Contoh raport kurikulum 2013 dengan deskripsi

Raport kurikulum 2013 master.  Contoh sederhana versi beta yang masih terbuka untuk dimodifikasi, diperindah dan dipercanggih dengan VB maupun macro pada Microsoft Excel.

Posted in Raport | Leave a comment

INFORMASI SEMENTARA PENERIMAAN MAHASISWA BARU TAHUN 2014

Jadwal PMB 2014 dari BK SMA Al Muslim bulan Mei 2014

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Babad Tanah Jawi, Bujangga Manik dan Naskah lainnya

Babad Tanah Jawi

Tanah Jawa memang terkenal memiliki banyak kebudayaan. Tapi tak banyak yang mengetahui bahwa sebagian besar budaya dan sejarah tanah Jawa itu ternyata dirangkum dalam sebuah buku besar yang  dikenal dengan nama Babad.

Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, Babad Tanah Jawi memiliki keragaman versi dan dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja inilah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1972.

Perbedaan keduanya terletak pada pencitraan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.

Babad adalah cerita rekaan (fiksi) yang didasarkan pada peristiwa sejarah, dimana penulisannya biasanya dalam bentuk macapat (tembang, puisi, atau syair). Salah satu babad yang sangat terkenal adalah Babad Tanah Jawi. Babad Tanah Jawi merupakan karya sastra sejarah dalam bentuk Tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan zaman Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal-hal yang terjadi di tanah Jawa.

Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram. Uniknya, dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam. Silsilah raja-raja Pajajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat pada Babad Tanah Jawi ini. Bahkan hingga Majapahit, Demak, dan terus berurutan hingga kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18. Buku ini telah dipakai sebagai salah satu alat rekonstruksi sejarah Pulau Jawa. Namun, menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.

Babad memiliki unsur relio-magis dan erat dengan imanjinasi. Hal ini pula yang membuat ahli sejarah ragu untuk memakai babad sebagai sumber sejarah yang sahih. Para sejarawan kerap memahami babad sebagai tulisan atau sumber sejarah dalam tendensi subjektif. Mereka menganggap babad rentan dengan bias dalam menggambarkan fakta-fakta sejarah. Babad cenderung menjadi percampuran fakta dan mitologi.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, Babad Tanah Jawi merupakan jejak besar dalam membaca (sejarah) Jawa. Maka tak heran jika Babad Tanah Jawi telah berhasil menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Ahli sejarah seperti HJ de Graaf, Meinsma, hingga Balai Pustaka turut andil melestarikan warisan nasional yang satu ini. Sekarang, giliran kita generasi muda untuk mulai membaca peninggalan berharga tanah Jawa ini supaya tetap mengakar di Indonesia. (http://bmataram.blogspot.com/2012/05/sebuah-catatan-sejarah-kerajaan-mataram.html)

Naskah-naskah zaman Pajajaran dan sesudahnya

1. Bujangga Manik

Merupakan naskah yang sangat penting dan sangat berharga. Naskah ini ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda. Naskah ini ditulis dalam bentuk puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, di atas daun nipah yang saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.

Naskah ini menggambarkan keadaan Pulau Jawa dan lautnya pada saat perdagangan laut dikuasai oleh Kesultanan Malaka. Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu Sunda yang, walaupun merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan Pajajaran (ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota Bogor), lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah singgah di Bali untuk beberapa.

Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Jelas sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka dan  Demak memungkinkan kita untuk memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan dalam naskah. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan sampai sekarang.

2. Sanghyang Siksakanda ng Karesian

Naskah didaktik, yang memberikan aturan, resep serta ajaran agama dan moralitas kepada pembacanya. Sanghyang Siksakanda ng Karesia merupakan “Buku berisi aturan untuk menjadi resi (orang bijaksana atau suci)”. Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta dan ditandai dengan nama kropak 630. Naskah ini terdiri dari 30 lembar daun nipah. Naskah ini bertanggal “nora catur sagara wulan (0-4-4-1)”, yaitu tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi. Naskah ini telah menjadi rujukan dalam publikasi yang diterbitkan oleh Holle dan Noorduyn. (1987:73-118). Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian berasal dari Galuh (salah satu ibukota Kerajaan Sunda).

3. Carita Parahyangan

Sumber tertulis yang disusun di daerah Ciamis pada akhir abad ke-16 Masehi, Kuningan sebagai nama daerah (kerajaan) telah dikenal sejak awal kerajaan Galuh, yakni sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi. Sementara itu, wilayah kerajaan Kuningan terletak di daerah Kabupaten Kuningan sekarang. Adalagi menurut cerita mitologi daerah setempat yang mengemukakan bahwa nama daerah Kuningan itu diambil dari ungkapan dangiang kuning, yaitu nama ilmu kegaiban(ajian) yang bertalian dengan kebenaran hakiki. Ilmu ini dimiliki oleh Demunawan, salah seorang yang pernah menjadi penguasa (raja) di daerah ini pada masa awal kerajaan Galuh.

Dalam tradisi agama Hindu terdapat sistem kalender yang menggambarkan siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat Hindu-Bali sekarang. Kuningan menjadi nama waktu (wuku) ke 12 dari sistem kalender tersebut. Pada periode wuku Kuningan selalu daiadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Mungkinkah, nama wuku Kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama bagi daerah ini?

Yang jelas, menurut Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan, dua naskah yang ditulis sezaman pada daun lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna, pada abad ke-8 Masehi, Kuningan sudah disebut sebagai nama kerajaan yang terletak tidak jauh dari kerajaan Galuh (Ciamis sekarang) dan kerajaan Galunggung (Tasikmalaya sekarang). Lokasi kerajaan tersebut terletak di daerah yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan.

4. Amanat Galunggung

Adalah nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, salah satu naskah tertua di Nusantara.  Naskah ini ditulis pada abad ke-15 pada daun lontar dan nipah, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuna. Naskah ini berisi nasihat mengenai etika dan budi pekerti Sunda, yang disampaikan Rakyan Darmasiksa, Raja Sunda ke-25, Penguasa Galunggung, kepada puteranya Ragasuci (Sang Lumahing Taman).

Di Kabuyutan Ciburuy, hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno. Salah satu naskah kuno yang ditemukan di kabuyutan itu—sebelum disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta—adalah ”Amanat Galunggung”.

5. Keraton Cirebon

Naskah-naskah tradisi Cirebon merupakan bukti sekunder. Naskah-naskah tersebut berbentuk prosa, diantaranya : Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda dan Sejarah Cirebon. Serta naskah yang berbentuk tembang di antaranya Carub Kanda, Babad Cirebon, Babad Cerbon, Wawacan Sunan Gunung Jati, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan dan Naskah Pulasaren. Sedangkan naskah tertua yang menulis tentang Syekh Nurjati dibuat oleh Arya Cerbon pada tahun 1706 M.

Naskah berharga lainnya :

Wangsakerta

Bila Keraton Solo menerbitkan Babad Tanah Jawi,  maka Keraton Cirebon menghasilkan pula sebuah karya sejarah bernama Wangsakerta. Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh “Panitia Wangsakerta”. Menurut isi Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa (bagian) V sarga (jilid/naskah) 5 yang berupa daftar pustaka, setidaknya perpustakaan Kesultanan Cirebon mengoleksi 1703 judul naskah, yang 1213 di antaranya berupa karya Pangeran Wangsakerta beserta timnya. Naskah ini tersimpan di Museum Sejarah Sunda “Sri Baduga” di Bandung.

Panitia Wangsakerta

Dalam pengantar setiap naskah Wangsakerta selalu diinformasikan mengenai proses dibuatnya naskah-naskah tersebut. Panitia–yang dipimpin oleh Pangéran Wangsakerta ini dimaksudkan untuk memenuhi permintaan/amanat ayahnya, Panembahan Girilaya, agar Pangeran Wangsakerta menyusun naskah kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Panitia didirikan untuk mengadakan suatu gotrasawala (simposium/seminar) antara para ahli (sajarah) dari seluruh Nusantara, yang hasilnya disusun dan ditulis menjadi naskah-naskah yang sekarang dikenal sebagai Naskah Wangsakerta. Gotrasawala ini berlangsung pada tahun 1599 Saka (1677 M), sedangkan penyusunan naskah-naskahnya menghabiskan waktu hingga 21 tahun (selesai 1620 Saka, 1698 M).

Naskah-naskah yang dihasilkan oleh Panitia Wangsakerta bisa digolongkan menjadi beberapa judul:

* Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara

* Pustaka Pararatwan

* Pustaka Carita Parahyangan i Bhumi Jawa Kulwan

* Pustaka Nagarakretabhumi

* Pustaka Samastabhuwana

* Salinan kitab-kitab hukum Majapahit

* Kumpulan carita, katha, dan itihasa

* Pustaka mengenai raja desa dan raja kecil

* Salinan beberapa naskah Jawa Kuna

* Mahabharata

* Kumpulan kathosana

* Salinan prasasti

* Salinan surat-surat perjanjian persahabatan

* Naskah mengenai cerita para pedagang

* Naskah dalam berbagai bahasa daerah lain dan bahasa asing

* Kumpulan widyapustaka (aneka ilmu)

* Pustaka keislaman

* Sarwakrama raja-raja Salakanagara

* Sarwakrama raja-raja Tarumanagara

* Sarwakrama raja-raja Galuh dan Pajajaran

* Sarwakrama raja-raja Galuh

* Sarwakrama raja-raja Jawa Tengah dan Timur

* Raja-raja dan pembesar Majapahit

* Raja-raja dan pembesar Bali

* Raja-raja dan pembesar Janggala dan Kadiri

* Raja-raja dan pembesar Sriwijaya

* Raja-raja daerah Bali, Kadiri, dan Janggala

* Salinan naskah-naskah karya Prapanca

6. Karya-karya Muhamad Musa

Muhamad Musa, atau, dengan nama lengkap beserta gelarnya Raden Haji Muhamad Musa (1822 – 10 Agustus 1886), pengarang, pelopor kesustraan cetak Sunda, ulama dan tokoh Sunda abad ke-19. Dilahirkan di Garut sebagai keturunan bangsawan, putra Raden Rangga Suryadikusumah.

Musa mengembangkan bakat/minat menulis dan mengarangnya sehingga karya-karyanya (baik karangan sendiri maupun saduran atau terjemahan) bisa dicetak sampai ribuan eksemplar di Batavia. Diantaranya,

  • 1862: Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongéng-dongéng, Wawacan Wulang Tani;
  • 1863: Carita Abdurahman jeung Abdurahim, Wawacan Seca Nala;
  • 1864: Ali Muhtar, Élmu Nyawah;
  • 1865: Wawacan Wulang Murid, Wawacan Wulang Guru;
  • 1866: Dongéng-dongéng nu Aranéh;
  • 1867: Dongéng-dongéng Pieunteungeun;
  • 1871: Wawacan Panji Wulung
  • 1872: Wawacan Lampah Sekar;
  • 1881: Santri Gagal, Hibat.

(sumber : id.wikipedia)

Posted in Sejarah | Leave a comment

Hoessein Djajadiningrat

Prof. Dr. Husein Jayadiningrat (ejaan lama: Hoessein Djajadiningrat), (lahir di Kramatwatu, Serang, 8 Desember1886 – meninggal di Jakarta, 12 November1960 pada umur 73 tahun). Lahir dari pasangan R. Bagus Jayawinata (R. Bagoes Djajawinata), wedana yang kemudian menjadi bupati Serang yang berpikiran maju, dan Ratu Salehah yang berasal Cipete Serang. Husein merupakan penanggungjawab surat kabar bulanan berbahasa Sunda Sekar Roekoen yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen.

Kakak Husein, Pangeran Ahmad Djajadiningrat, yang meneruskan jejak ayahnya menjadi bupati di Serang dan Hasan yang menjadi tokoh Sarekat Islam yang cukup berpengaruh di Jawa Barat pada masa awal pergerakan nasional.

Husein merupakan salah satu pelopor tradisi keilmuan di Indonesia. Ketika masih remaja, ia dikenal sebagai pemuda yang pintar dan berbakat, baik dalam ilmu agama, maupun ilmu barat. Melihat bakat dan potensi yang dimiliki Husein, Snouck Hurgronje menyekolahkan Husein ke Universitas Kerajaan Leiden hingga meraih gelar doktor dengan disertasinya yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten dan mendapat predikat cumlaude dari promotornya Snouck Hurgronje.

Disertasi Husein telah membuka jalan bagi penelitian tentang historiografi Indonesia sehingga ia pun dikenal pula sebagai “bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia”. Dialah orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar doktor dan guru besar pribumi yang pertama di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai ahli keislaman yang terkenal pada masanya.

Riwayat Hidup

Husein lulus tahun 1899 dari HBS, kemudian meneruskan studinya di Universitas Kerajaan di Leiden selama lima tahun (1905-1910). Selama satu tahun (sejak Mei 1914 sampai April 1915) ia tinggal di Aceh untuk belajar bahasa Aceh dalam rangka mempersiapkan kamus bahasa Aceh. Pada akhirnya kamus tersebut selesai digarap dengan bantuan Teuku Mohammad Nurdin, Abu Bakar Aceh, dan Hazeu dengan judul Atjeh-Nederlandsch Woordenboek (1934). Pada tahun 1919 Husein menjadi pembina surat kabar bulanan Sekar Roekoen yang berbahasa Sunda yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen. Selain itu ia pun menerbitkan Pusaka Sunda, majalah berbahasa Sunda yang membahas tentang kebudayaan Sunda. Pada tahun yang sama ia juga mendirikan Java Instituut dan sejak tahun 1921 menjadi redaktur majalah Djawa yang diterbitkan oleh lembaga tersebut bersama sama dengan Raden Ngabehi Purbacaraka (Poerbatjaraka).

Tahun 1924 ia diangkat diangkat menjadi gurubesar di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta) dan memberikan kuliah tentang Hukum Islam, bahasa Jawa, Melayu, dan Sunda. Tahun 1935 dan 1941 diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Bertahun-tahun pernah menjadi konservator naskah (manuskrip) di Bataviaasch Genootschap can Kunsten en Wetenschappen (Perkmpulan Masyarakat Pencinta Seni dan Ilmu Pengetahuan). Pada mulanya sebagai anggota diréksi, kemudian dari tahun 1936 menjadi ketuanya.

Tahun 1940 ia menjabat sebagai Direktur Pengajaran Agama. Pada jaman Jepang menjadi Kepala Departemen Urusan Agama. Tahun 1948 diangkat menjadi Mentri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan pada masa pemerintahan presiden Sukarno. Tahun 1952 menjadi gurubesar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1957 menjadi pemimpin umum Lembaga Bahasa dan Budaya (LBB), merangkap sebagai anggota Komisi Istilah di lembaga tersebut. (dari berbagai sumber)

Posted in Sejarah | 1 Comment

Sekar Roekoen

Sekar Roekoen (dibaca Sekar Rukun) adalah suatu organisasi para pemuda Sunda yang didirikan oleh para siswa Sekolah Guru (Kweekschool) di Jalan Gunungsari, Batavia, pada tanggal 26 Oktober, 1919. Sebagai premrakarsa berdirinya perkumpulan ini Doni Ismail, Iki Adiwidjaja, Djuwariah, Hilman, Moh. Sapii, Mangkudiguna, dan Iwa Kusumasumantri (siswa Rechtschool).

Perkumpulan pemuda ini didirikan dengan tujuan awal: (1) memajukan orang Sunda, (2) mempersatukan siswa-siswa Sunda, (3) memperbaiki bahasa Sunda, dan (4) menata hati.[1] Untuk mencapai tujuan tersebut, diselenggarakan kegiatan-kegiatan: (1) mengumpulkan alat-alat musik Sunda, (2) mengajarkan pengetahuan terkait Sunda, (3) membuat perkumpulan untuk diskusi, (4) berbicara menggunakan bahasa Sunda, dan (5) mengusahakan pendirian perpustakaan dan surat kabar berbahasa Sunda.

Kemudian organisasi ini berkembang dengan tujuan:(1) menumbuhkan kecintaan pemuda Sunda terhadap tanah air serta meningkatkan pengetahuan orang Sunda, (2) menyatukan para pemuda yang bisa berbahasa Sunda, dan (3) mengupayakan kerukunan para pemuda Indonesia.

1919 – 1926

Kegiatan Sekar Roekoen awalnya diupayakan supaya tidak terkait dengan urusan agama, tidak menyimpang dari ketentuan hukum negara, dan tidak ikut campur dalam urusan politik. Menurut anggaran dasarnya, siapa saja yang dapat berbicara dalam bahasa Sunda serta berumur 14 tahun ke atas dapat menjadi anggota. Anggotanya mencakup (1) anggota biasa, (2) anggota pengurus, (3) anggota kehormatan, dan (4) anggota luar biasa. Semua anggota harus membayar iuran anggota tiap bulan.

Yang mengelola organisasi terdiri dari Presiden, Sekretaris dan Bendahara (Penningmeester). Sesuai dengan tujuan organisasi, perkumpulan ini menerbitkan surat kabar bulanan Sekar Roekoen. Tujuan penerbitan surat kabar bulanan ini adalah untuk (1) mempersatukan seluruh anggota perkumpulan, (2) tanda kemitraan untuk seluruh anggota dan donatur, sarta (3) menggapai tujuan organisasi lainnya yang tertera dalam anggaran dasar.

Penanggungjawab surat kabar tersebut adalah Dr. Hoessein Djajadiningrat. Sedangkan pemimpin redaksinya adalah Doni Ismail dan Iki Adiwidjaya. Perkumpulan ini kemudian membuka cabang di Purwakarta dan Sukabumi.

1926 – 1929

Sekar Roekoen semakin berkembang. Pada tahun 1926, tercatat cabang-cabang organisasinya berdiri juga di Bogor, Bandung, Lembang, Serang, Salatiga dan Yogyakarta. Anggotanya tercatat lebih dari 500 orang. Kegiatannya mencakup perpustakaan, koperasi, kesenian (musik, mamaos, drama), kreasi wanita, olah raga (sepakbola, tenis), debatingsclub, dan penerbitan. Kerjasama dengan organisasi-organisasi pemuda lainnya mulai dilakukan. Kegiatan kepemudaan Sekar Roekoen sering diselenggarakan di Gedung Societeit Blavatsky Park, Weltevreden.

Tanggal 15 Agustus 1926, Sekar Roekoen menggelar pertunjukan tunil (sandiwara). Pertunjukan ini ditonton oleh para anggota dan utusan dari beberapa organisasi pemuda yaitu Jong Sumatranen Bond, Jong Islamiten Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong ambon dan Jong Java. Mulai tahun 1926, perkumpulan Sekar Roekoen menyingsingkan tangan turut serta berjuang bersama dengan kekuatan pergerakan nasional lainnya.

Kongres Pemuda Indonesia

Rapat Pengurus Besar Perkumpulan Sekar Roekoen sudah memutuskan untuk berperan serat secara aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia ke-1 (1926). Dalam Kongres Pemuda Indonesia ke-1 tersebut Sekar Roekoen mengusulkan dalam sidang-sidang kongres digunakan bahasa Malayu sebagai bahasa pengantarnya. Laporan utusan Perkumpulan Sekar Roekoen dalam Kongres Pemuda ke-1 ditandatangani oleh Samjun (Wakil Ketua) dan Sutaprana (Sekretaris).

Berdasarkan hasil rapat Pengurus Besar (Hoofdbestur) tanggal 29 April 1928, dilakukan perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perkumpulan Sekar roekoen. Menurut angaran dasar yang baru, tujuan perkumpulan mencakup: (1) menumbuhkan kecintaan pemuda Sunda terhadap tanah air serta meningkatkan pengetahuan orang Sunda, (2) menyatukan para pemuda yang bisa berbahasa Sunda, dan (3) mengupayakan kerukunan para pemuda Indonesia.

Dengan demikian perkumpulan Sekar Roekoen memperluas wawasan serta lingkup kegiatannya, tidak hanya berkaitan dengan lingkungan serta kepentingan Sunda (daerah) saja, tapi berkaitan juga dengan lingkungan dan kepentingan Indonesia (nasional). Begitu juga dengan anggota perkumpulan ini diperluas dengan cara menetapkan bahwa seluruh pemuda Indonesia yang mengerti bahasa Sunda serta berusia kurang dari 35 tahun bisa menjadi anggota perkumpulan Sekar Roekoen (Pasal 5 Anggaran Rumah Tangga).

Untuk menghadapi Kongres Pemuda ke-2, Perkumpulan Sekar Roekoen menyelenggarakan kongres tahunan yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Besar dan utusan dari cabang-cabang organisasi ini.

Kongres tahunan ini (Kongres Perkumpulan Sekar Roekoen yang ke-8) diadakan di Batavia, 6-7 Oktober 1928, di Loge Gebouw (Gedung Loge), Vrijmetselaarweg (Jalan Vrijmetselaar). Yang hadir pada kongres tersebut di antaranya beberapa tokoh seperti Dr. Husein Djajadiningrat beserta istri, J. Kats (juragan Belanda), Oto Subrata (Ketua Paguyuban Pasundan), Mr. Sartono dan Mr. Sunaryo (Pemimpin Partai Nasional Indonesia), serta para utusan beberapa organisasi pamuda dari Jong Islamiten Bond, Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Batak, Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia, Pemuda Indonesia, Pemuda Kaum Betawi dan Paguyuban Pasundan.

Dalam kaitannya untuk menghadiri Kongres Pemuda Indonesia II pada 27-28 Oktober 2008, dalam kongres ini muncul gagasan untuk melebur Sekar Roekoen ke dalam Jong Java dengan alasan untuk member contoh kepada yang lainnya agar satu pulau diwakili oleh satu utusan saja. Tapi akhirnya diputuskan bahwa Sekar Roekoen akan hadir dalam Kongres Pemuda Indonesia secara mandiri serta biaya kongres ditanggung bersama.

Diputuskan pada kongres ini bahwa yang akan menjadi utusan Sekar Roekoen pada Kongres Pemuda Indonesia adalah para pangurus Pakumpulan Sekar Roekoen Cabang Batavia, yaitu Mupradi, Kornel Singawinata (mahasiswa Kedokteran), Mareng Suriawidjaja (siswa AMS), dan Djulaeha (Sekar Roekoen Bagian Istri). (sumber : wikipedia)

Posted in Sejarah | Leave a comment

Model Raport Kurikulum 2013

Rancangan Sederhana Raport Kelas Kurikulum 2013. Boleh diunduh dan dicoba untuk  dipakai dalam penggunaan sehari-hari di kelas.

Posted in Raport | Leave a comment

Raport Kelas Model KTSP

Model Raport Kelas Mandiri mengggunakan KTSP. Silahkan diunduh dan dimanfaatkan sesuai kelasnya,

Posted in Raport | Leave a comment