluh yang dipesan pemerintah Indonesia dari galangan kapal L Meyer, Papenburg, Jerman. Itu peluang emas.

Ceritanya sekitar 1989, dia diposisikan di bagian personalis PT Pelni. Sesekali jika ada nakhoda berhalangan, Entin yang menggantikan. Saat bertemu Habibie, Menristek saat itu, dia ditanya, “Kamu masih bisa bawa kapal, siap bawa kapal kesepuluh dari Jerman?” Entin mengiyakan. Kapal yang dimaksud ialah KM Awu, kapal bertipe penumpang.

Meski KM Awu bukan satu-satunya pesanan Indonesia dari Jerman, tapi itu bersejarah bagi Entin sebagai mualimnya. Bahkan sebelum KM Awu selesai dirakit, dia sudah melepaskan jangkar kapal selama enam bulan. Saat Habibie menawarinya dan Azwar Anas selaku Menhub saat itu mengizinkannya, Entin menghargainya sebagai “tugas khusus” bukan “pengganti”.

Dikepung Lelaki

Menjadi nakhoda mulanya bukan cita-cita Entin. Saat masuk AIP yang dikepung oleh dominasi lelaki, Entin punya sebuah alasan: mencari pekerjaan ikatan dinas yang tak komersil. Kemampuan keluarga yang tak memungkinkan memupuskan harapannya menjadi seorang dokter. Hatinya semakin kepincut dengan API saat dia membaca majalah Aneka Amerika.

Ada foto-foto taruna AIP yang gagah-gagah, katanya dalam hati. saat masuk pada 1966, Entin adalah salah seorang dari sembilan perempuan yang masuk akademi tersebut. Sembilan dari 144 taruna, mereka benar-benar istimewa sebagai calon pelayar. Bahkan untuk bidang studi nautika, angkatannya menjadi angkatan pertama yang menerima taruna perempuan.

Menuntut ilmu di lingkungan lelaki memang tak mudah. Latihan fisik dan mental sudah jadi kebiasaan. Hukuman tak segan-segan dialamatkan kepada yang salah dan lalai. Juga kepada perempuan. Entin bercerita kalau dulu harus benar-benar prima menjaga kesehatan.

“Masak jadi nakhoda mau masuk angin terus? Namanya pendidikan nakhoda beda sama kuliah ekonomi, yang orangnya halus-halus,” katanya. Setelah generasi Entin, sekarang sudah banyak nakhoda perempuan. Dan kebanyakan dari mereka berumah tangga dengan baik. Ini yang sering ditekankan Entin. Tapi itu tak berarti menafikan kemungkinan godaan.

Bagi Entin, cantik sendiri di kapal di tengah samudera bisa jadi kebanggan sekaligus kejatuhan. Dalam pengalamannya para awak pria banyak yang merayu dan memanjakan. Tapi Entin kerap berlaku profesional, selagi tidak mudah dipermainkan, mereka pun tak jadi berbuat macam-macam.

Karena sikap profesional itu pula yang membuat kru kapal menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan.

 

Ibu Tak Dikenal

Setelah melewati tahap-tahap pelayaran yang diharuskan dan mendapat ijazah mualim paling tinggi, cukuplah baginya. Mengingat anak-anaknya menunggu di rumah, kegiatan pelayaran ditinggalkan sampai usia anak pertamanya delapan tahun.

Berlayar beberapa lama berarti tak hanya meninggalkan suami, tetapi juga putera-puteri tercinta. Dalam penggalan hidupnya sebagai pelayar, terkadang ketika berlayar hingga berbulan-bulan si buah hati tak lagi mengenal ibunya.

Jumlah kapal yang pernah dibawanya sebanyak delapan buah. Awak terbanyak yang pernah dipimpinnya sebanyak delapan puluh orang.

Babak kehidupan yang paling seru baginya tentu saja saat bergelut sebagai nakhoda. Ya, nakhoda perempuan pertama. Tak mudah meraihnya lagi. Turun ke laut lepas, hingga berbulan-bulan. Tak ada yang bisa menjamin semuanya akan aman dan selamat. Lautan luas bisa saja menjadi ganas.

Apalagi saat badai mengusik samudera, nakhoda harus siap siaga. Jika memang keadaan tak memungkinkan, bukan tak mungkin kapal akan kembali berbalik arah, jika fenomena alam itu terlalu kuat untuk dilawan.

(disadur dari tulisan Masyarakat Pelaut Indonesia)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Oto Iskandardinata (Tokoh Pergerakan Nasional dan Paguyuban Pasundan)

Oleh : Linda Sunarti

“Seperti orang beriman percaya akan adanya Allah, begitulah juga saya percaya akan datangnya kemerdekaan bagi semua negara terjajah, juga bagi Indonesia. Dengan  sendirinya jika kebebasan itu dicapai Indonesia dengan kekerasan maka perpisahan antara negeri Belanda dan Indonesia akan seperti musuh. Perusahaan-perusahaan dan hak milik orang Belanda di sini akan dirampas. Perdagangan Belanda akan dilarang atau dipersulit. Memperoleh kemerdekaan dengan atau tanpa kekerasan seperti dikatakan, akan tidak sedikit bergantung kepada negara Belanda sendiri. Akan tetapi, saya percaya Tuan Ketua, bahwa bangsa Tuan  yang dikenal sebagai bangsa tenang berpikir akan tahu memilih antara dua kemungkinan ini mengundurkan diri atau diusir”.

Salah satu Pidato Oto Iskandardinata di Volksraad, yang membuktikan keberaniannya yang suka berbicara terus terang dan apa adanya.

Oto Iskandardinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, kecamatan Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung. Oto adalah putra seorang bangsawan Sunda bernama Nataatmadja, dalam keluarga tersebut Oto merupakan anak ketiga dari sembilan  orang saudara.

Pada jamannya ayah Oto adalah seorang yang berpikiran maju, terbukti dengan sadar telah menyekolahkan anak-anaknya. Oto sendiri memasuki Holland Inlandsche School (HIS), setingkat SD sekarang, di Bandung.

Kepribadian Oto sejak kecil menunjukkan karakteristik sebagai anak yang nakal tetapi jujur dan berterusterang. Berani menyatakan secara spontan mana yang benar dan mana yang salah. Olah raga adalah hobinya, salah satunya sepakbola. Bahkan hobi sepakbola ditekuninya sampai dewasa, hal itu dibuktikannya dengan menjadi ketua umum Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (Persib).

Selesai menamatkan HIS, Oto melanjutkan ke Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) di Bandung. Sekolah ini biasa disebut sebagai Sakola Raja (Sekolah Raja) karena didirikan bertalian dengan lahirnya Ratu Wihelmina. Setiap murid Sekolah Guru diharuskan masuk asrama untuk memudahkan pengawasan dari guru-gurnya.

Dalam asrama tersebut  Oto Iskandardinata dianggap sebagai anak yang nakal, sehingga ia sering mendapat hukuman dari pimpinan asrama bahkan seringkali dilarang ke luar kamar. Hal ini dapat dimengerti karena pimpinan asrama dan guru-guru Oto pada saat itu menginginkan anak-anak Indonesia yang patuh, menurut kepada perintah dan keinginan mereka, maka sikap Oto sebagai anak yang mempunyai inisiatif dan kreatif dianggap sebagai anak yang nakal.

Setelah menyelesaikan Kweekscholl Onderbouw, Oto kemudian melanjutkan sekolahnya di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Di sekolah inilah Oto tumbuh sebagai seorang anak dewasa yang mulai gemar membaca.

Bacaannya adalah  buku dan surat kabar yang berbau politik. Surat kabar De Express yang dipimpin Dr. Dewes Dekker (Dr. Setiabudi)  yang isinya seringkali mengecam pemerintah Hindia Belanda adalah suratkabar kesukaan Oto. Semua murid Sekolah Guru Atas sebenarnya dilarang membaca surat kabar tersebut, akan tetapi Oto sering menyembunyikan surat kabar tersebut di bawah bantalnya, dan membacanya secara sembunyi-sembunyi.

Dari kegemarannya membaca mengakibatkan jiwa Oto tumbuh menjadi lebih matang dan mulai tertarik pada masalah kemasyarakatan, kebangsaan dan  perjuangan bangsa.

Setelah menyelesaikan sekolahnya Oto kemudian menjadi guru HIS di Banjarnegara dan menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, karena ia sadar bahwa dengan pendidikanlah bangsanya dapat menjadi bangsa yang berilmu dan mengerti tugas serta tanggungjawab terhadap tanah air.

Pada bulan Juli 1920 Oto kemudian  dipindahkan ke Bandung. Di Bandung Oto mengajar di HIS bersubsidi  dan perkumpulan Perguruan Rakyat. Di Bandung pula Oto mulai aktif dalam pergerakkan politik. Kariernya dalam bidang politik  dimulai dengan menjabat wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung.

Pada Agustus 1924  Oto dipindahkan ke Pekalongan Jawa Tengah, di tempat ini pun Oto tetap berkarier dalam bidang politik. Oto menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang  Pekalongan  merangkap sebagai Komisaris Hoofdbestuur Budi Utomo.

Berdirinya Paguyuban Pasundan  merupakan suatu manifestasi dari kelahiran kembali pribadi pemuda-pemuda Sunda dan orang-orang Sunda pada umumnya. Tujuan semula organisasi ini untuk memajukan kehidupan orang-orang Sunda khususnya dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.

Oto masuk menjadi anggota Paguyuban Pasundan cabang Jakarta dan langsung menjadi Sekretaris Pengurus Besar organisasi tersebut pada tahun  1928, hal itu terjadi ketika Oto pindah ke Jakarta dan menjadi guru HIS Muhammadiyah.

Pada Desember 1929 dalam suatu pemilihan pengurus pusat Paguyuban Pasundan di Bandung Oto terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan. Jabatan tersebut dipegangnya sampai tahun 1945.

Pada masa kepemimpinan Oto, Paguyuban Pasundan mengalami kemajuan pesat di bidang politik, ekonomi, sosial, pers, dan  pendidikan. Bermula dari gerakan kebudayaan, Paguyuban Pasundan kemudian  menyelami juga pergerakan politik.

Paguyuban Pasundan  berdiri di atas dasar keyakinan bahwa bangsa Indonesia pasti merdeka. Paguyuban Pasundan  menitikberatkan perjuangannya di Volksraad (Dewan Rakyat). Pada tahun 1921-1924 Oto tercatat sebagai salah satu anggota  Volksraad yang vokal.

Atas dasar keyakinan politik Oto, pada akhir tahun 1939 Paguyuban Pasundan masuk dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Dalam kongresnya yang ke-25, Paguyuban Pasundan menyatakan mengakui  bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu kebangsaan Indonesia, meminta kepada pemerintah mengadakan upah minimum, mendirikan komisi istimewa untuk menyelidiki kehidupan di tanah partikelir, dan menyokong aksi Indonesia Berparlemen.

            Di bidang pendidikkan, Paguyugan Pasundan sadar untuk memajukan rakyat Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya melalui pendidikan. Oleh karena sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial sangat sedikit, maka Paguyuban Pasundan kemudian membentuk sebuah badan Bale Pamulangan Pasundan.

Tugas badan ini khusus untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang pendidikkan dan pengajaran. Dalam masa kepengurusan Oto di seluruh Jawa Barat terdapat kurang lebih 48 sekolah yang telah didirikan Paguyuban Pasundan.

            Di bidang ekonomi, Paguyuban Pasundan mendirikan Bale Ekonomi Pasundan (BEP). Badan ini bertugas menyelenggarakan dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan ekonomi rakyat. Tujuannya memperkuat kehidupan orang Sunda dan orang Indonesia  pada umumnya. BEP mendirikan  bank-bank kecil atas dasar kerakyatan, mendirikan koperasi petani, dan perkumpulan-perkumpulan koperasi dagang.

            Di bidang sosial, Paguyuban Pasundan mendirikan Centrale Advies Bureau. Badan ini bertugas memberi penerangan dan petunjuk mengenai hukum kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan tanpa meng-harapkan adanya imbalan.

            Dalam bidang Penerangan Umum, Paguyuban Pasundan menerbitkan surat kabar berbahasa Sunda yaitu Sipatahunan dan surat kabar berbahasa Melayu yaitu Sepakat. Sampai pertengahan tahun 1980-an surat kabar Sipatahunan tetap terbit.

            Sejak 15 Juni 1931, Oto menjadi anggota Volksraad sebagai wakil dari Paguyuban Pasundan. Jabatan ini  dipegangnya sampai tahun 1942, tahun ketika Jepang mulai berkuasa di Indoenesia. Oto menjadi anggota Volksraad secara berturut-turut dalam tiga periode, yaitu periode kelima (1931-1934), periode keenam (1935-1938) dan periode ketujuh  (1938-1942).

Sebagai anggota Volksraad Oto bergabung dengan Fraksi Nasional yang didirikan atas gagasan Husni Thamrin.  Suara Fraksi Nasional dalam Volksraad sangat radikal. Oto yang tergabung dalam Fraksi Nasional dikenal dengan sebutan Si Jalak Harupat, yang dalam perumpamaan bahasa Sunda mengandung arti lincah dan tajam lidahnya seperti burung jalak.

Keberanian dan kejujuran selalu mewarnai ucapan-ucapan Oto. Dalam suatu kesempatan dalam suatu sidang di dalam Volksraad Oto pernah mengemukakan:

“Seperti orang beriman percaya akan adanya Allah, begitulah juga saya percaya akan datangnya kemerdekaan bagi semua negara terjajah, juga bagi Indonesia. Dengan  sendirinya jika kebebasan itu dicapai Indonesia dengan kekerasan maka perpisahan antara negeri Belanda dan Indonesia akan seperti musuh. Perusahaan-perusahaan dan hak milik orang Belanda di sini akan dirampas. Perdagangan Belanda akan dilarang atau dipersulit. Memperoleh kemerdekaan dengan atau tanpa kekerasan seperti dikatakan, akan tidak sedikit bergantung kepada negara Belanda sendiri. Akan tetapi, saya percaya Tuan Ketua, bahwa bangsa Tuan  yang dikenal sebagai bangsa tenang berpikir akan tahu memilih antara dua kemungkinan ini mengundurkan diri atau diusir”.

Menurut Oto hasrat untuk menjadi bebas itu sudah menjadi sifat dasar manusia.  Oleh karena itu, bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah selalu berjuang untuk mencapai kemerdekaannya. Dalam suatu sidang Volksraad lainnya Oto menyatakan:

“Saya kira, Tuan Ketua tak usah diberi petunjuk lagi tentang keadaan alam yang penuh dengan contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa hasrat untuk bebas itu sudah menjadi sifat. Cobalah lihat, hewan biarpun diikat atau dikurung, tetapi mereka tetap mencoba akan melepaskan diri. Sejarah tiap negara cukup memberi pelajaran bahwa setiap bangsa yang dijajah mengorbankan segala sesuatu untuk meningkatkan derajat bangsa dan tanah airnya yang dalam keadaan dihina”.

Oleh karena keberaniannya dalam sidang-sidang Volksraad, Oto dikenal pula dengan julukkan seorang non koperator di tengah-tengah koperator. Artinya, bergabung dengan Volksraad adalah suatu tindakan yang dianggap sebagai koperator pada saat itu.

Akan tetapi,  pidato-pidato yang diucapkan Oto di dalam Volksraad ternyata lebih mencerminkan sikap seorang non-koperator terhadap penjajahan. Peranan Oto, Husni Thamrin, Sukardjo Wiryoparnoto dan anggota Fraksi Nasional lainnya sangat menonjol dalam pergerakan nasional. Hal itu disebabkan pergerakkan di luar Volksraad sedang mengalami tekanan hebat dari Pemerintah Hindia Belanda.

Cita-cita kemerdekaan Indonesia semakin menjadi-menjadi bagi Oto dan anggota Paguyuban Pasundan, hal itu terlihat dalam tanggapan Oto untuk bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan Partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)  pada  1927.

Bergabungnya Oto beserta organisasi Paguyuban Pasundan  dikarenakan cita-cita PPKI sejalan dengan kehendak Oto yaitu mencapai Indonesia Merdeka. Dalam hal ini Oto mengatakan bahwa demi persatuan bangsa yang akan menghadapi kemerdekaan seperti Indonesia, pihak yang berpendirian federalisme sekalipun sebagian besar akan meninggalkan fahamnya, bersatu dengan penganut unitarisme untuk memperoleh kemerdekaan di bawah naungan Negara Persatuan.

Ketika Jepang  menduduki Indonesia, semua partai politik dilarang. Hal itu tidak terkecuali bagi Paguyuban Pasundan beserta anak-anak organisasinya. Sehubungan dengan hal itu untuk menyelamatkan kekayaan Paguyuban Pasundan, Oto Iskandardinata kemudian mendirikan suatu Badan Usaha Pasundan yang diketuai oleh Sanusi Hardjadinata.

Pada masa Jepang berkuasa kaum pergerakkan pada umumnya melanjutkan perjuangannya dalam bentuk lain, yaitu menempuh jalan bekerjasama dengan pihak Jepang dengan harapan  akan menyelamatkan dan melanjutkan perjuangan mereka. Di pihak lain, Jepang pun merasa perlu bekerjasama dengan kaum pergerakkan karena menganggap pengaruh kaum pergerakkan sangat besar di kalangan rakyat. Jepang kemudian membentuk suatu birokrasi pemerintahan untuk memperkokoh  keduduk-kannya di Indonesia.

Beberapa tokoh bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk menduduki jabatan tinggi. Mula-mula Oto diangkat sebagai pegawai Gunsei (Pemerintah Militer). Kemudian Oto diberi tugas untuk menjadi pemimpin surat kabar Cahaya di Bandung menggantikan Sipatahunan yang dilarang terbit oleh Jepang.

Ketika Jawa Hokokai  (Perhimpunan Kebaktian Jawa) dibentuk, Oto ikut menjadi anggota organisasi ini. Jawa Hokokai dibentuk untuk menggantikan kedudukan Poetera yang tidak mendapat dukungan masyarakat. Jawa Hokokai dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah.

Pimpinan tertinggi langsung di bawah Kepala Pemerintahan Militer. Pada 14 September 1944 dibentuk Barisan Pelopor  (Suisyintai) yang merupakan anak cabang Jawa Hokokai atau Jawa Hokokai Bagian Pemuda.

Pengurus  Barisan Pelopor  antara lain terdiri dari Ir Sukarno sebagai ketua, R.P. Suroso, R. Oto Iskandardinata, dan  Dr. Buntaran  Martoatmojo sebagai wakilnya. Organisasi ini sebenarnya merupakan pembinaan kader dan masa aksi. Tugas ketua dan wakil ketua Barisan Pelopor adalah memberikan ceramah-ceramah  politik.

Sebelum Barisan  Pelopor  dibentuk,  Jepang juga telah memberikan latihan militer pada pemuda-pemuda Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan Indonesia. Antara lain memberikan kesempatan pada pemuda Indonesia untuk menjadi Heiho (pembantu prajurit). Pada 3 Oktober 1943 dibentuk PETA (Pembela Tanah Air).  Oto, bersama Gatot Mangkupraja, Iyos Diding, dan Ibnu Hasyim membentuk pasukan PETA Jawa Barat dengan tempat latihan di Bogor.

Dalam hal pendirian PETA di Jawa Barat, Oto memiliki pandangan politik jauh ke depan. Ia sadar bahwa Indonesia memerlukan pemuda yang kuat dan terlatih secara fisik. Untuk itu, Oto menganjurkan anaknya yang pertama yaitu Sentot, untuk ikut dalam pendidikan PETA tersebut.  Sentot sendiri sebenarnya tidak tidak berminat untuk menjadi tentara dan berniat untuk masuk Sekolah Tinggi Tekhnik Bandung.

Akan tetapi, Oto selalu menegaskan kepada puteranya bahwa negara nomor satu baru keluarga hingga Sentot akhirnya masuk PETA. Sentot sendiri akhirnya menyadari bahwa cita-cita luhur ayahnya jauh menjangkau ke depan. Kemerdekaan tidak akan didapat tanpa pengorbanan pemuda yang penuh kemauan dan kemampuan yang harus dapat mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Jepang semakin terjepit, Perdana Menteri Koiso mengumumkan pendirian pemerintah Jepang bahwa Indonesia dijanjikan kemerdekaan di kemudian hari. Pemerintahan Jepang di Indonesia kemudian membentuk Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Jumbi Cosakai).

Tugas badan tersebut  mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang penting yang berhubungan dengan segi-segi politik, ekonomi, tata pemerintahan dan lain-lain yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka. Oto Iskandardinata adalah anggota dari Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan ini.

Pada 7 Agustus 1945 Jepang mengumumkan  dibentuknya  Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Oto pun  tergabung dalam badan ini. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang pertama. Pada sidang tersebut diputuskan beberapa hal penting menyangkut landasan  politik bagi Indonesia yang merdeka dan ketatanegaraan.

Sumbangan Oto dalam sidang PPKI tersebut adalah  usulnya tentang pemilihan Presiden dan wakilnya, usul tersebut disetujui secara bulat oleh  peserta sidang. Oto kemudian ditunjuk menjadi ketua panitia kecil untuk membuat  rancangan tentang urusan  rakyat, pemerintah daerah, kepolisian dan ketentaraan.

Pada jaman kemerdekaan Oto Iskandardinata merupakan orang pertama yang menjabat sebagai Menteri  Urusan Keamanan. Pada saat Oto menjabat Menteri Urusan Keamanan, timbul masalah  yaitu bekas Daidanco dan Codanco yang bertekad  mempertahankan kemerdekaan kekurangan senjata.

Kemudian muncul   badan-badan perjuangan  seperti  Hisbullah dan Sabillilah, Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia, dan Pemuda Republik Indonesia yang juga menuntut diberikan senjata.

Menanggapi hal tersebut, Oto kemudian mengadakan pembicaraan dengan pihak Jepang. Kedudukan Jepang pada saat itu dalam posisi sulit, apabila menyerahkan senjata maka pihak Jepang akan disalahkan sekutu. Sedangkan pada pihak lain Jepang melihat bahwa tuntutan rakyat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan juga mengancam Jepang.

Pihak Indonesia tidak sanggup memaksa Jepang  untuk menyerahkan senjatanya secara damai.  Hasil pembicaraan pemerintah dan pihak Jepang  tidak memuaskan kalangan pemuda. Mereka menuduh para pemimpin Indonesia  yang terlibat dalam pembicaraan dengan pihak Jepang sebagai penyebab terjadinya  penculikkan terhadap beberapa pemimpin pemerintahan.

Oto Iskandardinata pun  menjadi korban penculikan itu. Oto hilang penuh misteri  pada Oktober 1945 dan baru pada Desember 1945 terdengar berita bahwa dia telah dibunuh di pantai Mauk, Banten Selatan. Jenazah Oto tidak berhasil diketemukan sampai sekarang, demikian pula penyebab kematiannya masih belum dapat diungkapkan secara pasti. 

Muncul beberapa pendapat mengenai kematian Oto Iskandardinata, pertama, peristiwa yang menimpa Oto terjadi pula terhadap beberapa pemimpin pemerintahan di Jawa Barat yang dianggap berpihak pada Jepang.  Pendapat kedua, kemungkinan Oto dibunuh oleh sesorang atau golongan yang dendam karena langkah dan ucapan Oto yang tegas tanpa tedeng aling-aling.

Linda Sunarti, Dosen Departemen Sejarah

Daftar Pustaka

Notosutanto, Nugroho. Et al. 1977. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid V. Balai Pustaka.

Safwan, Mardanah. Et al. 1975.  Riwayat Hidup dan Perjuangan  R. Oto Iskandar di Nata. Lembaga Sejarah dan Antropologi.

Saleh, Iyan Tiarsah. 1975. Sekitar Lahir dan Perkembangan Pagoeyoeban Pasoendan  (1914-1942). Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Padjadjaran. Bandung

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Phinisi Nusantara

Phinisi memberikan bukti akan ketinggian ilmu kemaritiman Bugis-Makassar. Walau tidak memiliki design dalam bentuk gambar konstruksi sebagaimana layaknya para insinyur membuat perencanaan dalam memulai pekerjaan pembangunan kapal.

Tapi dengan menggunakan teknik pengukuran yang sederhana bisa diciptakan keseimbangan kiri dan kanan dari papan yang disusun dengan cara alamiah.

Phinisi sesungguhnya pernah merajai segala bentuk transportasi laut di nusantara. Pada masa kerajaan Sawerigading dan Kesultanan Gowa telah menjadikan phinisi sebagai transportasi dalam perdagangan termasuk digunakan dalam armada angkatan laut.

Suatu sejarah mungkin saja hanya tersisa dalam tulisan dan artefak yang hanya bisa dinikmati dalam bentuk informasi dan pengetahuan. Tetapi bila phinisi tentu saja berbeda karena sejarah itu masih hidup dan bergerak hingga saat ini.

Kehebatan Phinisi terbukti ketika mengikuti ekspedisi pelayaran ke Vancouver – Kanada. Pada tahun 1986 sebuah perhelatan akbar digelar dalam rangka pameran transportasi dunia yang juga diikuti oleh Indonesia.

Phinisi saat itu diwakili oleh Phinisi Nusantara untuk membuktikan kesaktian melayari samudera pasifik selama kurang lebih 67 hari. Sebuah pelayaran yang sangat bersejarah bagi para pelaut. Padahal Phinisi yang hanya terbuat dari kayu dengan kemampuan angkut 150 ton sangat dikhawatirkan untuk dapat melewati samudera yang ketinggian gelombangnya 4 – 7 meter, sementara ketinggian badan kapal hanya sekitar 4 meter.

Meskipun saat itu phinisi nusantara diperlengkapi dengan cadangan mesin dan alat komunikasi yang canggih tetapi yang digunakan sebagai alat navigasi adalah dengan menggunakan layar sebagaimana yang digunakan oleh sarana transportasi masa lalu.

Awak kapal yang mengikuti ekspedisi phinisi nusantara tersebut merupakan gabungan awak kapal yang memiliki pengetahuan formal dalam bidang pelayaran dan awak kapal yang ditempa dari pengalaman berpuluh-tahun dan memperoleh ilmu secara turun temurun.

Capt. Gita Arjakusuma yang mantan awak Kapal Dewa Ruci sebagai nahkoda Phinisi Nusantara bersanding dengan Daeng Mappa sebagai wakil nakhoda yang merupakan pelaut ulung dari Tanahberu, Bulukumba.

Sang Nakhoda

Capt. Gita Arjakusuma adalah pelaut Indonesia yang berhasil melayarkan kapal tradisional Phinisi Nusantara dari Indonesia ke pantai barat Amerika sejauh 11.000 mil selama 67 hari. Tekadnya menghadapi gelombang dan menerjang badai, sungguh luar biasa. Hingga ia berhasil mendaratkan Phinisi dengan selamat dan turut mengharumkan nama dan bangsa Indonesia di pameran internasional Vancouver Expo 1986.

Gita sebenarnya ‘anak gunung’ yang dibesarkan di tanah Priangan, Jawa Barat. Bersama para pelaut Bugis- Makassar, kembali membuktikan kepada dunia kalau nenek moyang kita memang orang pelaut!

Kisah Pelayaran Legendaris Phinisi Nusantara

Mission Impossible!

Saya ikuti proyek phinisi Nusantara sejak awal. Pada akhirnya, Panitia membutuhkan seorang Nakhoda di atas kapal itu. Kemudian saya mengontak Laksamana Urip Santoso, ketua Harian Ekspedisi Phinisi Nusantara. Kepadanya saya katakan, bila diperlukan seorang nakhoda untuk pelayaran ini, saya siap membantu proyek ini.

Cerita itu, akhirnya sampai kepada Laksamana Sudomo. Setelah mendengar nama saya, beliau teringat pada proyek pelayaran Java Doll, pada tahun 1972. Laksamana Sudomo ketika itu diminta bantuan oleh Kol. Jerry Mitchell, Atase Angkatan Laut Amerika, untuk membawa perahu kecil dari KeeLung, Taiwan ke Jakarta, yang kemudian saya bersama John Gunawan dan Serma Abrar Buhari menyanggupi permintaan itu. Pelayaran Java Doll berakhir dengan sukses. Jadi, begitu mendengar saya mengajukan diri, dengan serta merta Pak Domo menyetujui dan mengirimkan surat ke pihak pimpinan Andhika Lines untuk meminjam saya, sebagai nakhoda dalam proyek Phinisi Nusantara.

Memang kami dengar bahwa sebetulnya, Kepala Staf Angkatan Laut pada waktu itu, menghendaki nakhoda yang membawa kapal itu adalah dari kalangan perwira Angkatan Laut. Namun ternyata, setelah beberapa perwira Angkatan Laut diuji coba kemampuannya, Pak Domo tetap memilih saya.

Setelah mendapat izin dari perusahaan, kemudian secara resmi saya terlibat sepenuhnya dalam proyek Phinisi Nusantara. Dan proses pembuatan kapal itu, saya ikuti dari awal.

Kalau melihat kapal yang saat itu sudah 90 persen selesai dikerjakan, siapa yang tidak akan gentar melihat kondisi kapal itu? Sekali pandang saja, orang bisa mengatakan bahwa kapal itu memang tidak layak laut. Kapal dibuat dengan sangat sederhana. Dibuat secara tradisional, tanpa gambar oleh pengarajin-pengrajin di Tanah Beru.

Namun dengan tekad yang kuat – apa pun yang akan terjadi – saya bersumpah akan melayarkan kapal ini. Saya pun pergi ke galangan kapal IKI di Ujung Pandang (sekarang Makassar) dan mulai menyusun para calon ABK lainnya.

Terpikir dalam benak saya, demi keberhasilan pelayaran ini, harus dibentuk tim yang kompak, yang mempunyai keahlian di bidangnya masing-masing. Jadi, tentunya kapal ini, tidak harus diawaki semuanya oleh pelaut-pelaut Bugis-Makassar. Karena pelayaran mengarungi lautan sejauh lebih dari 10.000 mil ke benua Amerika, kapal ini dilengkapi peralatan tambahan yang sangat kompleks.

Phinisi Nusantara dilengkapi peralatan yang canggih seperti: peralatan pemantau cuaca Radio Weather Faximile, Radar JRC/JMA-300 radius 24 NM, Gyro Compass/Tokyo Keiki, Satelite Navigator JRC, peralatan komunikasi Inmarsat (International Maritime Satelite) JRC JUW, Radio SSB (Side Single Band) Inti, Radio VHF (Very High Frequency) dan Radio FM Tranceiver JHV 212.

Dalam menentukan masalah layar dan bahari, memang orang-orang Bugis lah yang paling menguasai. Mereka sangat ahli dan sangat berani untuk melayarkan kapal itu. Namun keahlian alamiah itu, harus dipadu dengan awak yang terampil dan mampu mengoperasikan peralatan modern. Untuk itu, kami merekrut orang-orang mesin dari Andhika Lines, sehingga akhirnya terkumpul lah satu tim yang kompak.

Para ABK yang berasal dari pelaut tradisional Bugis-Makassar, terdiri dari; Muhammad Hatta, Rusli, Mappagau, Muhammad Hasan, dan Abdullah. Sementara pelaut modern adalah Hasyim (ahli komunikasi), Atok Issoluchi (ahli mesin), Amrillah Hasan (ahli listrik), Roy Rusdiman (juru masak), juga direkrut Pius Caro (wartawan Kompas), yang medianya menjadi salah satu sponsor kegiatan ini.

Hambatan selama pelayaran memang tidak sedikit. Dalam pelayaran uji coba Makassar-Jakarta, namanya saja uji coba, kapal ini mengalami beberapa kerusakan yang cukup mencemaskan. Pondasi generator, tiba-tiba retak. Karena rusak, kerja generator terganggu bahkan tidak berfungsi maka aliran listrik ke pompa-pompa penguras tidak bekerja. Kejadian itu membawa hikmah dengan mengharuskan dipasangkannya paling sedikit dua generator dan dua pompa listrik-mekanis independen untuk fungsi pengurasan dan pemadam kebakaran.

Saya berpendapat, anggota tim mesin perlu ditambah satu orang lagi, yang sangat ahli menangani peralatan mesin merk Lyster yang dipasok oleh PP. Berdikari. Maka, ketika kami singgah di Jakarta, direkrut Amrillah, seorang ahli mesin dari Lyster. Selanjutnya, permasalahan-permasalahan mengenai mesin; motor bantu Genset, peralatan pompa, bisa dioperasikan dengan baik.

Dalam pelayaran uji coba itu, kapal juga mengalami kebocoran-kebocoran. Peristiwa itu, kemudian menjadi santapan pers yang menggambarkan pelayaran Phinisi Nusantara sebagai Mission Impossible!

Saya berusaha menenangkan panitia, bahwa peristiwa-peristiwa tersebut, ditambah berita di koran, jangan diambil pusing. ‘’Kapal bocor bagi pelaut itu biasa. Yang penting genangan air masih dapat diatasi dengan peralatan yang ada,’’ kata saya. ‘’Bila kapal terombang-ambing pada saat cuaca buruk, yang terpenting jangan melawan alam. Bertahanlah pada kondisi yang terburuk, agar kira dapat menghadapi kondisi yang lebih buruk lagi!’’

Setiap pelaut sejati tahu itu. Hujan tak akan turun satu bulan penuh, dalam tiga hari hujan pasti akan berhenti. Cuaca buruk jangan mencoba mengusirnya. Yang penting, bagaimana menghadapinya dengan tabah.

Apakah kami bisa berhasil sampai di Vancouver? Dari pelayaran Jakarta ke Bitung pun kapal ini harus berdeviasi ke Surabaya untuk perbaikan.

Rencana pelayaran Phinisi Nusantara ini sudah menjadi isu nasional. Maka setiap langkah kapal ini, menjadi perbincangan tingkat nasional. Tak heran, kemudian timbul sikap pesimistis, apakah kapal ini bisa berhasil sampai di Vancouver? Dari pelayaran uji coba selanjutnya Jakarta-Bitung pun, kapal ini harus berdeviasi ke Cirebon untuk perbaikan karena spi roda kemudi patah.

Selanjutnya, dalam pelayaran dari Bitung menuju Honolulu, turut naik ke kapal Frank Koller, wartawan dari Canadian Broadcasting Corporation (CBC), Kanada. Ternyata, Koller bersikap sangat baik terhadap para awak kapal.

global winds and mean, sea level pressure

Gila, Kamu!

Pada 22 Juli 1986, kami tiba di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Selama di sana, kami mendapat bantuan dari Gubernur CJ. Rantung. Beliau menyumbangkan 100 ekor ikan cakalang, bahan bakar, beras, mie, dan lain-lain. Setelah pembekalan itu, tak diduga kami mendapat kunjungan Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi Jenderal (Purn) Ahmad Taher, yang kebetulan berada di Bitung untuk meresmikan Sentral Telepon Otomat Bitung.

‘’Kamu betul-betul berani melayarkan perahu seperti ini menyeberangi Pasifik?’’ Tanya Pak Taher.

‘’Kami akan mencoba, Pak,’’

‘’Gila Kamu!’’ kata Pak Taher, masih tetap tersenyum sambil meletakkan jari telunjuknya, melintang di dahi.

Kesan Pak Taher terhadap kami, bisa dimengerti. Kami memang ‘orang-orang gila’, yang berusaha membawa nama bangsa dan negara. Jarak Bitung-Honolulu mencapai 6050 nautical mile, bukan pelayaran yang mudah dan sederhana. Di tengah Samudera Pasifik itu, kami bagai sabut kelapa yang setiap saat dipermainkan gelombang, mungkin ditenggelamkan badai atau amukan alam yang tak suka dengan ambisi ‘orang gila’

Phinisi Nusantara tetap merayap terguncang-guncang pada haluan 070. Pada posisi 04 derajat Lintang Utara/130 derajat Bujur Timur. angin bertiup dari arah barat laut, tapi arus laut justru datang dari arah berlawanan sehingga Phinisi Nusantara melaju terseok-seok. Terdengar suara berderak-derak tiada henti.

Keberadaan kami di Samudera Pasifik ini semakin terasing. Siang itu, 26 Juli 1986, kalau ditarik garis lurus ke arah barat laut maka Teluk Davao, Filipina, berjarak 35 jam pelayaran. Ditarik garis lurus ke arah barat daya, maka Pulau Morotai berada 16 jam pelayaran. Sedangkan Pulau Sonsorol yang berada diujung garis haluan kapal, jaraknya 35 mil. Pulau Anna, AS, di lambung kanan jaraknya 35 mil dan Honolulu sebagai pelabuhan singgah, jaraknya masih 36 hari pelayaran.

Ah, persetan dengan angka-angka dan perhitungan waktu yang memusingkan. Persetan dengan nasib. Kami sudah kepalang berlayar jauh. Terlebih lagi, tekad sudah bulat. Yang penting ialah berupaya sekuat tenaga, penuh kesabaran, tahan uji dan tawakal.

Di tengah samudera yang maha luas, kami bagai anak ayam kehilangan induk. Tak ada tempat berlindung dari badai ataupun taifun. Oleh karena itu, kapal ini dan para ABK, kami anggap sebagai rumah dan keluarga kandung. Tempat kami berbagi kasih dan saling tolong-menolong. Jika ada anggota keluarga yang merasa paling berkuasa, kami anggap sebagai dinamika biasa bukan sikap otoriter.

Proyek (Mengirim Mayat ke) Laut

Suatu ketika angin badai mulai menyergap Phinisi Nusantara. ‘’Ambil layar! Cepat ambil layar!’’ teriak Mappagau sambil keluar dari anjungan. Ambil layar dalam dialek Bugis-Makassar, berarti menurunkan layar. Saya yang sedang berada di anjungan membiarkan Mappagau memegang komando, menyuruh ABK yang sedang jaga, ketika badai dengan kecepataan 30 knots datang.

Di tengah lautan kami berlayar sambil didorong arus khatulistiwa. Perahu bertingkah ditekan angin kencang dan dikocok ombak dan gelombang. Walau tanpa layar selembarpun, Phinisi Nusantara melaju didorong tiga kuasa alam, angin ribut, arus laut dan ombak gelombang yang datang dari arah buritan. Sehingga Phinisi Nusantara seperti sedang berlayar mengikuti banjir ke arah hilir.

Satu hal yang sangat menggembirkan kami, setelah berlayar selama dua bulan lebih seminggu (67 hari), kami sampai di Victoria, yang berarti hanya perlu satu hari lagi sebelum mencapai Vancouver. Kenyataan itu, seolah memupus perasaan keterangasingan di negeri sendiri, berganti dengan luapan kegembiraan.

Tiba di Victoria, kami melihat Bapak Sudomo datang dengan pesawat Otter Amphibi dan mendarat di samping kapal kami. Beliau turun, serta-merta memeluk kami satu-persatu. Terlihat begitu terharunya Pak Domo, karena menurut beliau, banyak masyarakat Indonesia yang sangat mencemaskan keberhasilan proyek ini. Malah di koran-koran pun muncul anggapan bahwa proyek ini hanyalah ‘proyek mengantarkan mayat ke laut’ .

Tidak sedikit masyarakat yang mencibirkan bibir karena menyangsikan keberhasilan proyek ini. Memang, dalam sejarah Indonesia, baru kali inilah sebuah perahu tradisional Bugis yang dibuat oleh tangan-tangan pengrajin Tanah Beru, berhasil selamat di pantai barat Amerika. Inilah bukti kesuksesan yang memupus keragu-raguan masyarakat akan ketangguhan tim kami. Dan itu dinyatakan oleh Bapak Sudomo dengan terbata-bata, menekan perasaannya. Sebab, bagaimana pun beliau sendiri seolah mempertaruhkan namanya untuk meyakinkan keberhasilan proyek ini.

Telepon Dari Pak Harto

Pada petang hari itu juga, terjadi sebuah klimaks bagi kami, terutama bagi saya pribadi. Pesawat Inmarsat (International Maritime Satellite) kami menerima pemberitahuan dari Jakarta yang mengabarkan bahwa jam delapan malam ini (perbedaan waktu sekitar 12 jam, sehingga malam hari di Victoria adalah pagi hari di Jakarta), Presiden Soeharto akan menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh ABK

Telepon berdering. Percakapan diawali Pak Domo dengan Presiden Soeharto, kemudian Pak Harto minta berbicara dengan nakhoda, yaitu saya sendiri. Pada intinya, beliau atas nama Pemerintah dan bangsa Indonesia mengucapkan selamat dan menyampaikan terimakasih atas keberhasilan pelayaran Phinisi Nusantara, yang telah menjunjung nama baik bangsa dan negara.

‘’Keuletan para awak Phinisi Nusantara telah membuktikan semangat bahari bangsa Indonesia kepada dunia. Keuletan itu akan dihargai bukan saja oleh bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga oleh bangsa-bangsa di dunia,’’ ujar Presiden Soeharto. Pada bagian akhir pembicaraanya, beliau mengatakan: ‘’Sampaikan salam selamat dan penghargaan saya kepada seluruh ABK,’’ pesan Pak Harto.

IMG00364

Kapal tradisional di pesisir Selatan Jawa Timur

Setelah menerima telepon dari Pak Harto dan Pak Domo pun meninggalkan kapal, di malam hari yang sunyi saya merenung kembali. Inilah rupanya, akhir dari suatu perjuangan: betapa seorang anak, dalam kemampuan dan kekuatannya sendiri, telah berusaha membela nama baik ayahnya. Itulah pula, yang sanggup saya lakukan demi membela keluarga kami, demi ketenangan dan ketentraman almarhum ayah, bahkan jika mungkin bagi masa depan anak-anak dan cucu kami kelak.

Sesungguhnya, keberhasilan pelayaran Phinisi Nusantara adalah terutama berkat Rahmat dari Gusti Allah Subhannahuwata’ala. Sebab sejak kami berlayar, kami senantiasa memohon kepada Gusti Allah agar dijauhkan dari rintangan, dijauhkan dari malapetaka dan marabahaya di laut.

Di dalam do’a, saya seolah menagih janji kepada Tuhan. Tunjukkan keadilanMU, ya Allah! Saya pernah menolong sekian ribu orang di lautan. Apakah kini saya harus mati dengan sia-sia dalam pelayaran Phinisi Nusantara? Saya menagih janji, bahwa saya sudah menanamkan pohon. Apakah kami masih diperbolehkan untuk menikmati buahnya? Ribuan nyawa manusia telah saya selamatkan di laut, apakah patut saya mati di lautan? Keyakinan dan do’a itulah yang menjadi tekad saya untuk memberanikan diri melayarkan Phinisi Nusantara ke Vancouver.

Tidak sedikit pula, selama 68 hari pelayaran itu, kami menerima berbagai cobaan hidup. Setidaknya ada tiga orang keluarga terdekat kami yang meninggal dunia. Pertama, Kolonel (Purn) Samidjo, bapak mertua. Kedua, Ir. Putu Predana, adik ipar. Dan ketiga, Amung Ardjakusuma, 63 tahun, salah seorang paman kami. Mang Amung, demikian ia biasa disapa akrab, semasa mudanya adalah seorang pemain bola jempolan. Almarhum pernah memperkuat tim PERSIB, Bandung, seangkatan dengan Aang Witarsa dan kiper Saelan. Berita duka itu saya terima berturut-turut melalui pesawat Inmarsat.

Misi Belum Usai: Dari Vancouver ke San Diego

Dalam pelayaran dari Vancouver ke San Diego, Philipe tidak ikut karena pelayaran dinyatakan telah berakhir. Ia meninggalkan kapal, karena kontraknya pun habis. Selanjutnya, ada sukarelawan baru yang ikut yaitu Norman Edwin, wartawan Mutiara yang juga pendaki gunung. Sejak awal, ia memang sangat berminat untuk turut dalam proyek ini. Sukarelawan lainnya, adalah putra dari Robby Sularto Sastrowardoyo, pimpinan Pavilyun Indonesia.

Dalam pelayaran ke Vancouver ini, track-track pelayaran kami selalu memanfaatkan arah angin dan kekuatan arus. Dan untuk ini, kami tidak malu-malu bertanya kepada para pelaut yang ada di sana, untuk memilih track yang paling aman.

Dalam pelayaran ke San Diego, yang menempuh jarak 1125 mil laut itu, kami mempunyai suatu strategi agar bisa mencapai San Diego dengan aman, karena pada waktu itu cuaca makin memburuk.

Rute pelayaran tidak bisa tembak langsung lurus ke selatan, menelusuri pantai ke San Diego. Kami disarankan agar menjauhi garis pantai sampai 40 mil. Kami harus mengarahkan kapal ke selat Juan de Fuca, kemudian berbelok ke barat untuk mendapatkan arus laut California yang merupakan lanjutan dari arus Aleuten yang akan mendorong kapal ke selatan. Jika kami langsung menyisir pantai ke selatan, bukannya cepat sampai malah bisa terseret ke Lautan Atlantik. Di kawasan itu, ada arus Davidson yang cenderung mendorong kapal kembali ke arah utara.

Esoknya, Sabtu 27 September 1986, kami layarkan kapal keluar False Creek. Sekitar 40 menit kemudian kami baru mengubah haluan ke selatan. Begitu masuk arus laut ini, kami terperangah karena harus berhadapan dengan ombak dan arus dari belakang. Arus laut ini sangat mencemaskan kami. Tinggi gelombang sekitar 7-8 meter dan kami didorong dari belakang. Sehingga meskipun pelayaran ini sangat menguntungkan karena kecepatan akan bertambah, namun dengan tingginya gelombang, kami mendengar dengan keras sekali kapal berbunyi berderak-derak mencemaskan

Terus terang, pengalaman ini belum kami alami, sehingga kami tanyakan kepada para pelaut Bugis-Makassar, sejauhmana kekuatan kapal ini menentang gelombang yang cukup tinggi? Mereka pun rupanya belum pernah berpengalaman menghadapi gelombang setinggi 8 meter ini.

Sehingga dalam pelayaran Vancouver-San Diego ini, kami harus cermat sekali mengendalikan kemudi. Akhirnya, setelah 12 hari pelayaran, pada tanggal 5 Oktober 1986, kami berhasil masuk ke teluk San Diego dan dengan lancar akhirnya kapal sampai di Broadway Pier, Marina San Diego, yang terletak tepat di jantung kota San Diego.

Oleh karena hari Minggu merupakan hari libur resmi, maka tidak ada upacara penyambutan yang meriah. Kami hanya disambut oleh Komandan Pangkalan Angkatan Laut Amerika beserta stafnya dengan ramah. Mereka tampaknya telah mendengar rencana kedatangan Phinisi Nusantara ke San Diego.

Jadi sebetulnya, dalam pelayaran Phinisi itu, kita pernah mengalami suatu hambatan. Namun dengan rasa kekompakan dan rasa persaudaraan, akhirnya masalah itu pun bisa diselesaikan dengan baik.

Selesai melayarkan Phinisi Nusantara, saya kembali ke Tanah Air. Tidak berapa lama di Jakarta, saya masih diminta untuk mengantar para pelaut Bugis- Makassar ke Makassar.

Namun tiba di sana, kami benar-benar larut dalam kegembiraan dan suasana haru. Betapa luar biasa sambutan masyarakat Bugis- Makassar terhadap tim Phinisi ini. Kami disambut dengan tarian kebesaran adat Bugis- Makassar, dikenakan sarung Bugis- Makassar, dikalungi bunga, kemudian mendapat kehormatan diterima oleh Gubernur Sulawesi Selatan.

Saya sebagai orang Sunda, tentu saja merasa tersanjung karena bisa diterima sebagai warga kehormatan dengan sambutan adat tradisional Bugis- Makassar.

Selesai mengantar para pelaut Bugis ke tanah leluhur mereka, saya kembali ke Jakarta dan bertugas kembali di PT. Andhika Lines. Setahun kemudian, pada 1987 saya ditugaskan ke Jepang, mewakili perusahaan.

Ketika saya bertugas di Jepang itulah, saya dipanggil secara khusus untuk hadir di Jakarta. Pada tanggal 10 Nopember 1989 bertepatan dengan hari Pahlawan, saya menerima penghargaan berupa tanda jasa Satya Lencana Pembangunan di bidang bahari. Penyematan tanda jasa berlangsung di atas geladak KRI Teluk Ende. Tentu saja, penghargaan inipun saya dedikasikan juga bagi seluruh ABK. Khususnya para pelaut Bugis- Makassar. (Dari berbagai sumber dengan diedit seperlunya)

Posted in Sejarah | Leave a comment

Contoh raport kurikulum 2013 dengan deskripsi

Raport kurikulum 2013 master.  Contoh sederhana versi beta yang masih terbuka untuk dimodifikasi, diperindah dan dipercanggih dengan VB maupun macro pada Microsoft Excel.

Posted in Raport | Leave a comment

INFORMASI SEMENTARA PENERIMAAN MAHASISWA BARU TAHUN 2014

Jadwal PMB 2014 dari BK SMA Al Muslim bulan Mei 2014

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Babad Tanah Jawi, Bujangga Manik dan Naskah lainnya

Babad Tanah Jawi

Tanah Jawa memang terkenal memiliki banyak kebudayaan. Tapi tak banyak yang mengetahui bahwa sebagian besar budaya dan sejarah tanah Jawa itu ternyata dirangkum dalam sebuah buku besar yang  dikenal dengan nama Babad.

Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, Babad Tanah Jawi memiliki keragaman versi dan dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja inilah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1972.

Perbedaan keduanya terletak pada pencitraan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.

Babad adalah cerita rekaan (fiksi) yang didasarkan pada peristiwa sejarah, dimana penulisannya biasanya dalam bentuk macapat (tembang, puisi, atau syair). Salah satu babad yang sangat terkenal adalah Babad Tanah Jawi. Babad Tanah Jawi merupakan karya sastra sejarah dalam bentuk Tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan zaman Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal-hal yang terjadi di tanah Jawa.

Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram. Uniknya, dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam. Silsilah raja-raja Pajajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat pada Babad Tanah Jawi ini. Bahkan hingga Majapahit, Demak, dan terus berurutan hingga kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18. Buku ini telah dipakai sebagai salah satu alat rekonstruksi sejarah Pulau Jawa. Namun, menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.

Babad memiliki unsur relio-magis dan erat dengan imanjinasi. Hal ini pula yang membuat ahli sejarah ragu untuk memakai babad sebagai sumber sejarah yang sahih. Para sejarawan kerap memahami babad sebagai tulisan atau sumber sejarah dalam tendensi subjektif. Mereka menganggap babad rentan dengan bias dalam menggambarkan fakta-fakta sejarah. Babad cenderung menjadi percampuran fakta dan mitologi.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, Babad Tanah Jawi merupakan jejak besar dalam membaca (sejarah) Jawa. Maka tak heran jika Babad Tanah Jawi telah berhasil menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Ahli sejarah seperti HJ de Graaf, Meinsma, hingga Balai Pustaka turut andil melestarikan warisan nasional yang satu ini. Sekarang, giliran kita generasi muda untuk mulai membaca peninggalan berharga tanah Jawa ini supaya tetap mengakar di Indonesia. (http://bmataram.blogspot.com/2012/05/sebuah-catatan-sejarah-kerajaan-mataram.html)

Naskah-naskah zaman Pajajaran dan sesudahnya

1. Bujangga Manik

Merupakan naskah yang sangat penting dan sangat berharga. Naskah ini ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda. Naskah ini ditulis dalam bentuk puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, di atas daun nipah yang saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.

Naskah ini menggambarkan keadaan Pulau Jawa dan lautnya pada saat perdagangan laut dikuasai oleh Kesultanan Malaka. Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu Sunda yang, walaupun merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan Pajajaran (ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota Bogor), lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah singgah di Bali untuk beberapa.

Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Jelas sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka dan  Demak memungkinkan kita untuk memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan dalam naskah. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan sampai sekarang.

2. Sanghyang Siksakanda ng Karesian

Naskah didaktik, yang memberikan aturan, resep serta ajaran agama dan moralitas kepada pembacanya. Sanghyang Siksakanda ng Karesia merupakan “Buku berisi aturan untuk menjadi resi (orang bijaksana atau suci)”. Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta dan ditandai dengan nama kropak 630. Naskah ini terdiri dari 30 lembar daun nipah. Naskah ini bertanggal “nora catur sagara wulan (0-4-4-1)”, yaitu tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi. Naskah ini telah menjadi rujukan dalam publikasi yang diterbitkan oleh Holle dan Noorduyn. (1987:73-118). Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian berasal dari Galuh (salah satu ibukota Kerajaan Sunda).

3. Carita Parahyangan

Sumber tertulis yang disusun di daerah Ciamis pada akhir abad ke-16 Masehi, Kuningan sebagai nama daerah (kerajaan) telah dikenal sejak awal kerajaan Galuh, yakni sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi. Sementara itu, wilayah kerajaan Kuningan terletak di daerah Kabupaten Kuningan sekarang. Adalagi menurut cerita mitologi daerah setempat yang mengemukakan bahwa nama daerah Kuningan itu diambil dari ungkapan dangiang kuning, yaitu nama ilmu kegaiban(ajian) yang bertalian dengan kebenaran hakiki. Ilmu ini dimiliki oleh Demunawan, salah seorang yang pernah menjadi penguasa (raja) di daerah ini pada masa awal kerajaan Galuh.

Dalam tradisi agama Hindu terdapat sistem kalender yang menggambarkan siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat Hindu-Bali sekarang. Kuningan menjadi nama waktu (wuku) ke 12 dari sistem kalender tersebut. Pada periode wuku Kuningan selalu daiadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Mungkinkah, nama wuku Kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama bagi daerah ini?

Yang jelas, menurut Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan, dua naskah yang ditulis sezaman pada daun lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna, pada abad ke-8 Masehi, Kuningan sudah disebut sebagai nama kerajaan yang terletak tidak jauh dari kerajaan Galuh (Ciamis sekarang) dan kerajaan Galunggung (Tasikmalaya sekarang). Lokasi kerajaan tersebut terletak di daerah yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan.

4. Amanat Galunggung

Adalah nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, salah satu naskah tertua di Nusantara.  Naskah ini ditulis pada abad ke-15 pada daun lontar dan nipah, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuna. Naskah ini berisi nasihat mengenai etika dan budi pekerti Sunda, yang disampaikan Rakyan Darmasiksa, Raja Sunda ke-25, Penguasa Galunggung, kepada puteranya Ragasuci (Sang Lumahing Taman).

Di Kabuyutan Ciburuy, hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno. Salah satu naskah kuno yang ditemukan di kabuyutan itu—sebelum disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta—adalah ”Amanat Galunggung”.

5. Keraton Cirebon

Naskah-naskah tradisi Cirebon merupakan bukti sekunder. Naskah-naskah tersebut berbentuk prosa, diantaranya : Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda dan Sejarah Cirebon. Serta naskah yang berbentuk tembang di antaranya Carub Kanda, Babad Cirebon, Babad Cerbon, Wawacan Sunan Gunung Jati, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan dan Naskah Pulasaren. Sedangkan naskah tertua yang menulis tentang Syekh Nurjati dibuat oleh Arya Cerbon pada tahun 1706 M.

Naskah berharga lainnya :

Wangsakerta

Bila Keraton Solo menerbitkan Babad Tanah Jawi,  maka Keraton Cirebon menghasilkan pula sebuah karya sejarah bernama Wangsakerta. Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh “Panitia Wangsakerta”. Menurut isi Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa (bagian) V sarga (jilid/naskah) 5 yang berupa daftar pustaka, setidaknya perpustakaan Kesultanan Cirebon mengoleksi 1703 judul naskah, yang 1213 di antaranya berupa karya Pangeran Wangsakerta beserta timnya. Naskah ini tersimpan di Museum Sejarah Sunda “Sri Baduga” di Bandung.

Panitia Wangsakerta

Dalam pengantar setiap naskah Wangsakerta selalu diinformasikan mengenai proses dibuatnya naskah-naskah tersebut. Panitia–yang dipimpin oleh Pangéran Wangsakerta ini dimaksudkan untuk memenuhi permintaan/amanat ayahnya, Panembahan Girilaya, agar Pangeran Wangsakerta menyusun naskah kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Panitia didirikan untuk mengadakan suatu gotrasawala (simposium/seminar) antara para ahli (sajarah) dari seluruh Nusantara, yang hasilnya disusun dan ditulis menjadi naskah-naskah yang sekarang dikenal sebagai Naskah Wangsakerta. Gotrasawala ini berlangsung pada tahun 1599 Saka (1677 M), sedangkan penyusunan naskah-naskahnya menghabiskan waktu hingga 21 tahun (selesai 1620 Saka, 1698 M).

Naskah-naskah yang dihasilkan oleh Panitia Wangsakerta bisa digolongkan menjadi beberapa judul:

* Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara

* Pustaka Pararatwan

* Pustaka Carita Parahyangan i Bhumi Jawa Kulwan

* Pustaka Nagarakretabhumi

* Pustaka Samastabhuwana

* Salinan kitab-kitab hukum Majapahit

* Kumpulan carita, katha, dan itihasa

* Pustaka mengenai raja desa dan raja kecil

* Salinan beberapa naskah Jawa Kuna

* Mahabharata

* Kumpulan kathosana

* Salinan prasasti

* Salinan surat-surat perjanjian persahabatan

* Naskah mengenai cerita para pedagang

* Naskah dalam berbagai bahasa daerah lain dan bahasa asing

* Kumpulan widyapustaka (aneka ilmu)

* Pustaka keislaman

* Sarwakrama raja-raja Salakanagara

* Sarwakrama raja-raja Tarumanagara

* Sarwakrama raja-raja Galuh dan Pajajaran

* Sarwakrama raja-raja Galuh

* Sarwakrama raja-raja Jawa Tengah dan Timur

* Raja-raja dan pembesar Majapahit

* Raja-raja dan pembesar Bali

* Raja-raja dan pembesar Janggala dan Kadiri

* Raja-raja dan pembesar Sriwijaya

* Raja-raja daerah Bali, Kadiri, dan Janggala

* Salinan naskah-naskah karya Prapanca

6. Karya-karya Muhamad Musa

Muhamad Musa, atau, dengan nama lengkap beserta gelarnya Raden Haji Muhamad Musa (1822 – 10 Agustus 1886), pengarang, pelopor kesustraan cetak Sunda, ulama dan tokoh Sunda abad ke-19. Dilahirkan di Garut sebagai keturunan bangsawan, putra Raden Rangga Suryadikusumah.

Musa mengembangkan bakat/minat menulis dan mengarangnya sehingga karya-karyanya (baik karangan sendiri maupun saduran atau terjemahan) bisa dicetak sampai ribuan eksemplar di Batavia. Diantaranya,

  • 1862: Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongéng-dongéng, Wawacan Wulang Tani;
  • 1863: Carita Abdurahman jeung Abdurahim, Wawacan Seca Nala;
  • 1864: Ali Muhtar, Élmu Nyawah;
  • 1865: Wawacan Wulang Murid, Wawacan Wulang Guru;
  • 1866: Dongéng-dongéng nu Aranéh;
  • 1867: Dongéng-dongéng Pieunteungeun;
  • 1871: Wawacan Panji Wulung
  • 1872: Wawacan Lampah Sekar;
  • 1881: Santri Gagal, Hibat.

(sumber : id.wikipedia)

Posted in Sejarah | Leave a comment